
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU 2023. SEMOGA SEMUA HARAPAN KITA DAPAT TERCAPAI SEMUA DI TAHUN INI. Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia dan terhindar dari semua bencana.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Sudah bangun Nduk?” tanya pak Siswojo melihat Amie dan Putut keluar dari kamar. Para lelaki sedang minum kopi sore di teras. Ada Jhon, Putro, pakde Siswojo, pak Cokro dan pak Lesmana serta beberapa kerabat Wiwied.
“Sampun Pakde,” jawab Amie lirih. Putut mengajak Amie duduk di lokasi lain berbeda dengan kumpulan para lelaki sepuh di sana.
“Kamu mau mandi enggak Yank? Kita ‘kan bawa baju ganti,” Putut mengingatkan Amie tentang baju ganti yang mereka akan gunakan sore ini.
“Ayok Mas, sekalian mandi dan salat,” Amie menjawab dengan pelan.
“Kamu masih pusing?” tanya Putut. Dia khawatir akan kesehatan istrinya.
“Iya Mas,” jawab Amie.
“Sebentar Mas tanya dokter Widyo dulu ya?” Putut langsung menghubungi Widyo. Dia tidak berani mencarinya dan meninggalkan istrinya sendirian. Lebih baik mencari dengan panggilan telepon saja.
“Mas, ini kami sudah di teras, Amie masih pusing. Baiknya bagaimana?” tanya Putut to the poin.
“Aku kesitu,” jawab Widyo yang sedang di ruang makan. Tak lupa dia meminta dibawakan teh hangat ke depan untuk Amie.
“Kamu bawa obatnya Amie enggak?” tanya Widyo pada Putut.
“Ada di tas Amie,” jawab Putut. Tapi dia lupa siapa yang bawa tas Amie saat istrinya pingsan tadi siang. Putut minta izin pada Widyo untuk mencari tas istrinya dan meminta Widyo menemani Amie sementara dia pergi.
“Mas cari tasmu dulu ya Yank. Kamu di sini sebentar ama dokter Widyo,” sebelum pergi Putut tetap pamit pada istrinya. Karena dia sudah hafal, kalau tak dipamiti Amie akan ngambeg. Tanpa menunggu jawaban Amie, Putut segera mencari ibunya.
“Tas Amie dimana ya Bu?”
“Tadi aku kasih Wahyu, Mas,” Putri yang mendengar Putut mencari tas langsung menjawab.
“Matur nuwun ya,” balas Putut lalu dia segera menghubungi adiknya lewat telepon.
***
“Ini Mas,” Putut mengambil bundel obat yang dimiliki Amie. Setelah Wahyu memberikan tas Amie yang sejak tadi dipegangnya.
“Ok, Amie minum ini, ini dan ini ya,” Widyo memilih tiga pil dari beberapa macam obat yang ada. Kebetulan teh hangat yang tadi dia minta juga sudah datang. “Seharusnya kamu tiduran aja kalau masih pusing.”
“Enggak betah Dok,” jawab Amie.
“Ok, tapi jangan dipaksain ya. Kalau terasa pusing banget kamu harus duduk,” nasihat Widyo.
‘Apa aku harus pancing dia soal Angga? Atau diamkan saja menunggu dia bercerita?’ Widyo membaca chat yang Putut kirimkan. Walau posisi mereka berhadapan, Putut tak mau Amie mendengar soal yang dia tanya barusan.
‘Biarkan saja. Kecuali setelah selesai pernikahan Putro. Aku enggak ingin Amie makin tertekan lalu kalian makin repot bila dia harus dirawat di rumah sakit lagi,’ balas Widyo.
“Jadi mandi enggak Yank?” tanya Putut. Tadi Wahyu juga sekalian mengambilkan tas baju ganti mereka sore ini.
“Jadi Mas, sekalian salat ya?” jawab Amie.
“Mas, aku temani Amie ke kamar mandi dulu,” Putut pamit pada Widyo.
***
“Kamu mau ngemil apa?” tanya Putut setelah mereka mandi dan salat Ashar.
“Gimana kalau Mas ambil bakso dan aku ambil siomay? Jadi kita bisa separoan?” usul Amie. Snack sore memang bakso dan siomay serta aneka gorengan.
“Wah ide bagus itu Yank,” Putut setuju dengan usulan istrinya. Mereka mengambil makanan yang berbeda agar bisa saling mencicipi.
Dari luar orang melihat Putut tenang. Sebenarnya dia seperti menunggu Merapi erupsi atau Bom meledak. Dia ketakutan menanti apa yang akan Amie perlihatkan sejak kejutan mengenai Angga siang tadi. Tak mungkin Amie melupakan hal yang membuatnya pingsan. Dan hal itu membuat Putut seperti menunggu vonis hakim.
“Saka, mau Mbak ambilkan bakso?” Amie menawarkan adik iparnya.
“Aku baru rampung maem bakso Mbak,” jawab Saka sambil senyum manis dan terlihat jagoan bungsu pak Cokro sudah kekenyangan.
“Hati-hati Dek, jangan kekenyangan, nanti begah,” Putut mengingatkan Saka. Saka dan Amie banyak kesukaan yang sama. Mereka sama-sama suka ayam goreng tepung dan bakso kuah tanpa mie. Es cream dan snack yang mereka suka juga hampir sama rasa kesukaannya.
“Wah kamu sudah maem bakso duluan?” Amie baru tahu kalau telah didahului adik iparnya.
“Mbak tadi masih mandi. Jadi aku maem duluan,” jawab Saka tanpa merasa bersalah.
“Ha ha, kamu enggak sabar nungguin,” Amie tertawa renyah.
“De, tolong ambilkan itu air putihnya,” Putut meminta Saka mengambilkan air mineral kemasan di meja belakang Saka duduk. Dia sedikit kepedasan makan siomay milik Amie.
“Maaf, kepedasan ya Mas?” Amie bergegas mengambilkan air kemasan dan menusukkan sedotan agar Putut dapat segera minum.
“Enggak apa-apa, pedes sedikit,” jawab Putut. Dia menyudahi makan siomay dan kembali makan bakso miliknya.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG BARU RILIS DENGAN JUDUL NOVEL INFIDELITY BEFORE MARRIAGE YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta