
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Jhon dan Putut makan siang bersama Amie dan mbah Harjo. Hanya terdengar percakapan Jhon dan Putut yang bertanya pada simbah. Amie masih diam walau terlihat dia mendengarkan percakapan di meja makan itu. Jhon merasa senang melihat kemajuan adiknya.
“Put, aku enggak nginep ya, tadi aku naik kereta PRAMEKS, jadi habis makan aku akan pamit. Yang penting aku sudah tau perkembangan Amie. Ibu titip salam untuk ibumu dan simbah.
Amie berjalan ke belakang. Dia mengambil beberapa mangga dan memasukkannya ke tas kresek lalu dia lapis dengan paper bag. “Untuk bude,” Amie menyerahkan tas berisi mangga pada Jhon. Mangga hasil panen pohon milik simbahnya.
“Terima kasih ya sayang. Mas ingin kamu semakin sehat. Kamu harus kembali sehat seperti sebelumnya,” Jhon memeluk erat adiknya dan mengecup kening Amie dengan lembut.
“RA, Mas mau antar mas Jhon ke stasiun, kamu mau ikut?” tanya Putut.
“Mau,” jawab Amie sambil mengangguk.
“Ganti bajumu, Mas tunggu di rumah depan ya?” Putut dan Jhon berjalan lebih dulu ke rumah Putut. Mereka ingin tahu, beranikah Amie melangkah ke rumah sebelah sendirian?
Sekarang perawat juga hanya bekerja siang saja. Menemani Amie saat Putut kerja di kebun atau tambak. Malam Amie sudah tak butuh perawat.
Putut dan Jhon mengawasi pintu dari jauh. Jhon sudah diceritakan oleh Putut mereka sedang melakukan eksperimen, apakah Amie berani datang ke rumah Putut sendirian. Ternyata Amie datang dengan menggeret bulek perawat untuk mengantarnya ke rumah Putut.
“Ha ha ha ha, dia pintar rupanya. Dia tidak bicara hanya menggeret bulek menemaninya ke sini,” Jhon tertawa melihat dari jauh kelakuan adiknya.
Putut melihat Amie mengenakan jeans dan sneaker serta kaos berwarna biru donker. Dia tak membawa handphone atau dompet atau apa pun.
‘Aku harus mulai melengkapi dirinya dengan dompet dan ponsel bila dia mulai sehat nanti. Saat ini semua hal itu belum dia butuhkan.’ Putut berniat menyiapkan ponsel untuk istrinya itu.
“Ayok kita berangkat, kamu duduk di depan Mie,” Jhon meminta Amie duduk di depan. Namun adiknya tak mau, Amie menggeleng dan memegang erat lengan Jhon. Dia ingin duduk disebelah Jhon.
“Oke, berangkatnya kamu boleh duduk dibelakang dengan Mas Jhon. Nanti pulang duduk depan ya? Kalau tidak mau duduk depan, Mas enggak akan bawa kamu pulang,” Putut mengizinkan Amie duduk dengan Jhon. Dia pikir mungkin Amie masih kangen dengan kakaknya itu.
Amie mengangguk pelan. “Jawab dengan suara, Mas enggak mau kalau hanya anggukan,” Jhon memancing Amie untuk selalu bicara. Dia kangen rengek manja Amie. Dia kangen celoteh ceria adiknya.
“Iya,” jawab Amie lirih.
“Nah gitu dong, sini masuk. Kita ngobrol sepanjang perjalanan antar Mas ke stasiun ya?” ajak Jhon pada Amie untuk masuk mobil.
“Kamu enggak kangen Mas Putro?” pancing Jhon saat mereka duduk bersebelahan di mobil.
“Kangen.”
“Kangen ama Ragil enggak?”
“Kangen.”
“Ama ibu?”
“Kangen.”
“Ama Putut?”
“Enggak,” jawab Amie yang disenyumi oleh Putut.
“Koq enggak kangen, emang kamu enggak sayang dia,” pertanyaan ini seharusnya jawabannya panjang. Karena ada dua pertanyaan. Pertanyaan pertama koq enggak kangen dan pertanyaan kedua emang kamu enggak sayang dia?
Amie terdiam lama. “Ketemu setiap hari,” akhirnya Amie menjawab panjang.
“Ketemu setiap hari bikin kamu enggak kangen Putut?” tanya Jhon.
“Iya.”
“Pertanyaan berikutnya kamu belum jawab, kamu enggak sayang Putut?” cecar Jhon.
‘Jangan pernah iseng basa basi ngajak Amie ke Solo, kalau dia kepengen ikut, bisa sulit ngebujuknya!’ Putut segera mengirim chat pada Jhon begitu dia mematikan mesin mobil di parkiran stasiun Tugu Jogjakarta.
Jhon yang membacanya langsung membalas ‘Ok.’
Putut menggandeng Amie dengan lembut, mereka mengantar hingga Jhon membeli tiket dan masuk ke stasiun bagian penumpang. Pengantar tak boleh masuk.
“Kamu mau jalan-jalan ke mana?” tanya Putut sehabis Jhon hilang dari pandangan mata mereka. Lama tak ada jawaban, Putut sengaja meremas jemari Amie yang berada dalam genggamannya.
“Jawab dong RA. Mas tanya ke kamu lho.”
“Enggak tau,” lirih Amie menjawabnya, tapi Putut masih bisa mendengar dengan jelas.
***
Jhon membeli tiket dan segera memasuki peron setelah diperiksa tiketnya oleh penjaga di pintu masuk. Kereta ke Solo sudah siap di jalur lima. Dia segera naik dan mencari tempat duduk yang masih kosong.
Jhon memangku ranselnya yang sekarang berisi mangga dari halaman rumah mbah Harjo. Tak lama sejak Jhon duduk kereta bergerak. ‘Alhamdulillah aku enggak telat. Kalau telat ‘kan nunggu kereta berikutnya lama. Bisa bete aku di stasiun,’ batin Jhon.
Jhon memang tak hafal jadwal PRAMEKS, karena sangat jarang menggunakan moda transportasi kereta api listrik antar kota ini. Tak berapa lama kereta kembali berhenti dan banyak penumpang naik dari stasiun berikutnya yaitu stasiun Lempuyangan.
“Hallo Om Pujono, kita bertemu lagi,” suara renyah seorang gadis menyapa Jhon yang sedang berbalas chat dengan Putro dan Ragil. Dia melaporkan perkembangan Amie yang baru saja dia lihat.
Jhon mengernyitkan alisnya, dia paling sulit mengingat orang yang baru dikenalnya. Terlebih yang tak berkesan mendalam. Melihat Jhon seperti bingung maka gadis itu memberi cloe. “Kita bertemu tadi pagi. Om menolong saya membayarkan denda tiket karena dompet saya hilang.”
“Oh kamu. Sudah selesai urusanmu di Jogja?” tanya Jhon basa basi.
“Sudah Om, Alhamdulillaaaah semua lancar hari ini.” Farah cepat membalas. Dia senang atas pertolongan Jhon tadi sehingga bisa mengurus nilai-nilainya di kampus.
“Kamu tinggal daerah mana?” tanya Jhon basa basi. Gadis berhijab ini sangat manis dimatanya. Beda dengan para pramugari sexxy yang setiap hari bersliweran didepan matanya.
“Laweyan Om,” balas Farah cepat.
“Wah jalan apa? Saya di Tangkuban Perahu,” Jhon tak mengira kenalan barunya satu daerah dengan rumah orang tuanya.
“Jalan Sumbing Om,” balas Farah.
“Kamu turun di Purwosari atau Solo Balapan?” Jhon tentu turun di Solo Balapan, karena pagi tadi dia memarkir mobilnya di sana.
“Saya di Purwosari Om. Tadi Motor saya tinggal di sana. Kebetulan ayah saya menunggu di sana, karena kartu parkir ‘kan juga hilang di dalam dompet. Mari Om saya duluan dan terima kasih atas bantuannya pagi tadi.” Farah bersiap turun karena kereta sudah memasuki area stasiun Purwosari Solo.
“Ok, see you soon,” balas Jhon tanpa berniat apa pun. Karena kata-kata itu sudah terbiasa dia ucap bagi para teman dan team kerjanya saat mereka berpisah. Tapi tidak bagi Farah atau yang di keluarganya lebih sering dipanggil FARA tanpa H atau AYA.
‘Om ganteng itu berharap bertemu lagi, semoga disegerakan,’ doanya saat keluar dari kereta api listrik itu.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNCOMPLETED STORY YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL UNCOMPLETED STORY ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta