
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Assalamu’alaykum,” ayah memberi salam saat berada di pintu ruang tamu keluarga Handoyo. Besannya tidak menyangka ada kunjungan dari orang tua Amie. Karena kami sama sekali tidak memberitahu rencana kedatangan mereka.
Rombongan kami lengkap, ayah, ibu dan kami ketiga kakak Amie, ditemani juga oleh pak Dukuh desa Cangkringan. Di desa lamaran atau pembicaraan dua keluarga memang biasa melibatkan perangkat desa sebagai saksi penguat pembicaraan. Walau tidak harus.
“Wa’alaykum salam,” balas pak Handoyo yang sedang duduk santai sambil menghisap pipa cangklongnya di ruang tamu. Ada segelas mug ( gelas dari kaleng ) besar berisi teh panas yang tutupnya diletakkan di meja. Dia segera mempersilakan tamunya masuk, lalu bergegas masuk untuk mengganti sarungnya. Dia memberitahu istrinya ada besan datang.
Bu Handoyo tertegun, saat keluar sambil membawa minuman para tamu, Bu Handoyo kaget karena ada pak dukuh desa Cangkringan dalam rombongan besannya. Tak lama ada tamu susulan yaitu dukuh tempat tinggalnya yang rupanya dipanggil pak dukuh Cangkringan untuk menemaninya.
“Monggo Bapak, Ibu, Mas, diunjuk,” sapanya mempersilakan para tamu untuk meminum ( unjuk ) teh yang dia sediakan. Bu Handoyo meraba, apa yang akan dibicarakan besannya dengan membawa perangkat desa?
Tanpa membuang waktu ayah mengutarakan maksud kedatangan kami. “Maaf, kami datang tanpa memberitahu lebih dahulu. Hari ini adalah hari ke 107 meninggalnya nak Angga. Sejak hari ke sepuluh Angga meninggal, Amie anak perempuan saya, istri almarhum Angga, menantu njenengan ( anda ) berdua sudah tinggal di desa Cangkringan.”
“Jangan bilang Anda berdua tidak tahu Amie berada di Cangkringan, karena saat rencana membawa Amie ke Cangkringan dirembug ( dibicarakan ), Anda berdua ada di rumah sakit, dan awalnya bu Handoyo menawarkan agar Amie di rawat di rumah ini,” ayah berkata tegas walau pelan, dia yakin kedua pak Dukuh itu mendengar dengan jelas kebenaran yang dia ungkap.
“Tapi sampai hari ini, hari ke 107, anda berdua bahkan seluruh keluarga besar anda secara sengaja membuang Amie. Sama sekali tak pernah ada yang datang menengok menantu anda yang berjarak hanya 12 KM dari rumah ini.” Kembali ayah berhenti sambil melihat ekspresi wajah kedua besannya.
“Karena satu tahun lalu Amie diminta secara baik-baik. Maka hari ini, saya mengambil kembali Amie secara baik-baik. Saya Siswojo Danoekerto dengan ini menyatakan Amie saya ambil kembali dan tak ada hubungan apa pun dengan keluarga Handoyo. Semua urusan, saya anggap selesai!” Lugas ayah memutuskan hubungan Amie dengan Angga. Dia tak mau anaknya dihina lagi.
“Dan ini, surat rumah serta surat mobil Angga, kami kembalikan tak kurang suatu apa pun, adik saya Amie tak ingin menguasai harta suaminya. Karena mobil dan rumah dibeli sebelum mereka menikah,” aku meletakkan map di meja.
“Di situ juga ada dompet berisi ATM Angga, serta ada buku tabungan Angga. Amie adik saya, tidak akan saya bolehkan menggunakan uang itu. Kami masih mampu merawat dan menghidupinya.”
Pak Handoyo hanya bisa pias. “Maaf, bukan maksud saya memutus tali silaturahmi seperti ini. Ini hanya salah paham. Saya tak berniat sedikit pun menyepelekan Amie. Maafkan saya,” dengan terbata pak Handoyo berkata pelan pada tamu yang datang.
“Om bilang ‘saya’, bukan ‘kami’ ‘kan Om? Artinya siapa yang punya andil membuang Amie sejak Angga meninggal?” tanya mas Putro dengan penekanan di kata ‘saya’ dan ‘kami’.
“Ayok, Yah, Bu, kita pamit. Niat kita sudah tuntas. Bila nanti ada berita simpang siur tentang Amie, ada saksi pak Dukuh Cangkringan dan pak Dukuh Purbowinangun.” aku malas bicara panjang lebar lagi dengan keluarga munafik ini. Aku segera berdiri.
Akhirnya semua ikut berdiri karena memang urusan mereka mengembalikan semua harta Angga dan memutuskan hubungan antara Amie dan keluarga Handoyo sudah selesai. Rombongan kami keluar tanpa pamit lagi, apalagi meminta maaf. Kami tak mau melakukannya.
“Matur sembah nuwun pak Dukuh, berkenan hadir,” di halaman rumah pak Handoyo, ayah mengucapkan banyak terima kasih pada pak Dukuh Purbowinangun yang baru dia kenal saat itu. Kami berpisah karena pak Dukuh Purbowinangun datang ke rumah itu menggunakan motornya.
“Saya tidak menyangka mereka seperti itu,” pak dukuh Cangkringan kaget melihat sendiri. Karena pak Cokro hanya meminta agar dia menemani pak Siswojo yang ingin bertemu besannya di desa Purbowinangun.
Pak Cokro tidak menjelaskan akan ada persoalan pemutusan tali silaturahmi. Saat ini pak dukuh berada di mobil ayah.
Sedang aku dan Ragil ada di mobil mas Putro yang datang pagi tadi ke Jogja. Pak Cokro sendiri sengaja tidak ikut, karena merasa, itu adalah urusan kedua belah pihak.
“Sepertinya, pak Handoyo enggak enak sama kita ya Mas,” celetuk Ragil di mobil.
“Iya, sepertinya yang mengatur adalah istrinya, dan dia tak berani melawan istrinya,” jawab mas Putro sambil terus fokus mengemudi.
***
Bulan ke empat, atau bulan Juni tepatnya 11 Juni 2014, aku tahu ayah menikahkan Putut dan Amie agar beban ayah sebagai orang tua tak disalahkan oleh aturan agama karena membiarkan anak gadisnya dipeluk lelaki yang bukan muhrimnya. Amie sering menjerit dan hanya pelukan Putut sepanjang malam yang bisa meredakannya.
Ddrrrrt … ddrrrtt, ada notivikasi di ponselku. Aku segera membukanya.
“Gilaaaaaaaaa,” aku lupa. Tanpa salam langsung teriak saat Putut mengangkat telepon dariku.
“Sejak kapan?” tanyaku lagi.
“Baru aja Mas, aku lagi ke kebun saat dia teriak lapar dan minta bakso pada bulek perawat. Bulek langsung lapor padaku. Aku yang sedang jalan pulang langsung beli bakso langganannya,” Putut bercerita apa adanya.
“Ayah dan ibuku sudah kamu beritahu?” tanyaku
“Aku lupa, saking gembira. Aku cuma kirim ke Mas Putro dan mas Jhon saja,” balas Putut.
“Baik, aku akan kirim ke ibu dan bapak. Kalau mereka bisa biar besok kami ke Jogja. Aku baru saja turun. Mungkin besok pagi aku bisa meluncur sendirian,” aku tidak sabar ingin bertemu Amie.
“Oke Mas, aku tunggu.”
Malamnya ayah dan ibu tentu kaget melihat video yang aku perlihatkan. Ponsel mereka masih ponsel biasa bukan BlackBerry atau android yang baru ada saat itu, sehingga tak bisa menerima kiriman video.
“Putut memang terlihat sangat mencintai Amie ya Bu. Dia sangat sabar merawat Amie,” cetus ayah.
“Bener Pak, untung Amie berada di tangan yang pas ya, sehingga tak perlu ditaruh di rumah sakit jiwa.” ibu tentu setuju, karena dia melihat Putut memang sangat telaten mengurus anak angkatnya itu.
“Jadi, besok Ibu dan Ayah bisa ikut ke Jogja atau enggak?” aku memastikan. Karena bila sendiri, ku ingin naik kereta api pramex saja. Aku ingin ganti suasana.
“Dadakkan, jam kerja, mana bisa Ibu dan Ayah izin. Kami kesana sesuai jadwal saja. Hari Jum’at sore,” jawab pak ayah. Esok baru hari Rabu.
“Ya sudah. Aku akan mencoba naik kereta api saja,” aku pun segera masuk kamarnya untuk tidur.
Video yang Putut kirim adalah Amie mulai bicara setelah lima bulan menutup dirinya. Tak berinteraksi dengan siapa pun kecuali Putut. Tentu itu harus aku apresiasi. Itu sebabnya besok aku akan ke Jogja naik kereta api PRAMEX.
FLASH BACK OFF
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL TELL LAURA I LOVE HER ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta