THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
PERKENALAN DENGAN CALON MERTUA



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Pertemuan selanjutnya memantabkan hati Jhon menjatuhkan palu. Dia memilih akan menikahi gadis itu! 



Pikiran gila. Tapi itulah ketetapan hatinya! Pertemuan selanjutnya terjadi di rumah calon kakak iparnya. Di rumah mbak Putri yang selama ini dikenal kerabatnya dengan panggilan Wiwied.



"Hai,” sapa Jhon. Dia mendekati Farah yang sedang bercengkerama dengan teman-temannya.



“Kak Jhon, koq ada di sini?” tanya Farah bingung saat menatap cowoq gagah yang baru saja menyapanya.



“Saya adik dari calon mempelai lelaki,” jawab Jhon datar. Dia berupaya meredam detak jantungnya yang semakin cepat. Hal aneh bagi dirinya. Karena selama ini dia tak pernah peduli dengan sosok lawan jenisnya. 



“Oh gitu, aku sahabat Wiwied,” jawab Farah.



“Wiwied?” tanya Jhon bingung.



“Calon mempelai perempuannya ‘kan Wiwied,” jawab Farah. Dia yang sekarang bingung karena Jhon tak tahu nama calon kakak iparnya.



“Kami tahunya nama dia Putri!” balas Jhon.



“Mungkin panggilan spesial dari mas Putro. Karena nama sahabatku itu Wieduri Putri Suhardono,” Farah menjelaskan siapa Putri yang dimaksud oleh Jhon.



“Kamu sahabat Putri? Dan kamu manggil Putro dengan mas, padahal saya jauh lebih muda dari Putro dan awalnya kamu panggil saya Om,” tentu Jhon aneh dengan kelakuan Farah walau sudah berlalu.



“Ha ha ha, ‘kan sekarang sudah di ubah,” jawab Farah.



“Kamu enggak kenalin kami Fa?” tanya seorang temannya pada Farah.



“Eh Kak, kenalin teman-teman Wiwied, ada juga beberapa sepupunya Wiwied,” Farah mempersilakan semua berkenalan dengan Jhon. Dia tak mau dibilang sok kenal.



Jhon tak menanggapi semua tangan yang ingin berjabat dengannya, cukup dengan menangkupkan dua telapak tangannya dia menyebut jati dirinya. “Pujono.”



Tentu saja tindakannya membuat kecewa para gadis di sana. Tapi begitulah memang karakter Jhon yang sesungguhnya. 



Jhon dan Putro memang tak suka bergaul akrab dengan para gadis. Beda dengan Trisulo yang biasa dipanggil Ragil. 



Adik bungsu mereka sejak SMP sudah punya pacar ala anak ABG.  Saat ini di semester ke dua kuliah, dia sudah berkali-kali ganti gandengan. Dengan wajah cool nya, tentu Ragil dengan mudah mendapatkan pacar.



“Kak, ayo kenalan dengan abi dan umiku,” Farah mengajak Jhon untuk berkenalan dengan kedua orang tuanya. 



“Apa orang tuamu hadir?” tanya Jhon saat tadi Farah meminta Jhon untuk berkenalan dengan kedua orang tuanya. Gadis itu beralasan ingin mengenalkan dewa penolongnya saat dia kecopetan di kereta api listrik.



“Abi adalah rekanan ayahnya Wiwied, dan Umi adalah dosen mata kuliah umum mas Putro,” jawab Farah sambil menarik lengan Jhon tanpa sadar. 



“Abi, Umi kenalin ini Kak Jhon. Dia yang menolong AYA saat kecopetan di kereta. Dan dia adik Mas Putro calon suaminya Wiwied,” Farah memperkenalkan Jhon pada kedua orang tuanya yang sedang ngobrol dengan para orang tua dan calon pengantin. 



Di sana ada Lesmana dan Mentari selain Siswojo dan Diah kedua orang tua Jhon serta Wiwied dan Putro. 



“Terima kasih ya nak Jhon atas pertolongan anda pada AYA, kalau tidak saat ini mungkin AYA belum jadi di wisuda karena hari itu hari terakhir dia menyerahkan transkrip nilainya,” uminya Farah cepat bereaksi. 




‘*Ternyata selain dipanggil FARA tanpa H, dia juga biasa dipanggil AYA*.’ batin Jhon mencatat semua info tentang Farah. 



“Saya juga menyampaikan terima kasih. Karena saat itu selain membayarkan denda tiket, anda juga memberi putri kami uang cash untuk dia naik gojek dan membeli tiket kembali ke Solo,” tak mengurangi rasa enggan Farhat tetap harus berterima kasih pada seseorang yang telah menolong putrinya itu.



“Nak Jhon libur?” tanya Lesmana, dia tahu dari Wiwied kalau Jhon adalah seorang pilot.



“Harusnya masih di Aussie Om, tapi pas Mas Putro kasih tau akan ada lamaran, saya langsung minta tukar jadwal dadakan. Untung ada rekan pilot yang bisa menggantikan,” balas Jhon hormat pada calon mertua kakak sulungnya. 



Rekan Jhon yang menggantikan Jhon saat itu ada di novel yanktie lainnya yang berjudul TELL LAURA I LOVE HER ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1677443687236.jpg)



“Maaf, saya kembali ke depan,” Jhon langsung pamit dari kelompok para orang tua. Dia tak ingin mengganggu pembicaraan serius para orang tua. 



“Aku juga pamit mau menyapa teman-teman ya,” tak disangka Wiwied pun pamit. Dia belum menyapa para sahabatnya di luar. 



Putro tentu saja tak akan membiarkan calon istrinya keluar sendirian. Dia mendampingi pujaan hatinya itu. 


\*\*\*



Di depan, Jhon duduk bersama Ragil dan beberapa kerabat Wiwied yang lelaki, termasuk Widyo, sahabat Putro. Dia sudah tak mengingat Farah, karena walau bila berdekatan ada sedikit rasa berbeda, tapi buat Jhon belum terpikir ingin mempunyai kekasih.



“Jadi kapan pernikahannya?” tanya Widyo, saat Putro dan Wiwied mendatangi mereka satu persatu untuk menyampaikan terima kasih atas kehadirannya. 



“Belum tahu Mas, itu sedang digodog di dalam dengan para simbah,” jawab Wiwied.  Wiwied dan Putro tidak takut bila besok harus menikah, karena persiapan baju, cincin serta mahar sudah ready. 



Yang belum hanya gedung dan cattering. Perias pengantin juga sudah mereka hubungi. Yang mereka tunggu hanya hari yang ditentukan oleh para sesepuh, untuk dapat menyewa gedung dan mencetak undangan. 



“Mas Jhon, aku enggak nyangka lho, Mas kenal dengan Farah. Dia sahabatku sejak SMP,” Wiwied menegur Jhon dengan panggilan Mas karena merasa Jhon lebih tua usianya.



“Kamu harus belajar panggil dia “De”, karena dia adikku,” protes Putro.



“Iya, dan karena dia, aku jadi malu. Aku bilang calon kakak iparku bernama Putri. Ternyata oh ternyataaaaaa…,” Jhon sengaja menggantung kalimatnya.



“He he he, memang panggilan dari mas Putro beda, dan dia yang bilang Putri ke keluargamu. Jangan salahkan aku,” elak Wiwied sambil bergayut manja pada lengan kekasih resminya. Ya, kekasih resmi karena sudah melakukan lamaran dengan orang tua. 



“Karena buatku kamu memang special,” balas Putro sambil mengecup sekilas pipi calon istrinya. Tentu saja itu membuat Wiwied malu dan pipinya merona merah. 



“Kebiasaan, enggak di rumah sakit, enggak di rumah. Selalu aja bikin hati jomlo merana melihat kelakuanmu,” Widyo langsung protes melihat kelakuan sahabatnya.



“Keplak wae Mas,” usul Ragil pada Widyo. Alih-alih Widyo mengeplak Putro, malah Putro yang mengeplak Ragil. Membuat semua yang melihat tertawa. Suara tawa mereka membuat kelompok Farah dan para gadis menengok ke arah suara.


\*\*\* 


***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1677443687232.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.