THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
PENJAJA SERABI



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Sayangnya, aku tak pernah sekali pun merindu penjaja serabi sepertimu. Sedikit lagi kamu maju, akan aku beritahu apa pekerjaanmu pada semua yang hadir!” Putut langsung mengancam Nadia. Dia tak ingin istrinya kembali terluka.


“Mas Ragil, tolong dong,” Putut memanggil Ragil yang kebetulan lewat sehabis mengambil stock cendera mata untuk para tamu undangan.


“Kenapa Mas?” tanya Ragil cepat. Semua siaga melindungi Amie. Maka begitu Putut minta tolong maka pikiran Ragil pasti ada hubungannya dengan Amie.


“Ada penjaja kotor di sini, aku enggak mau pesta mas Putro terganggu. Apalagi sampai istriku salah duga lagi seperti tadi dengan Syarif,” cukup keras Putut bicara sehingga Amie, Nadia dan temannya bisa mendengar dengan jelas.


Syarif pun jelas mendengar kalau kata-katanya tadi melukai istri Putut.


‘Istri?’ tanya Nadia dalam hatinya.


‘Penjaja?’ tanya teman Nadia sambil memperhatikan Nadia dengan saksama. “Kamu …?”


“Kamu jahat Honey,” protes Nadia geram.


“Siapa yang lebih jahat? Menipu dengan berpura-pura sebagai mahasiswi lugu padahal pekerjaannya adalah pedagang?” sarkas Putut menjawab protes Nadia. Dan suaranya membuat beberapa orang di sekitarnya bergumam.


“Maaf Mbak, sebaiknya Mbak sadar diri saja. Jangan menggoda suami orang!” Ragil tentu geram mendengar dengan lancangnya Nadia memanggil suami Amie dengan sebutan honey!


Ragil tak mau sesudah kasus Syarif barusan, Amie kembali ngambeg. Belum saatnya Amie ditempa persoalan bertubi-tubi dalam waktu dekat.


Tak mau dipermalukan lebih lanjut Nadia mengajak temannya pulang.


“Maaf, kamu pulang saja sendiri. Aku tak mau jalan sama kamu. Nanti dikira kita satu profesi. Biar aku miskin, aku tak mau jual harga diriku untuk mencari nafkah.”


Tegas sekali teman Nadia menolak berteman lebih lanjut. Dia tak mau namanya disamakan dengan sampah masyarakat seperti Nadia.


Rupanya godaan bukan hanya dari Syarif yang merekomendasikan adiknya saja. “Siapa Mas?” tanya Amie pelan.


“Dia teman Mas saat masih di Bandung. Nanti malam akan Mas jelaskan semuanya. Sekarang kita fokus pada resepsi dulu ya. Dia bukan orang yang penting kita pikirkan. Di pikiran Mas hanya ada kamu!” Putut berjanji akan menceritakan soal Nadia pada Amie. Dia tak ingin Amie menduga hal yang tidak benar. Untungnya Amie mau mengerti.


***


“Mas … Mas,” Amie menggamit Putut, dan menyurukkan wajahnya di punggung suaminya.


“Kenapa Yank?” Putut merasakan nada suara Amie ada sedikit ketakutan.


“Ada ayahnya mas Angga dan adik-adiknya,” jawab Amie. Wajahnya terlihat pias.


‘Ternyata, Amie sudah mengingat semuanya. Apakah ini karena guncangan di hari Jumat siang sehingga sejak dia bangun dari pingsan dia seperti sering berpikir?’ Putut mengira-ngira.


Putut menggandeng Amie untuk bersalaman dengan pak Handoyo dan anak-anaknya. Juga Sekar.


“Sugeng rawuh Om,” sapa Putut. Dia mengatakan selamat datang pada pak Handoyo.


“Hai mas Putut. Matur nuwun,” sahut pak Handoyo, dia menyampaikan jawaban terima kasih.


“Apa khabar Pak,” Amie menyapa dengan sebutan Pak, bukan ayah lagi seperti saat dia masih menjadi menantu lelaki itu.


“Alhamdulillah sehat. Kamu sehat Nduk?” balas pak Handoyo. Dia perhatikan mantan menantunya sudah terlihat normal. Ibas dan Asih juga takjub melihat Amie sudah bisa berinteraksi layaknya orang normal.


“Apa khabar Mbak?” tanya Asih yang berdiri di belakang ayahnya.


“Alhamdulillah baik. Terima kasih sudah berkenan datang di resepsi mas Putro,” balas Amie santai. Dia melakukan cipika cipiki dengan mantan adik iparnya itu.


“Hai Mbak,” sapa Ibas singkat.


“Hai,” Amie juga tak berpanjang kata. Memang agak rikuh bicara dengan lawan jenis. Dilihatnya sosok teman SMA nya bergandeng tangan dengan mantan adik iparnya.


“Amie,” sapa Sekar ramah, lalu memeluk teman SMA nya itu akrab.


“Hai, maaf aku tahu kamu. Tapi agak lupa nama,” jujur Amie mengatakan keterbatasan ingatannya yang baru mulai pulih. Sementara Putut hanya mendampingi saja.


“Enggak apa-apa. Aku mengerti. Aku Sekar,” jawab perempuan hitam manis yang memakai baju sarimbit ( pasangan ) dengan Baskoro atau Ibas.


“Ah iyaaaaaaaaaaa, Sekar! Maaf aku lupa namamu, silakan masuk,” Amie pun mempersilakan rombongan pak Handoyo masuk.


Putut senang Amie bisa lancar berkomunikasi seperti ketika belum sakit dulu.


***


\===========================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta