THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
SURUH NUNGGU SAMPAI MINGGU DEPAN?



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Mas bangun,' bisik Amie.



"Mas." Amie lalu meringis merasakan sakit diperutnya.



"Mas, denger aku enggak?" Tanya Amie lagi. Putut baru saja tidur. Sekitar satu jam lah.



"Iya sayank kenapa? Mas ngantuk Yank," jawab Putut sambil terpejam. 



"Adiknya mau keluar," jawab Amie sambil kembali meringis kesakitan.



Putut langsung melompat. "Bukannya HPL ( hari perkiraan lahir ) nya masih satu Minggu lagi?"



"Kalau Adek mau keluar sekarang gimana? Mau kita larang suruh nunggu sampai minggu depan?" Amie masih aja bisa adu argumen saat sedang kesakitan.



"Ya udah sana siap-siap," jawab Putut lalu dia bergegas pipis dulu.



"Aku udah siap kok," balas Amie.



"Mas ambil kunci mobil dulu. Ayo!" Ajak Putut.



"Dompetnya mana," tanya Amie, dia malah lebih tenang dari suaminya.



"Oh ya dompet dan kunci," lalu Putut meraih tas pakaian yang memang sudah dipersiapkan dua minggu lalu.



"Sabar ya, sabar Yank," Putut menyetir dengan tangan kanan dan tangan kirinya memegang tangan kanan Amie.



Amie hanya meringis kesakitan. Tak ada keluhan apa lagi teriakan. Dia nikmati rasa sakit sendirian.



"Sabar ya Dek kita pelan-pelan ya. Malam gini banyak motor ngebut Dek,  bisa ngebahayain kita. Ni udah mau sampai Dek. Sabar ya sayank,"  Putut seakan bicara dengan anaknya.



 "Mas ponselnya mana?" Amie bertanya ada Putut.



"Yah aku malah lupa bawa Yank," kata Putut.



Saat mereka keluar rumah tadi  baru jam 11.00 malam. Nah kalau di desa kan sudah sangat sepi. Jadi lebih banyak motor ugal-ugalan.



"Bismillah ya Dek pelan ya," kata Putut lagi.



Jam 00.04 Amie masuk ke ruang bersalin setelah Putut mendaftar. Untung Amie bawa tas yang berisi dompet dan ponselnya sehingga Putut mudah mendaftar karena kartu pasiennya ada.



"Wah sudah pembukaan 7 Pak ini," kata bu bidan yang memeriksa Amie. 



"Tensinya bagus tadi sudah diperiksa ya tensi dan suhu bagus lalu ini sudah pembukaan 7 Kita bersiap yuk Bu.  Masih bisa jalan-jalan sebentar." Lanjut bu bidan.



'*Tolong kirim pesan ke grup  lelaki idaman Aku nggak bawa ponsel. Amie sudah ada di ruang bersalin*.' Putut mengirim pesan kepada Wahyu melalui nomor Amie karena dia tidak bawa ponsel.



Puput juga mengirim pesan pada ibunya. Tadi berangkat ngelewatin rumah Ibu kan? Boro-boro Putut  ingat, ponsel aja ketinggalan. Dompet pun kalau enggak diingetin Amie pasti dia tak akan bawa.



'*Wahyu kalau kesini bawain ponselku sama charger dan baju gantiku satu pasang, eh bawa dua lah*.' Pinta Putut. 



Wahyu yang sudah siap berangkat jadi berlari dulu ke rumah Putut di belakang untuk mengambil baju dan ponsel kakaknya.


\*\*\*



Keluarga BIG FOUR  langsung heboh mendengar khabar Amie sudah berada di ruang bersalin.



Jam 01.00 dini hari. Bu Bidan mengajak Amie bersiap.



"Kita bersiap ya Bu Rahmi. Tak perlu takut. Anak pertama yang Bu Rahmi?"



"Ini anak kedua kami tapi yang pertama tidak ada," Putut langsung menjawab pertanyaan bu Bidan agar Amie tak kepikiran anaknya yang meninggal.



Putut tidak mau Amie merasa anak yang pertamanya dibuang.



"Oh oke kita bersiap ya. Dedek sehat kok, sudah enggak sungsang dan sudah masuk jalan lahir," kata bu bidan.



"Karena ini normal nggak usah tunggu dokter ya kalau nunggu dokter kelamaan nanti.  Ini baby-nya udah mau keluar,"  bu bidan kembali menerangkan lagi.



"Iya Bu, manut yang terbaik,"  kata Putut.



"Mas sakiiiiiit," baru Ami mulai mengeluh yang teramat sakit.



"Iya sayank, Mas ngerti. Kamu kuat kok. Adiknya udah mau lahir loh mau ketemu Bundanya. Bismillah ya, Bunda kuat ya," kata Putut.



Putut mencium istrinya. 



"Baca doa yuk," Putut menuntun istrinya membaca semua doa yang mereka bisa.



Lagi panik begitu pasti banyak lupanya.



"Ayo mulai Bu. Kita udah mulai ya. Ayo Ibu ikuti aba-aba saya ya," Kata Bu bidan memandu Ami.



"Siap, 3 … 2 … ya langsung ngejan ya Bu. Jangan diangkat badannya."



"Satu kali lagi, siap Bu. Tarik nafas yaa. Tiga , dua, ngejan Bu," lalu terdengar tangisan bayi yang sangat keras.



"Dede perempuan nangisnya keras banget," kata bu bidan.



"Mau jadi penyanyi kah?" Komentar bu bidan tentang bayi yang baru lahir yang sedang menangis kencang itu.



Amie lemas tapi proses persalinannya sangat cepat. 



"Jam 01.59 ya ini lahirnya," kata bu bidan.



Sesuai hasil USG bayi mereka perempuan.



"Alhamdulillah," Putut dan Amie mengucap syukur.



"Bu Rahmi, sebentar kita bersihkan dulu," dengan ramah bu bidan selalu mengajak pasiennya terus sadar. Bidan mulai menjahit bagian intim Amie yang robek akibat persalinan



"Aduh sakit," keluh Amie.




Putut mengadzani putrinya dia membuat foto dan mengirimkannya ke Wahyu untuk dikirim ke grup lelaki idaman.



Wahyu sudah berada di depan ruang bersalin dengan Bu Tiwi dan Pak Cokro.



"Pak Putut ini Pak kendil ari-arinya," seorang suster memberikan kendil berisi ari-ari bayinya Amie.



"Oh ya benar saya," Putut  menerima kendil itu.



"Mas keluar dulu ya Yank,  taruh ini di Wahyu," Putut minta izin pada istrinya.



"Iya Mas," kata Amie. Capek tapi bahagia.



"Kita udah jadi Ayah ibunda loh," sambil mencium Amie lembut.



"Iya Yah Iya,"  Kata Amie lirih. Dia terlalu capek. 



"Bentar ya aku keluar sebentar aja," pamit Putut.



'*Begini rasanya jadi ibu*.'



"Udah lahir Mas?" tanya Bu Tiwi pada putra sulungnya.



"*Sampun* Bu," Putut memperlihatkan foto bayinya.



" Alhamdulillah perempuan sehat, gede Bu," kata Putut.



"*Bobote piro*?" Tanya eyang Cokro. Dia menanyakan berat bayi berapa?



"3,4 kg Yah."



"Buat anak pertama 3,4 kg ya susah," kata bu Tiwi.



"Nggak Bu gampang lancar. Amie enggak histeris nangis. Bilang sakit cuma dua kali lalu lahir," Putut bercerita proses kelahiran putrinya. 



"Karena Amie nggak pernah diem dia anaknya aktif jadi melahirkan lancar," kata Pak Cokro.



"Iya Pak 3,4 kg, panjangnya 51 cm. Ini kendil ari-ari," kata Putut menyerahkan ari-ari pada kedua orang tuanya.



Bu Tiwi memberikan sussu coklat hangat dan dua telur setengah matang untuk Amie.



"Tadi ibu membawakan pada saat masih panas sekarang udah hangat bisa langsung diminum."



 "Matur nuwun, ta' masuk lagi dulu," kata Putut dengan rona wajah bahagia.



"Mas ini ponselmu sama chargernya mbak Amie," Wahyu menyerahkan ponsel Putut.



"Pakaianku pegang dulu Dek. Nanti kalau sudah dipindah ke ruangan saja. Sekarang Mas ngurusin mbak Amie dulu," Putut hanya mengambil ponsel saja dari Wahyu.



Pak Cokro dan Bu Tiwi pun menunggu lagi.


\*\*\*



"Minum dulu ini, Yank. Ibu bawakan sussu coklat biar enggak lemes. Ini juga dibawakan telur setengah matang," Putut mulai menyuapi telur yang dibawakan ibunya.



Di kresek ada sendok kecilnya. Ibu menyiapkan juga masakko sachet untuk makan telur. 



Rupanya Ibu tahu biasanya Amie menggunakan garam dan merica kalau makan telur setengah matang. Tapi untuk praktis tadi ibu asal bawa aja bubuk penyedap Masakoo.



Putut menyuapi dua butir telur setengah matang yang dibawakan oleh ibunya.



"Ibu, bayinya udah siap kita IMD dulu ya," kata Bu bidan.



"Inisiasi menyusui dini (IMD) adalah tahapan paling penting untuk dilakukan ibu dan bayi setelah persalinan."



"IMD dapat memudahkan proses menyusui untuk ke depannya, terutama saat ingin memberikan ASI eksklusif. Ibu mau ASI eksklusif kan?" Tanya bu bidan lagi.



"Iya dong Bu. Semua yang terbaik untuk bayi kami," sahut Amie.



"Kemeja Ibu dibuka ya, adanya sentuhan kulit langsung ( skin-to-skin contact ) selama inisiasi menyusui dini juga dapat menjadi momen ‘perkenalan’ untuk memperkuat ikatan batin Ibu dengan si kecil."



"Bayi pun bisa merasa semakin nyaman dan dekat dengan Ibu, karena ia bisa terus didekap dan mendengar detak jantung Ibu sewaktu menyusui."



Bu bidan langsung meletakkan si kecil di atas dada Amie. Selama proses ini, tubuh Amie dan bayinya sama-sama dalam kondisi telanjang, dengan badan bayi ditutupi selimut agar ia tidak kedinginan.



Selanjutnya, biarkan bayi yang aktif bergerak sendiri mengikuti nalurinya untuk mencari \*\*\*\*\*\* payudara Amie. 



"Biar ya Bu, jangan diarahkan. Jangan dibantu mencari \*\*\*\*\*\*. Biarkan keseluruhan interaksi antara ibu dan dede berjalan secara alami."



"Ya sudah, dede cape dan agak kenyang. Saya pakaikan baju dulu sebentar ya." 



Bu bidan menyerahkan putrinya Amie ke suster untuk di beri pakaian. Setelah itu sang bayi pun ditidurkan di sebelahnya Amie.



Putut mengusap pipi putrinya dengan punggung jari telunjuk.



"Mau dikasih nama siapa Yah?" Amie melihat wajah putrinya.



"Kan waktu itu kita udah bahas. Koq sekarang kamu tanya?" Putut menatap wajah putrinya lalu wajah istrinya.



"Nggak sih. Kali aja Mas yang pengen ganti setelah melihat Dede lahir," jawab Amie.



"Nggak lah. Kita udah sepakat pakai nama itu kok." Putut mencium pipi putrinya.



"Lembut banget sih pipimu Dek," puji Putut. 


\*\*\*


***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1677278767698.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.