THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
KEJUJURAN SOAL ANGGA



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Amie dan Putut bergandengan menyusuri semua pedagang yang ada di sana. Bukan tak ada yang diminati, malah bingung karena terlalu banyak yang mereka inginkan. “Yank, kita beli semua itu satu porsi untuk berdua aja gimana? Jadi kita bisa makan banyak macam,” Putut menyarankan seperti itu agar bisa mencicipi banyak jenis makanan.


“Iya, gitu aja Mas, biar perut kita kenyang, dan nafsu makan kita terpenuhi.” Amie menyetujui usul cemerlang Putut.


“Sekarang kamu ada usul mau kemana?” tanya Putut setelah mereka cukup kenyang.


“Aku enggak pernah keluar malam selama tinggal di Solo. Bahkan kakak-kakakku yang laki-laki aja enggak suka keluar malam. Mana aku punya referensi pariwisata malam?” keluh Amie. Anak-anak keluarga Siswojo memang bukan yang suka keluar rumah saat malam. Tapi sekarang Ragil mulai berubah, dia semakin sering keluar malam walau tak sampai larut.


“Kamu ingin menyusuri jalan kenangan mungkin? Saat bersama Jhon, Ragil atau Angga?” pancing Putut. Dan Amie langsung pias. Sepertinya Amie sama sekali tak ingin berbagi cerita tentang Angga sama sekali.


“Yank … yank,” Putut memanggil Amie berulang karena dia melihat istrinya terdiam. Putut berhenti di TBS ( Taman Budaya Solo ). Dia mengajak istrinya untuk turun dan dia ajak ke sebuah cafe mungil yang tak terlalu ramai di seberang TBS.


“Yank, aku ingin kita bicara ya,” Putut menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya. Dia sudah memesan hot caphucino dan hot milk choco. Amie melihat Putut dengan sendu.


“Kamu tahu, Mas menikah denganmu penuh kesadaran. Mas tahu kamu pernah menikah dengan Angga dan kamu pernah hamil. Kamu cinta atau enggak dengan dia, Mas enggak akan masalahin.”


“Itu masa lalumu dan siapa pun enggak ada yang pernah bisa menghapus masa lalu. Mas mau kamu menerima semua dengan lapang dada. Kamu tak perlu merasa bersalah menyebut nama Angga didepan Mas. Mas enggak akan marah atau cemburu. Kamu bisa menceritakan masa indahmu dengan Angga tanpa perlu merasa bersalah!” Putut memberi pengertian pada Amie. Dia tak ingin Amie tertekan menyebut nama Angga di depannya.


“Bisa aku jujur?” tanya Amie dengan mata berkaca.


“Aku suamimu’kan?” Putut balik bertanya dan Amie hanya mengangguk tanpa sepatah kata pun.


“Kalau kamu merasa Mas adalah suamimu. Mas adalah imammu. Seharusnya kamu mempercayai Mas. Seharusnya kamu enggak ragu berkata jujur sama Mas. Kita bukan baru kenal Yank! Kamu tahu Mas bukan orang yang gampang marah apalagi main kasar. Mas akan selalu berupaya jujur sama kamu, makanya Mas juga mau kamu berlaku jujur ke Mas,” jawab Putut lembut.


“Sejak nikah, aku hanya berlaku sesuai ajaran agama. Aku harus patuh dan taat pada suami. Ketika hamil, aku sering kolokan ke dia. Aku enggak pernah mau jauh. Mungkin itu pengaruh hormonal.”


“Tapi sekarang setiap mengingat dia hanya ada rasa bersalah. Itu makanya aku enggak pernah mau nyebut nama dia. Karena enggak pernah ada moment manis yang membekas. Disitu aku makin merasa bersalah ke mas Angga kenapa enggak ada kenangan yang membekas,” Amie mengambil tissue untuk menghapus air matanya. Dia sesap coklat panas miliknya.


“Kami enggak pernah jalan-jalan berdua sejak menikah. Keluar malam mulai kami lakukan saat aku ngidam ingin sesuatu dan periksa hamil. Selebihnya kami hanya bertemu di rumah. Rutin dari pagi hingga kembali pagi seperti itu.”


“Mas Angga bukan orang yang romantis mengajak jalan atau makan. Dia hanya sibuk dengan membuat makalah dan memeriksa tugas mahasiswanya. Komunikasi kami sangat baik, tapi kalau boleh jujur walau banyak kata sayang dan cinta terucap, sepertinya bukan dari lubuk hati. Hanya sekedar terucap sebagai pemanis dan pemantas kalimat saja,” Amie menjelaskan lebih lanjut.


Amie mengingat memang demikianlah Angga yang dia kenal. Bukan mengada-ada. Angga sosok lelaki yang baik dan lembut.


“Yang Mas tahu, Angga orangnya humoris walau enggak usil seperti Ragil, dia memang pekerja keras. Walau tidak terlalu pintar tapi tekun sehingga bisa jadi dosen,” Putut mencoba mengingat kembali sifat sahabat SMA nya itu.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa.


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta