THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
SEKARANG dan SELAMANYA!



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Kalau dengan aku, Mas Angga kaku Mas, mungkin karena merasa aku belum menerimanya dengan hati. Dia selalu seperti harus berpikir dulu bila ingin mengemukakan suatu persoalan. Hanya satu kali saja dia tegas dan enggak meminta pendapatku. Yaitu ketika tanpa izinku dia memindah daftar gajinya ke rekeningku.” Amie bersikeras Angga sangat kaku.


“Mungkin dia tahu, kalau gajinya masih pakai nama dia, ibunya bisa selalu mendiktenya. Mungkin dia sudah jenuh ditekan ibunya terus sehingga mengambil keputusan itu tanpa minta izinmu.” Putut mencoba mencari alasan mengapa Angga melakukan hal itu.


“Yang Mas minta, sejak saat ini kamu tak perlu ragu mengucapkan nama Angga di mana pun. Baik didepan Mas, mau pun didepan keluargamu dan keluarga Mas. Bahkan didepan teman-temanmu sekali pun! Itu adalah sejarah hidup kita. Sama seperti aku tak bisa menghapus pernah mengenal Wening atau siapa pun masa laluku.” Putut meminta Amie untuk mengambil sikap.


“Iya Mas, aku akan berubah. Makasih Mas selalu ada buatku,” Amie sekarang mengecup tangan Putut dengan penuh cinta. Putut membalas dengan mengecup puncak kepala Amie.


“Kamu harus tahu Yank. Aku hanya punya dua waktu untukmu! SEKARANG dan SELAMANYA! Jadi jangan pernah berpikir ragu tentang Mas.” Putut merengkuh bahu istri tercintanya sambil berjalan menuju mobil.


Dia rasa lebih baik kembali ke hotel karena Amie juga tak punya tujuan lain. Namun dia akan berkeliling kota Solo terlebih dahulu untuk menikmati pemandangan Solo dimalam hari.


***


Pagi ini Amie mengajak Putut ke pasar Klewer. Pusat kulakan atau grosir batik di Solo. Mereka membeli banyak baju untuk mereka berdua, untuk Saka, Wahyu juga kedua orang tua Putut. Walau batik juga mudah ditemukan di Jogja, tapi karena beda kota tentu tetap ada perbedaan nuansa.


Amie juga membelikan baju untuk para asisten rumah tangga. “Kamu beli itu untuk siapa aja?” tanya Putut heran melihat Amie banyak membeli daster besar dan panjang. Putut takut uang cashnya tidak cukup. Sedang di pasar ini jarang yang bisa menerima debet card.


“Buat lek Harti, mbok Pedes dan yang lainnya,” jawab Amie sambil memilih warna dan corak yang berbeda. Sebelum masuk ke pasar tadi Amie sengaja mengambil uang cash dari rekeningnya.


Putut tidak mengetahui karena dia izin untuk ke toilet. “Aku ada uang cash koq Mas.” Putut yang mendengar hal itu pun maklum. Dia tak protes hanya langsung memegang ponselnya dan mentransfer uang ke rekening Amie diam-diam.


Selepas makan siang baru Amie dan Putut kembali ke hotel. Mereka akan segera mengemasi barangnya untuk segera check out. Selepas dari hotel, Putut tak langsung menuju ke rumah bude Diah.


“Siap koq Mas. Sejak kita datang ke makam Angga, aku sudah siap,” balas Amie sambil memegang lengan kiri Putut. Dia mengatakan dengan tindakan kalau dia kuat.


“Ingat ya, semua harus kita bicarakan,” Putut selalu saja meminta Amie untuk terbuka padanya.


Mereka sampai di rumah kosong yang terlihat halamannya kotor. Ada tulisan besar RUMAH INI DIJUAL dengan nomor ponsel yang dicantumkan adalah nomor Ibas dan pak Handoyo. Bukan bu Kurnia.


Rumah dan mobil adalah milik Angga sebelum menikah dengan Amie. Maka ketika pak Handoyo ingin memberikan separuh uang penjualan mobil, Amie tak mau menerimanya. “Lama juga ya Mas belum juga laku,” gumam Amie.


“Jual rumah ‘kan enggak semudah jual pisang goreng Yank. Dan beli rumah juga seperti milih pacar. Walau cantik atau ganteng, kalau hati enggak cinta ‘kan enggak mungkin kita jadiin pacar,” Putut kembali menjalankan mobilnya. Dia melajukan mobilnya ke rumah pak Siswojo. Dia ingin Amie istirahat sejenak sebelum acara malam nanti.


***


\===========================================


Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta


Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER  ya.



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul TELL LAURA I LOVE HER  itu ya.