THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
MASAKAN UMI TE O PE



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Hari berganti, sehabis salat Subuh di masjid para lelaki sengaja jalan-jalan santai disekeliling rumah pak Cokro. Pemandangan desa nan asri tentu sangat disukai Farhat dan Lesmana yang telah lama menjadi penduduk kota. Sedang pak Siswojo masih sering pulang kedesa ini karena ayahnya masih disini. 



“Aku ingin melihat peternakan itiknya Wahyu,” pak Siswojo tetiba teringat akan tanahnya yang sengaja dia ‘sewakan’ pada Wahyu. Sebenarnya dia tak ingin mengambil keuntungan. Tapi dalam bisnis itu tak baik. Maka dulu dia sengaja minta bagi hasil saja. Uangnya nanti bisa dia gunakan untuk modal usaha bila dia juga ingin membuat peternakan atau tambak persiapan pensiun nanti. 



Siswojo berniat saat pensiun nanti dia akan kembali ketanah leluhurnya. Tak ingin tinggal di Solo lagi. Dia akan membangun rumah. Karena tanah miliknya itu akan dia biarkan terus menjadi peternakan saja. Kalau tak kembali ke Cangkringan, mungkin dia akan kembali ke tanah asal istrinya di Semarang. Hanya di Semarang tanah dikampung istrinya sudah tidak bagus karena sering kena banjir rob. Sehingga istrinya pun malas bila harus membeli tanah masa tua mereka di Semarang. 



“Ini beneran belum hitungan tahun?” tanya Lesmana penuh perhatian. Dia baru tahu kalau usaha peternakan milik Wahyu baru dirintis. Berbeda dengan usaha peternakan sapi yang dia kelola. Peternakan sapi adalah usaha warisan dari pak Cokro. 



“Baru mau tiga bulan,” jawab Wahyu. Sejak tadi dia yang menerangkan semua pertanyaan Lesmana, Siswojo dan Farhat. Ketiga orang tua ini ingin tahu semua hal tentang usaha yang baru dimulai oleh anak muda itu. Usaha yang tak sengaja dia rintis karena ada peluang pasar yang Putut dapatkan.


\*\*\* 



Siang atau menjelang sore nanti semua tamu akan kembali ke Solo dan Singapore. Pagi ini sarapan yang disiapkan tuan rumah adalah hasil peternakan Wahyu. Menu yang terhidang adalah opor ayam dan lontong atau nasi, terserah yang ingin makan. Yang membuat semua kagum adalah saat Wahyu memberitahu pemilik ayam adalah adiknya Saka yang baru duduk kelas tujuh atau satu SMP. 



“Lhaaaa, kita malah manen ayamnya Saka duluan. Nanti Abi ganti buat tambah modal ya Le,” pak Farhat yang sekarang sudah menjadi ABI buat semua anak disini akan mengganti harga ayam yang dimakan kali ini. Dia sangat suka pada jiwa pebisnis anak kecil yang dia rasa harus dia pupuk. 



“Mboten menopo-menopo Abi. Malah kulo seneng sampun saget panen,” jawab Saka sopan. \[ Mboten menopo-menopo Abi \= tidak apa-apa Abi… Malah kulo seneng sampun saget panen \= malah saya senang sudah bisa panen \]. Saka senang sudah bisa menunjukkan hasil panen usahanya.



“Saka belum punya peternakan sendiri. Dia hanya ingin menjual anak ayam buat di depan sekolah SD. Akhirnya dia sengaja beli DOC ( day old chicken ) yaitu ayam yang umur satu hari. Lalu dia titip dipelihara bareng dengan DOD ( day old duck ),” pak Cokro bangga putra bungsunya sudah jeli melihat peluang.



“Ayo nambah makannya. Ini hasil masakan Umi lho,” bu Lesmana memberitahu bahwa yang masak pagi ini bu Basalamah. Perempuan keturunan Arab itu memang jago masak. 



“Masakan Umi te o pe,” Saka mengomentari opor yang terhidang. Te o pe maksud Saka ada TOP, sengaja dia eja. Pagi ini juga ada tambahan menu pedasnya yaitu sayur sambal goreng krecek yang pedas dan juga sambal matang serta tak lupa terhidang kerupuk. 




“Pastinya,” sahut Farouq menggoda uminya.



“Kenapa tahu?” tanya Ragil penasaran.



“Umi takut sama rawit. Sedang sambal goreng ini penuh rawit glundungan,” Farah yang menjawab mengapa kedua abangnya bisa tahu kalau sambal goreng krecek bukan kreasi ibu mereka.


\*\*\* 



Seperti yang kemarin bu Tiwi bilang, oleh-oleh disuruh membungkus masing-masing. Dia tak mau salah membawakan. Selain aneka sayuran, pisang, degan, bumbu pecel, singkong. Dimeja juga tersedia jadah atau tetel dan serundengnya. Ada salak aneka jenis bahkan kembang pisang ( jantung pisang ). Tak ada yang disimpan. Semua bisa bawa sesuai seleranya. 



“Saya enggak mau pakai acara malu-malu. Yang mau dibawa, langsung ambil saja. Saya mau mbungkuskan takut salah. Takut enggak suka atau takut kurang. Jadi monggo aja,” bu Tiwi bahkan menyediakan besek dan keranjang untuk salak. Juga tersedia kardus agar mudah packing dan meletakkan di mobil nanti. Jangan lupa degan juga sudah dikupas sabutnya. Nanti ditujuan tinggal dipapras bagian atasnya saja. 



“Mbak, aku mau sambel pecelnya yang pedes,” bu Diah yang memang terbiasa tanpa malu minta bumbu pecelnya yang super pedas. 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1675533676036.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.