THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
TERIMA KASIH BUAT SI PENCOPET



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Di rumah Putut malam ini Jhon memandangi istrinya yang sedang terlelap. Wajah lelah istrinya karena sore tadi Farah malah ikut bebakaran dadakan.



Farouq punya ide bikin sate buat ngemil sore. Jadilah Farah tak mau berhentibsksr sate lalu memakannya tanpa pernah puas.



'*Ha ha ha cinta kita lucu ya Babe. Diawali karena kamu kecopetan di kereta api prameks*.'



Saat itu Putut baru saja mengirim video Amie yang mulai kembali bicara. Jhon yang masih lelah karena baru turun terbang memilih naik kereta api untuk ke Jogja.



"Hiks … hiks,” terdengar isak pelan dari orang yang duduk di sebelahnya sambil mengacak-acak tasnya. 



“Kenapa Mbak?” Jhon bingung melihat perempuan itu terisak.



“Dompet saya hilang, saya simpan tiket kereta di dompet saat mau naik kereta. Karena saya pegang ponsel dan helm, takut tiket jatuh tercecer. Ternyata malah dompet saya hilang Om,” jawab perempuan berhijab itu.



“Nanti saya bantu menerangkan pada POLSUS KA, dan saya bayarkan dendanya Mbak,” Jhon memberi attensi dan menawarkan bantuan. Dia memang cepat tersentuh pada kesulitan sesama. 



“Terima kasih Om,” jawab gadis itu sambil menghubungi seseorang di ponselnya. 



“Njih wa’alaykum salam Bi. Fara di kereta Bi, barusan dompet Fara hilang saat berdesakan ketika naik Prameks. Abi besok bisa bantu nemani urus surat-surat ‘kan?” rengek gadis itu dengan manja pada seseorang yang dipanggilnya Abi.  



‘*Apa aku tua banget ya dipanggil Om, bukan mas gitu*?’ batin Jhon kala itu. 



Jhon berupaya tidur, lumayan bisa istirahat sejenak. 



Namun baru akan terlelap dia merasakan lengannya disenggol.



“Om, ada pemeriksaan tiket,” cetus gadis di sebelahnya. Jhon menyiapkan tiketnya dan berharap uang cash di dompetnya cukup untuk membantu gadis di sebelahnya. 



Jhon memang jarang membawa uang cash dalam jumlah besar di dompetnya. Biasa uang cash hanya dia butuhkan untuk beli bensin atau jajan di warung kecil yang tak bisa bayar dengan kartu. 



“Terima kasih bantuannya. Bisa saya minta nomor ponsel Om?” tanya gadis yang baru saja Jhon tolong.



“Untuk apa?” tanya Jhon penasaran.



“Saya ingin mengembalikan uang Om.” balas gadis cantik yang sepertinya keturunan Arab dan berhijab ini.



“Saya akan berikan nomor ponsel saya, tapi sampai kapan pun saya tak akan memberikan nomor rekening untuk kamu mengembalikan uang saya.” jawab Jhon.



“Baiklah. Berikan nomor Om,” gadis itu menjawab setelah berpikir agak lama. 



“Siapa namamu? Dan sebutkan nomor ponselmu nanti saya miscall,” balas Jhon. Tentu dia juga tidak ingin hanya gadis itu yang memiliki nomor ponselnya tetapi dia tak memiliki nomor gadis itu.



“Farahdiba … 0838 …,” jawab gadis manis berhijab itu. Dan Jhon pun melakukan miscall pada nomor yang gadis itu.  



“Ya, sudah masuk, nama Om siapa?”



Jhon mengulurkan tangannya untuk berkenalan. “Pujono.” Farah menerima uluran tangan itu dan mereka resmi berkenalan.



“Kamu ke Jogja rutin tiap hari atau bagaimana?” tanya Jhon. Dia lihat gadis ini masih muda. Mungkin seusia Amie adik perempuannya. 




“Saya tidak terlalu rutin, tapi kami sekeluarga selalu ke Jogja tiap hari Jumat malam hingga hari Minggu sore. Karena adik perempuan saya dirawat di Cangkringan. Ini saya coba naik kereta karena sendirian mendadak. Biasanya ke Jogja naik mobil bersama dengan ayah dan ibu juga kakak dan adik.” tanpa sadar Jhon bicara cukup panjang pada seorang perempuan. 



“Apa hari ini mbolos kerja sehingga bisa pergi ke Jogja di jam kantor?” Farah penasaran.



“Waktu kerja saya memang tidak sesuai dengan jam kantor pada umumnya.” Jhon tak mau menyebut apa profesinya. Setelah itu mereka langsung berpisah ketika kereta berhenti di stasiun Tugu ~ Jogja, tanpa kesan ingin kenal lebih jauh.


\*\*\*



Sorenya setelah puas bercengkerama dengan Amie Jhon akan kembali ke Solo. Jhon membeli tiket dan segera memasuki peron setelah diperiksa tiketnya oleh penjaga di pintu masuk. Kereta ke Solo sudah siap di jalur lima. Dia segera naik dan mencari tempat duduk yang masih kosong. 



Jhon memangku ranselnya yang sekarang berisi mangga dari halaman rumah mbah Harjo. Tak lama sejak Jhon duduk kereta bergerak. ‘*Alhamdulillah aku enggak telat. Kalau telat ‘kan nunggu kereta berikutnya lama. Bisa bete aku di stasiun*,’ batin Jhon. 



Jhon memang tak hafal jadwal PRAMEKS, karena sangat jarang menggunakan moda transportasi kereta api listrik antar kota ini. Tak berapa lama kereta kembali berhenti dan banyak penumpang naik dari stasiun berikutnya yaitu stasiun Lempuyangan. 



“Hallo Om Pujono, kita bertemu lagi,” suara renyah seorang gadis menyapa Jhon yang sedang berbalas chat dengan Putro dan Ragil. Dia melaporkan perkembangan Amie yang baru saja dia lihat. 



Jhon mengernyitkan alisnya, dia paling sulit mengingat orang yang baru dikenalnya. Terlebih yang tak berkesan mendalam. 



Melihat Jhon seperti bingung maka gadis itu memberi kata petunjuk. “Kita bertemu tadi pagi. Om menolong saya membayarkan denda tiket karena dompet saya hilang.”



“Oh kamu. Sudah selesai urusanmu di Jogja?” tanya Jhon basa basi.



“Sudah Om, Alhamdulillaaaah semua lancar hari ini.” Farah cepat membalas. Dia senang atas pertolongan Jhon tadi sehingga bisa mengurus nilai-nilainya di kampus. 



“Kamu tinggal daerah mana?” tanya Jhon basa basi. Gadis berhijab ini sangat manis dimatanya. Beda dengan para pramugari sexxy yang setiap hari berseliweran di depan matanya. 



“Laweyan Om,” balas Farah cepat.



“Wah jalan apa? Saya di Tangkuban Perahu,” Jhon tak mengira kenalan barunya satu daerah dengan rumah orang tuanya.



“Jalan Sumbing Om,” balas Farah.



“Kamu turun di Purwosari atau Solo Balapan?” Jhon tentu turun di Solo Balapan, karena pagi tadi dia memarkir mobilnya di sana. 



“Saya di Purwosari Om. Tadi motor saya tinggal di sana. Kebetulan ayah saya menunggu di sana, karena kartu parkir ‘kan juga hilang di dalam dompet. Mari Om saya duluan dan terima kasih atas bantuannya pagi tadi.” Farah bersiap turun karena kereta sudah memasuki area stasiun Purwosari Solo.



“*Ok, see you soon*,” balas Jhon tanpa berniat apa pun. Karena kata-kata itu sudah terbiasa dia ucap bagi para teman dan team kerjanya saat mereka berpisah. 



Jhon memeluk tubuh istrinya. Tak ada bau asap atau bau kambing. Sebelum tidur tadi Farah sudah mandi.



Rasanya aku harus berterima kasih pada pencopet itu. Karena aksinya aku bisa dapat istri. Ini yang Farah bilang THE BLESSING OF PICKPOCKETING.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1677442957948.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul TELL LAURA I LOVE HER itu ya.