
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Tiga hari lagi tamu dari Solo dan Singapore akan datang ke Cangkringan, Jogjakarta. Mereka akan bikin acara bebakaran yang sudah direncanakan sejak bulan lalu.
Bu Tiwi sudah mencari bunga genjer untuk dia hidangkan bagi tamunya. Sedang Amie sudah membuat jadah (atau tetel atau uli, tergantung nama daerahnya) dan serundeng pedas manis dalam jumlah banyak.
Tentu saja bu Tiwi telah membuat sambel pecel dalam jumlah sangat banyak. Karena masing-masing tamunya akan dia beri sambel pecel sebagai oleh-oleh.
Putut mempersiapkan kasur lama milik keluarga Amie untuk dia gelar bagi Wahyu dan Ragil karena kamar Wahyu nanti akan dipakai oleh pasangan Lesmana. Pasangan Farhat akan tidur di kamar Putut yang lama dan Farouq serta Ilham akan tidur di kamar Saka. Saka mengungsi dikamar kedua orang tuanya.
Pak Cokro masih tak percaya pak Farhat akan benar datang menginap dirumahnya. Dia juga sudah memetikkan salak untuk para tamu. Dipertemuan sebelumnya rencana melihat panen salak belum terlaksana. Maka esok rencananya sebelum ke tambak untuk makan siang, para tamu akan diajak melihat panen salak.
Wahyu bagian memantau lokasi untuk panen ikan dan area bebakaran. “Yu, bilang ke paklek Udeng, ikan yang buat di bakar, panen pagi-pagi aja lalu bawa ke lokasi bebakaran. Jadi enggak nunggu panen rutin. Biar lebih cepat. Karena jumlah yang harus dimasak kan lebih banyak.” Putut mengingatkan adiknya.
Acara besok pesertanya dua kali lipat dari pertemuan pertama. Dan banyak orang tuanya. Jadi jam makan siang tak boleh terlambat karena perut orang tua tak bisa disamakan dengan anak muda seperti mereka.
“Baik Mas. Eh bebek dan ayamnya mau diungkep biasa atau bumbu kecap langsung?” tanya Wahyu.
“Yang buat bebakaran bebek saja tanpa ayam. Bebeknya dibumbu ungkep aja, nanti dikecapin saat bakar. Jadi yang mau makan bebek bakar bumbu kecap atau bebek bakar gurih bisa memilih sesuai selera.” Amie menjawab pertanyaan adik iparnya.
“Lalu yang buat sarapan hari Minggu nanti bebek minta dimasak gulai aja dan ayam dimasak opor. Lalu bikin lontong,” lanjut Amie.
Hal itu sengaja Wahyu tanya karena sehabis dipotong dan dibersihkan Wahyu yang akan menyerahkan ke bagian masak di dapur depan. Dapur besar milik bu Tiwi. Kalau tidak tanya nanti Wahyu yang akan bingung bila para asisten rumah tangga bertanya padanya.
“Mas, mbak Farah bilang yang mau ngolah ikan nanti uminya. Aku diminta siapin bumbu aja buat asem manisnya. Takutnya umi lupa bawa bumbu walau sudah janji bawa dari Solo,” Amie memberitahu soal gurame asem manis dan patin masak kuah asem . Farah cerita ke uminya kalau Amie sedang hamil maka sang umi berinisiatif dia yang masak.
“Iya. Kamu siapkan semua bumbu itu ya. Dan Mas juga sudah ingatkan ke dapur, bumbu ikan bakarnya dan sambal untuk ikan bakar dibikinkan lebih banyak,” sahut Putut.
“Jangan lupa kerupuk untuk mas Jhon,” Amie juga mengingatkan tentang sang raja kerupuk.
\*\*\*
“Kita berangkat nanti sore‘kan?” tanya Jhon pada istrinya. Dia baru saja menaruh koper pakaian miliknya dan Farah kedalam mobil.
“Kita agak siangan By. ‘Kan kita jemput Abang dulu di bandara Jogja,” jawab Farah saat bersiap untuk berangkat kerja. Dia sedang mengingat apa lagi yang belum dibawa. Karena mereka tak pulang dulu sebelum berangkat ke Jogja nanti. Farah ingat koper milik mereka sudah Jhon masukkan di mobil.
“Iya. Ibu dan Ayah mau konvoi sama Abi dan om Lesmana,” sahut Farah.
Mertuanya memang sudah janjian sendiri dengan abinya juga papanya Putri. Genk old enggak mau kalah dengan pandawa genks nya Jhon. Sedang group Farah baru berisi tiga orang saja yaitu Farah, Amie dan Putri.
“By, jangan lupa bilangin Putut, malam ini enggak usah siapin makan malam. Karena Abi pasti makan ama rombongannya. Dan kita ‘kan mau makan di lesehan Malioboro ama abang,” Farah mengingatkan Jhon. By yang dimaksud Farah adalah kependekan dari hubby, bukan abi.
“Kemarin sudah aku beritahu koq. Ke Putut dan ke Amie. Aku takut salah satu lupa,” balas Jhon. Mereka lalu keluar kamar untuk sarapan.
“Kalian sudah mulai urus gedung dan perias pengantin?” tanya bu Basalamah.
“Kenapa Umi?” tanya Farah bingung.
“Bulan depan kan acaranya Amie sudah terealisasi. Umi ingin acaramu bulan berikutnya. Tak perlu menunggu lama. Kalau boleh biar Umi yang urus gedung dan cattering juga paesnya,” bu Basalamah memberitahu keinginannya.
Farah adalah putri satu-satunya. Dia ingin mengadakan pernikahan yang merriah dan mewah tapi tidak mahal karena dia tahu Farah dan Jhon tak suka kemewahan ditonjolkan. Semua persis sama dengan dirinya.
“Kalau saya pribadi sih enggak keberatan Umi mau atur semuanya. Nanti saya siapkan tanggal saya bisa cuti besar agar tanggal booking gedung dan catering enggak bingung,” sahut Jhon. Dia tahu maksud ibu mertuanya. Farah hanya memandang bingung. Dia menatap wajah suaminya.
“Kamu gimana YA?” tanya perempuan setengah baya itu.
“Kalau imam Aya sudah bilang seperti itu, masa Aya mau ngelawan Mi? Aya ikut apa kata Umi dan kak Jhon aja,” sahut Farah bijaksana.
Jhon hanya memberi senyum pada istrinya. Dia tahu, dimobil mereka pasti akan membicarakan hal ini.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.