
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Aaah, sekarang Putut bersyukur dia telah memiliki bidadari kecilnya ini. Putut ingat TRAGEDY PERNIKAHAN DADAKAN dirinya dan Amie. Tragedy yang membawa kebahagiaan untuknya saat ini.
Saat itu Amie menjerit histeris
"Beri dia obat yang buat tenangin deh, takutnya ngamuknya tambah parah. Tadi dia dengar apa? Siapa yang bicara salah sehingga dia seperti ini?” tanya Putut pada perawat Amie.
Sudah tiga bulan tak pernah Amie diberi obat penenang. Putut sengaja dia yang meminumkan obat ke Amie, karena dia tahu, bila perawat yang memberi akan di buang.
“Saya mandi dulu ya Bulek, panas *kemringet* ( lengket karena keringat ),” pamit Putut pada perawat sehabis dia berhasil memberi obat pada Amie.
Sejak Amie sakit tiap weekend kedua orang tuanya serta kakak-kakanya rutin datang menengok Amie yang mereka titipkan pada Putut. Bahkan keluarga mantan suaminya tak ada satu kalipun menengok Amie padahal Amie sudah empat bulan tinggal di desa yang bersebelahan dengan desa rumah mantan suaminya.
Saat rombongan Solo datang Amie sudah tenang, tapi kali ini obat itu tak mampu membuatnya tertidur seperti biasa. Tentu Putut dan perawat bingung.
“Mas, sejak sore Amie resah, entah dia mendengar tentang apa. Tadi sudah aku beri pil, tapi dia sama sekali tak tidur. Aku takut akan reaksi tubuhnya kali ini. Dan pil itu sudah tak pernah kami gunakan sejak tigabulan. Selama ini dia selalu tenang dan kooperatif. Tapi sore ini dia berbeda."
"Kebetulan seharian aku dan ayah, ibu pergi kondangan ke Magelang,” Putut melaporkan kondisi Amie hari ini pada Putro.
“Makan ya Mbak,” pinta perawat sambil memberikan sendok pada Amie. Namun sendok itu di lempar jauh olehnya, hampir saja mengenai simbah.
“Dek, jangan begitu ah, ayok kita makan seperti biasa, Mas tahu kamu sudah pinter koq sekarang. Mas dan bude datang dari Solo ‘kan buat lihat kemajuanmu,” ucap Putro sambil memberikan sendok bersih baru pada adiknya. Dan kali ini kembali sendok itu dibuang jauh oleh Amie.
Amie menggelengkan kepala dan berteriak sambil menangis.
“Enggaaaaaaaaak … enggaaaak!” Putro mencoba menenangkan, tapi Amie makin memberontak dan berteriak histeris.
Susah payah Putut, pakde Siswojo dan Putro membawa Amie ke kamarnya. Di dudukan Amie di ranjang. Putut mendekap Amie yang mulai mengurangi penolakannya.
“Bobo aja ya, jangan seperti ini,” bujuk Putut. Dia membaringkan Amie, tapi Amie terus memberontak. Amie akan tenang bila Putut memeluknya. Kalau posisi tiduran, bagaimana Putut harus memeluk bila tak ikut berbaring?
“Mas, mohon temani saya di kamar ini, saya akan ngeloni Amie dulu hingga dia tidur. Tolong jangan tinggal kami berdua, agar tak ada fitnah,” Putut meminta Putro tetap duduk di kamar itu.
Putut memeluk Amie dan membisikan ayat Kursy di telinga Amie.
Pakde Siswojo hanya bisa diam melihat kondisi putri sambungnya seperti itu. Pak Cokro dan bu Cokro tergopoh datang ke rumah belakang saat mendengar teriakan Amie tadi. Setelah Amie lelap dan pelukannya bisa Putut lepas, mereka keluar dari kamar perempuan itu.
“Ayo semua makan dulu, habis makan saya ingin bicara.” ajak pakde Siswojo, makan malam mereka memang tertunda akibat amukan Amie.
“Monggo, kami baru saja selesai makan. Saya menunggu di ruang depan saja,” ucap pak Cokro menjawab ajakan dari pak Siswojo barusan.
\*\*\*
Enam orang dewasa itu duduk diam di ruang depan. Belum ada yang akan memulai pembicaraan, situasi seakan membuat tak enak bicara. “Maaf, saya ingin cari jalan keluar dari masalah ini,” pakde Siswojo memulai pembicaraan malam ini.
“Nak Putut, kalau boleh pakde tanya kepadamu sebagai sesama lelaki dan sebagai orang tua Amie. Apa perasaanmu terhadap anakku dan mengapa kamu mau merawatnya?” pakde Siswojo langsung ke pokok persoalannya.
Putut sudah menduga akan mendapat pertanyaan ini, dia tidak kaget dan dia siap menjawab dengan benar.
"Andai saya bertemu saat lebaran, tentu saya akan sempat meminta langsung pada Amie. Sayang kami tak bertemu. Itu alasan saya merawatnya.”
“Kamu tahu, dia sudah janda, mengapa masih mau berkorban untuknya?” cecar pakde Siswojo.
“Apa usia dan status duda atau janda bisa membuat kita berpaling?” Putut malah membuat pertanyaan balik untuk pakde Siswojo. Pakde hanya mengangguk melihat keseriusan Putut.
“Mas Cokro, nuwun sewu. Saya tahu kondisi anak saya belum pulih. Namun melihat kejadian barusan, maaf kalau saya salah atau lancang. Sekali lagi saya mohon maaf terlebih dahulu bila apa yang akan saya utarakan tidak bisa diterima,” pakde Siswojo menjeda kalimatnya dengan menarik napas panjang dan meminum teh hangat yang berada di depannya.
"Kalau boleh, walau anak saya belum pulih, izinkan saya meminta Putut melakukan ijab secara siri. Ini hanya untuk membuat saya sebagai ayahnya Amie tenang karena anak saya dipeluk oleh orang yang telah sah secara agama."
"Tadi saya ingin menangis melihat Amie hanya bisa tenang dalam pelukan Putut saja. Dalam pelukan lelaki yang bukan mahramnya. Andai nanti Amie sudah sembuh lalu Putut berubah pikiran, saya bersedia Amie ditalak dan dikembalikan kepada saya,” lirih suara lelaki paruh baya itu sambil terbata.
Tentu semua yang ada di ruangan itu tercengang dengan wacana yang baru saja di ungkap oleh pakde Siswojo.
‘*Menikah*?’ batin Putut. Dia memang ingin menikahi Amie, tapi tentu saja yang diinginkannya ada senyum dari pengantinnya, ada kecup hormat di punggung tangannya. Bukan dengan perempuan tanpa ekspresi. Ini disebut ‘dipaksa menikah atau terpaksa menikah?’ batin Putut.
“Semua keputusan ada di tangan Putut,” balas pak Cokro datar. Dia juga tak ingin membuat Putut kecewa harus menikahi mayat hidup seperti kondisi Amie saat ini.
“Begini saja, kita lalukan pernikahan besok pagi, hanya antara kita ber enam ini dan pak penghulu. Tak boleh ada orang luar yang tahu termasuk perawat atau siapa pun,” usul Putro. Dia tahu, hal ini juga berat untuk Putut.
\*\*\*
“SAH.” Pak Cokro dan Putro yang menjadi saksi pernikahan siri Amie dan Putut bersamaan menyatakan kata ijab yang barusan Putut lafalkan sudah benar dan sah menurut agama.
Sementara bu Diah dan bu Tiwi hanya bisa menahan tangis menyaksikan akad yang di lakukan diam-diam kali ini. Sementara pengantin perempuan tetap dengan pandangan kosongnya duduk diantara kedua ibu tersebut.
Putut memperhatikan istrinya, dia tahu, pernikahan ini hanya untuk menjauhkannya dari dosa, juga dosa pakde Siswojo sebagai orang tua Amie yang membolehkan anaknya dipeluk oleh lelaki bukan muhrimnya. Nanti bila Amie sudah sadar, dia akan menanyakan lagi apa Amie mau menjadi istrinya. Bila pernikahan ini bocor, tentu akan banyak pendapat pro kontra. Sekarang tujuan mereka hanya untuk mencegah dosa saja. Tak ada sedikit pun niat Putut untuk mengambil keuntungan dari pernikahan tak wajarnya kali ini. Dia juga sadar, bukan ini pernikahan yang dia inginkan.
Walau sedih, tapi pakde Siswojo merasa plong. Dia terbebas dari beban dosa membolehkan anaknya selalu dalam pelukan seorang lelaki yang bukan mahramnya. Dia memeluk menantu barunya sambil sedikit terisak, biar bagaimana pun, tentu beban untuk Putut menerima amanat yang dia berikan. “Terima kasih Nak, Ayah sudah tak bisa berkata apa pun. Aku serahkan anak perempuanku di tanganmu. Sekarang dia full tanggung jawabmu.”
“Saya akan berupaya yang terbaik,” balas Putut sambil erat memeluk ayah mertuanya.
“Kalau kamu tidak kuat, katakan saja jangan ragu, aku akan menerimanya kembali,” Putro membisikkan betapa mereka sangat menyayangi Amie.
“Insya Allah aku akan kuat, terlebih ada dukungan kalian semua,” balas Putut.
Sejak itu Putut semakin bebas merawat Amie yang telah resmi menjadi istrinya.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.