THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
FARAH PRAMEKS



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Jhon malah tidak bisa tidur. Dia terseret kisah masa awal perkenalan dengan perempuan yang sekarang tertidur nyenyak dalam pelukannya.



u sebuah chat dari kontak bernama Farah Prameks masuk ke ponsel Jhon. 



PRAMEKS adalah layanan kereta api listrik jurusan Solo ~ Kutoarjo. Prameks singkatan dari PRAMBANAN EKSPRES. 



Jhon memang selalu menyimpan nama kontak dengan tambahan penegas, misal Abdi KLATEN, Abdi SMP, Abdi KRUPUK dan penegas lainnya karena banyak nama yang sama. 



Nah gadis yang baru dia kenal di kereta api listrik PRAMEKS jurusan Solo-Kutoarjo,  ya dia beri nama Farah PRAMEKS, karena di phone booknya banyak nama Farah. Termasuk seorang pramugari diteamnya yang sering berupaya menarik perhatiannya, tapi dia tak gubris. Dia tak suka perempuan yang terlalu agresif. 



‘*Besok hingga lima hari ke depan saya tidak bisa, karena saya jadwal terbang*,’ jawab Jhon singkat. 



‘*Owh gitu ya, ternyata Om penerbang. Baiklah saya akan hubungi Om lagi nanti*,’ balas Farah. Jhon yang malas berbalas chat mencoba menelepon gadis itu.



“Hallo Om,” Farah mengangkat sambungan telepon dari Jhon. Dia mau mengucap salam seperti kebiasaannya, takut Jhon bukan seiman dengannya. 



“Assalamu’alaykum,” sapa Jhon. Tanpa menunggu jawaban salam Jhon langsung bertanya pada Farah. 



“Ada apa kamu ingin bertemu?”



“Saya tahu, Om tidak akan pernah mau saya kembalikan uang yang saya pergunakan  untuk bayar tiket kereta dan uang buat operasional saya hari itu.” 



“Oleh karena itu saya ingin kita makan siang, saya yang bayar. Walau jumlahnya tidak lebih besar, dan niat baik Om membantu saya tak mungkin diganti dengan apa pun. Setidaknya saya tidak terlalu terbeban dengan hutang budi ini,” Farah menegaskan alasan ingin bertemu dengan Jhon.



“Kalau sekarang bisa?” pancing Jhon, dia baru saja dari kantor perumahan melihat rumah atau apartemen yang ingin dia beli. Maksudnya agar sekalian keluar rumah saja. Pulang cepat juga di rumahnya masih belum pada pulang. Dia bisa bengong sendirian di rumah. 



“Om bisa hari ini. Ok saya bisa. Di mana dan jam berapa?” tanya Farah antusias.



“Di bakmi Gajah Mas, seberang pasar Gede ya? Satu jam lagi saya bisa sampai di sana,” Jhon memperkirakan dia bisa sampai bakmi favoritenya itu dalam waktu sekitar 45 menit dari sekarang.



“Oke Om, saya akan ke sana satu jam lagi. Kebetulan saya dan teman telah selesai bertemu. Assalamu’alaykum.”  Sekarang gantian Farah yang tidak menunggu Jhon menjawab salam, dia langsung mengakhiri hubungan telepon.  




Tanpa membaca menu Jhon menyebut apa yang ia pesan. Dan Farah menambahkan pesanannya. “Om hafal banget menu yang ada, apa di sini tempat makan fav …?” Farah membuka percakapan mereka sore ini.



“Sebelum kita lanjut makan dan ngobrol, bisa enggak kita samakan persepsi dulu. Usia saya belum 30 tahun dan saya yakin kamu sudah melewati usia 20 tahun. Artinya selisih usia kita tidak terlalu jauh untuk kamu pantas menyebut saya dengan panggilan Om,” Jhon menginterupsi Farah sebelum kalimat gadis itu selesai diucapkan..



“Jadi, saya harus panggil apa? Mas seperti orang Jawa pada umumnya ya?” Farah langsung menghentikan kalimatnya dan menjawab kalimat Jhon.



“Terserah, asal jangan om, paklek, pakde, atau bahkan mbah.” Jhon pun mempersilakan apa yang akan Farah gunakan.



“Aku panggil kakak-kakakku dengan panggilan Abang, atau aku panggil Kak Pujono aja ya?” cetus Farah. Jhon memperhatikan kelakuan Farah yang memang polos. 



“Aku biasa dipanggil Jhon, tak perlu lengkap Pujono. Aku tak malu dengan nama jawaku. Di antara para pilot malah namaku terkesan keren karena sangat njawani,” Jhon memberitahu tak perlu dipanggil lengkap agar enggak ribet.



“Ok, aku akan panggil kak Jhon saja,” dengan senang hati Farah mengganti panggilan untuk Jhon. 



Mereka makan sambil ngobrol tentang hal-hal ringan. Terutama berkisar tentang jati diri mereka. 



“Terima kasih ya Kak, semoga saya tidak mengganggu waktu Kakak. Selamat sore,” Farah pamit lebih dulu. 



Farah plong sudah mentraktir Jhon, sosok yang telah menolong membayarkan denda pengganti tiket dan memberinya uang cash untuk dia naik ojek online ke kampusnya serta ongkos untuk dia kembali pulang ke Solo sehabis dari kampus.



Setelah ditinggal Farah, Jhon memesan mie dan pangsit untuk dia bawa pulang. Mie Gajah Mas adalah favorite sang ibu dan dirinya.


\*\*\*



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1677443275765.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.