
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
“Yang dibesek warna merah itu yang pedas. Yang di besek warna abu-abu sedang,” jawab bu Tiwi.
“Iya bener ya. Kalau enggak ambil sendiri bisa salah. Saya pastinya ambil yang enggak pedas,” bu Basalamah tak suka pedas.
“Oleh-olehnya lebih banyak dari yang kita bawa kesini ya,” bu Lesmana jadi tak enak sendiri.
“Aku biasa. Bahkan sampai degan, daun so, kecipir selalu aku bawa saat tiap minggu nengok Amie saat dia sakit dulu,” bu Diah menceritakan apa saja yang dia bawa.
“Iya, walau kalau beli sendiri yo enggak terlalu mahal atau enggak sulit dicari. Tapi hasil kebon emang beda ya,” bu Basalamah setuju dengan bu Diah.
“Kalau turi merah dan kecombrang atau bunga genjer agak sulit walau dipasar tradisional,” jawab bu Diah. Dia dan bu Basalamah memang masih rajin kedapur. Beda dengan bu Lesmana yang mungkin tidak tahu apakah saat ini garam didapurnya masih ada stock atau tidak. Perempuan itu sama sekali tak pernah kedapur.
\*\*\*
Selesai sudah oleh-oleh masuk ke mobil masing-masing. Sebelum pulang pak Cokro meminta semua makan siang terlebih dahulu. Menu makan siang kali ini serba bebek. Bu Basalamah mengolah bebek menjadi tongseng dan rica-rica. Walau dia tak suka pedas, tapi dia pandai masak.
Tak ada yang tak puas. Mereka pun lalu pamit karena sekalian mengantar Farouq dan Ilham ke bandara.
Tanpa malu Farouq membawa banyak salak sebagai oleh-oleh. Dia membawa salak pondoh sedang Ilham membawa salak madu. Tak ada yang mau membawa salak gading.
“Semoga dipertemuan berikut Ilham dan Farouq sudah bawa calon ya,” goda pak Cokro.
“Wah kalau masih calon jangan dibawa pertemuan yang menginap. Mau pada tidur dimana?” pak Farhat malah melarang.
“Itu artinya harus segera dihalalkan Bi?” goda Jhon untuk kedua abang iparnya.
“Nah itu … itu…,” goda Putro.
“Kita bahas di group chat,” sahut Farouq.
“Siaaaap,” sahut Ragil. Kalau dia dan Wahyu memang belum dikejar jodoh karena usia mereka masih jauh dari Ilham dan Farouq.
\*\*\*
Akhirnya hari yang ditunggu Putut dan Amie akan segera datang.
Satu minggu lagi mereka akan menggelar acara resepsi pernikahan mereka yang akadnya sudah mereka lakukan sepuluh bulan lalu. Akad tak akan mereka ulang kembali.
Sesuai adat didesa, maka satu minggu sebelum digelar acara resepsi rumah pak Cokro mulai ramai. Sudah ada team masak, sudah ada panitia desa dan banyak lagi. Didesa masih ada istilah rewang yang artinya membantu.
Jadi selama hampir sepuluh hari bahkan dua minggu para ibu dan para bapak di lingkungan sekitar orang yang akan mantu sudah datang untuk membantu.
Amie dan Putut tak ikut urusan itu. Putut belum buka gips walau sudah lumayan lancar jalan. Dan Amie semakin cepat lelah. Dia bawaannya ingin tidur saja. Malas bergerak. Jadi mereka tetap saja dirumah belakang. Untuk acara sebelum resepsi memang masih menggunakan dapur bu Tiwi. Nanti tiga hari sebelum resepsi baru akan masak dirumah belakang.
“Bangun Yank,” bisik Putut pada Amie. Perut istrinya belum terlihat berubah. Dia elus calon bayi didalam perut Amie.
“Mas tahu, tapi maem dulu ya. Kasihan baby kalau Bundanya malas maem,” Putut membujuk istrinya untuk isi perut dulu.
“Maem, minum vitamin lalu nanti bobo lagi,” Putut mencoba membangunkan Amie yang sudah kembali menarik selimutnya. Padahal saat ini sudah hampir jam delapan pagi. Sehabis salat subuh tadi istrinya langsung kembali tidur.
Tak mempan dibangunkan biasa, Putut sengaja menggusel Amie. Bukannya bangun, Amie malah menarik suaminya dan memeluk erat sehingga malah Putut tak bisa menggoda Amie karena akhirnya dia punya misi sendiri. Ada sesuatu yang terbangun dan harus dituntaskan.
“Makasih ya Yank,” Putut menciumi istrinya yang tampak kelelahan karena habis dicangkul sawahnya.
“Mas modus ih,” sesal Amie.
“Kamu yang mancing Mas. Kalau kamu enggak narik Mas, Mas cuma ngebangunin kamu aja koq,” kilah Putut tak mau disalahkan.
“Aku narik biar Mas diam enggak reseh ngebangunin aku,” balas Amie lagi.
“Tapi kamu malah ngebangunin cangkulku. Dia mana mau diem kalau sudah bangun,” Putut yo tetap ngeyel tak mau disalahkan.
“Lagian kamu juga suka ‘kan?” goda Putut selanjutnya.
“Iyaaaaah,” jawab Amie. Sekarang dia harus bangkit karena hendak membersihkan diri dari sisa bercocok tanam barusan.
“Sekarang jadi Mas yang ngantuk,” Putut lelah sehingga ingin tidur lagi.
“Iiiiiih … jangan bobo. Temani dedek maem dulu,” pinta Amie. Kalau sudah pakai alasan dedek, tentu saja sang ayah enggak bisa nolak.
“Giliran Ayah mau bobo, dedek minta temani maem. Dari tadi Ayah bangunin aja dedek malas,” gerutu Putut. Dia pun bangkit dan bersiap menemani istrinya sarapan.
“Pengen maem sambel goreng krecek deh Mas,” Amie tiba-tiba nyeletuk ingin sambal goreng krecek.
“Sekarang maem yang ada. Nanti Mas minta bulek Irah cari ke penjual gudeg,” jawab Putut. Dia segera ke belakang memanggil asisten rumah tangganya.
“Sama gudeg dan kalau ada jenangnya juga mau ya Mas,” karena Putut bilang mau menyuruh orang untuk membeli, maka Amie sekalian pesan gudeg dan bubur nasi.
Tak sulit mendapat sambal goreng krecek di lokasi dekat rumah mereka. Karena ini masih cukup pagi. Bahkan siang dan sore pun masih mudah. Itulah enaknya kehamilan Amie kali ini. Yang dia inginkan semua yang wajar saja dan mudah didapat.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita BARU karya yanktie dengan judul JINGGA DARI TIMUR ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul JINGGA DARI TIMUR itu ya.