
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Jhon tak berani mengulang penerbangan berkali-kali. Dia takut landasan pacu terlalu lelah karena baru satu kali test drive. Dan memang dia lihat Farah menahan sakit karena pergumulan pertama mereka malam ini.
\*\*\*
Pagi ini, masih teramat gelap, Jhon sudah meninggalkan rumah mertuanya. Seperti biasa dia akan menjalankan salat subuh di perjalanan menuju bandara atau di bandara. Tergantung waktu tempuh.
Kalau masih keburu di bandara tentu dia memilih salat di bandara agar tidak mampir ditengah jalan. Sementara Farah kembali tidur. Dia sangat lelah karena baru pertama kali merasakan pergulatan panas dengan suaminya.
‘*Aku sudah sampai bandara ya Queen*,’ Jhon mengirim pesan untuk istrinya tercinta. Dia tahu kekasih hatinya pasti kembali terlelap karena kelelahan.
Mengingat pergulatan semalam membuat Jhon terus tersenyum. Dia bahagia bisa melakukan hal itu dengan istri sahnya. Bukan dengan orang lain.
‘*Aku tahu, pesan ini sangat terlambat Kakak baca. Tapi tetap aku ucapkan hati-hati ya. Jaga kesehatan*,’ Farah membalas chat suaminya.
Farah tidak sarapan bersama abinya karena dia keluar kamar setelah kedua orang tuanya selesai sarapan.
Hari ini hari Kamis. Team dari kantor notaris Assegaff akan datang ke kantor Farhat. Itu sebabnya Farah akan datang siang saja sehabis makan siang. Atau sekalian tidak datang. Dia ingin kembali tidur saja.
\*\*\*
Pagi ini Farhat tiba di kantornya dengan menampilkan wajah yang terlihat sendu. Indra memperhatikan itu.
“Ndra, nanti beritahu Husain beli makan siang untuk tamu. Jadwalnya hari ini team notaris akan datang. Kemaren Husain sudah memberitahu saya,” Farhat memberitahu Indra saat mereka bertemu di lobby pagi ini.
“Baik Pak,” sahut Indra. Dia memang sudah berpesan pada pak Husain kalau ada team notaris dia diberitahu. Tapi sampai pagi ini Husain belum memberitahu soal kedatangan tamu itu.
Sampai di ruangannya Farhat memberitahu istri dan ketiga anaknya dia sudah diruang kantor menunggu team notaris. ‘*Pertunjukan segera dimulai*,’ chat dari Farhat bagi istri dan ketiga anaknya.
Indra sudah bersiap menyambut orang-orang dari kantor notaris. Dia yakin semua langkahnya akan berjalan lancar tanpa kendala. Dia menanti dengan tidak sabar.
“Apa khabar Pak?” tanya Indra saat menyambut tamu yang dia tunggu. Sementara Farhat terlihat masih lesu.
“Baik. Sangat baik,” sahut pak Aris dan pak Reggas. Rupanya kalau mengunjungi kantor klien mereka hanya berdua. Tidak bersama pak Susanto.
“Apa khabar pak Farhat?” tanya pak Reggas saat bersalaman dengan pemilik perusahaan itu.
“Alhamdulillah sehat, tapi sepertinya saya butuh refreshing. Mungkin habis selesai urusan ini saya ingin ke Bunaken dengan anak dan istri saya,” sahut pak Farhat.
“Wah tempat yang indah. Saya hanya pernah melihatnya dari video di you tube. Belum pernah kesana,” sahut pak Reggas.
Aris menyerahkan copy draft untuk Indra dan Farhat masing-masing satu bundel.
Farhat sebenarnya tak perlu menelaah, karena tanda tangan serah terima tak akan pernah terjadi. Tapi sebagai basa basi untuk memuluskan sandiwara, maka dia ikut meneliti berkas itu.
“Data diri benar pak Indra?” tanya Reggas.
“Benar,” sahut Indra sambil terus memperhatikan copyan itu. Semua memegang alat tulis sebagai koreksi.
“Tititk koma nama gelar harus sama dengan jati diri KTP ya. Kalau tidak sama maka dokumen akan cacat hukum.” Aris terus memandu pengecekan hingga ke halaman terakhir nanti.
“Di poin ini, jelas tertulis Ilham, Farouq dan Farah harus hadir saat tanda tangan ya,” Aris menggaris bawahi poin yang sedang mereka bahas.
“*Wait*!” Farhat menginterupsi.
“Kenapa Pak?” tanya Reggas dan Aris hampir bersamaan. Mereka memperlihatkan wajah bingung. Indra melihat kepanikan kedua team notaris ini.
“Saham saya hanya sisa 10%. Nanti itu akan dibagi tiga, Ilham 2,5%. Farouq 2,5% dan Farah 5%. Saya yakin kedua anak saya tak mau tinggal di Singapore dengan angka saham sebesar itu."
"Kalau mereka harus datang saat penanda tanganan berkas. Itu berarti sekalian mereka pindah kembali ke Indonesia. Saya tidak ada dana lagi untuk akomodasi mereka pindahan. Jadi saya tekankan saya tidak menjamin mereka bisa datang saat penanda tanganan itu,” Farhat menjelaskan mengapa dia menginterupsi.
“Wah tidak bisa Pak. Mereka wajib hadir. Atau pemindahan saham dianggap tidak sah. Karena bila tak ada halangan permanen, semua wajib hadir!” Reggas jelas mengharuskan kehadiran kedua anak lelaki Farhat yang berdomisili di Singapore.
“Tidak ada jalan lain Pak. Mereka harus hadir,” Aris juga menekankan hal itu. “Tak ada kehadiran mereka maka pemindahan saham batal.”
“Saya tidak berani menjanjikan,” sahut Farhat lirih seakan tak berdaya. Dia sebenarnya tak mampu bersandiwara seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi?
“Biar saya yang menanggung biaya kepulangan dua anak pak Farhat sekalian akomodasi pindah domisili,” Indra memberi keputusan dengan tegas.
Indra merasa uang untuk kepulangan kedua anak Farhat tak sebanding dengan kekayaan yang akan dia dapat ketika perusahaan sudah menjadi miliknya.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.