THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
SIAP TRANSFER SEKARANG JUGA



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




“Syukurlah kalau ada solusi. Jadi pekerjaan kami kesini tidak sia-sia,”Reggas menarik napas panjang. Semua yang hadir disana melihat jelas kelegaan yang Reggas perlihatkan.



‘Kita lanjut poin selanjutnya ya,”Aris kembali menggiring pembicaraan pada topik yang mereka sedang hadapi. Kembali dia memandu Indra dan Farhat untuk melihat poin-poin yang dia bacakan lalu bertanya ada perubahan tidak? Begitu terus hingga di halaman terakhir.



Akhirnya pembicaraan selesai. Mereka seperti biasa dijamu oleh Farhat dengan makan siang seadanya. Kali ini Husain menyiapkan nasi gudeg lengkap untuk para tamu Farhat itu.



"Kapan bisa tanda tangan? Karena saya harus memberitahu anak-anak bersiap-siap pindah dari Singapore,”Farhat membuka box nasi miliknya. 



“Senin depan Pak. Bukan Senin besok. Jadi sepuluh hari dari sekarang. Saya yakin mereka juga urus surat pindah tidak bisa buru-buru. Jadi pas berkas disini selesai, mereka juga sudah ready disini,” sahut Reggas.



“Pak Indra juga tolong segerakan dana akomodasinya ya," Aris mengingatkan Indra untuk segera mengirimkan uang bagi keperluan pulang Ilham dan Farouq. 



“Iya Pa, saat ini juga saya siap,” sahut Indra dengan percaya diri. Dia lalu bertanya nomor rekening siapa yang akan digunakan untuk dana akomodasi itu. Dia sudah menyiapkan ponselnya untuk melakukan mBanking.



Kali ini Farhat makan hingga habis nasi boxnya. Tidak seperti pertemuan sebelumnya. Dia tidak memakan nasi box bersama para tamu tapi hanya berdua dengan Husain.



Farhat makin tenang semua berjalan sesuai rencana.


\*\*\* 



Farah keliling kota tak tentu arah. Mau main kerumah mertuanya tak mungkin karena kedua mertuanya masih kerja. Mau ganggu Putri, kakak iparnya bilang dia dinas pagi hingga pukul dua siang nanti. 



“Ah, tahu gitu tadi aku dirumah aja. Bisa tidur ngilangin cape,” keluh Farah. Akhirnya dia makan soto kuali di depan stasiun.  Masih sepi karena belum waktunya jam makan siang. 



Farah makin tak tentu. Mau menonton rekaman CCTV dia juga malas. Akhirnya dia memilih pulang untuk bermalasan di rumah saja. 



“Aku sudah bilang mas Putro. Dan Insya Allah kami juga menginap di desa,” Putri menghubungi Farah siang ini. Tepat saat Farah memasuki rumahnya siang ini.



“Siip. Ini pengalaman pertama kita menginap disana ya?” Farah menjawab bahagia karena kakak iparnya juga akan menginap di Cangkringan, desa kelahiran mertua mereka.



“Iya, aku kemarin waktu nengok Putut aku sempat mampir kesana. Mengantar Amie, tapi enggak lama. Desanya keren, teduh, indah, nyaman pokoknya,” cerita Putri, membuat Farah iri.



“Kak Jhon bilang jangan lupa bawa sun block dan lotion anti nyamuk. Dia ngejek aku, takutnya anak kota seperti aku enggak kuat panas katanya,” Farah mengingatkan Putri untuk tak lupa membawa dua benda itu.



“Buktinya Amie aman aja tanpa sun block,” sahut Putri.



\*\*\* 



Akhirnya hari yang dinanti tiba, sejak sehabis salat subuh Jhon dan Farah pamit pada ayah dan ibunya karena semalam Jhon memang menginap dirumah pak Siswojo. 



Mereka akan berangkat menuju Cangkringan Jogja. Dan Farah bilang mereka bisa menginap hingga hari Senin sore. Selasa siang baru Jhon akan kembali terbang. 



“Serius kamu akan bolos kerja hari Senin?”  tanya Jhon pada istrinya. Mereka baru saja keluar dari perumahan.



“Serius lah. Aku ingin lebih lama, tapi liburnya Hubby yang terbatas,” jawab Farah. Tentu dia bisa mudah mengatur waktu kerjanya karena dia anak pemilik perusahaan. 



“He he … iya deh ngerti. Anak sultan mah bebas atur waktu ya,” goda Jhon sambil mengacak-ngacak rambut istrinya walau dibalik hijab. 



“Ih, bukan gitu lah,” sanggah Farah keqi. Namun tak bisa menyanggah karena memang seperti itulah kenyataannya. 



Sebelum jam sembilan mobil Jhon dan Putro sudah berada dirumah pak Cokro.



Ternyata Putro lebih dulu tiba beberapa menit dari Jhon.



"Kalian nanti malam tidur di rumah belakang ya,” Putut memberitahu para tamunya.



“Jadi koper kami diturunkan dimana?” tanya Farah. Dia sangat antusias. Sejak masuk wilayah Jogja menuju desa asal mertua lelakinya dia sudah sangat senang. 



“Turunkan disini enggak apa-apa, nanti dibawa ke belakang oleh paklek Kunto,” Cokro yang akan berangkat berkeliling kebun salak menunda keberangkatannya. 



“Besok kalian ikut panen salak ya,” Cokro sudah memberitahu rencana besok pagi sehabis sarapan. 



“Wah asyiiik,” Putri dan Farah hampir bersamaan berseru karena akan diajak panen



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1674414259706.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.