
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Akhirnya tiba waktu meeting. Juned, Sholeh dan Dwipa serta empat orang staffnya sudah menunggu mereka bersama Farhat dan Lesmana di ruang meeting. Di depan pintu ruang meeting berjaga tiga orang yang berpakaian dinas.
Farhat dan Lesmana yang menyambut timnya Juned ketika mereka datang ke hotel. Ternyata Juned dan Dwipa tidak bisa ikut makan siang makan siang di hotel karena ada tugas menjaga keamanan selama makan gubernur berada di kota Solo.
"Kita mulai untuk menyingkat waktu ya. Sudah kumpul semua?" tanya Sholeh.
Kali ini yang membuka acara memang Sholeh.
Semua memandang berkeliling memperhatikan satu demi satu Apakah ada yang belum hadir.
"Sudah hadir semuanya," kata Farhat, Jhon sebentar lagi masuk. Dia baru aja ke toilet. Toiletnya dalam ruangan ini kok bukan di luar. Jadi semua sudah siap," kata Farhat sebagai tuan rumah meeting.
Juned dan semua teamnya duduk di belakang meja panjang di depan ruang meeting sedang semua yang hadir duduk menghadap team Juned.
"Selamat siang, Assalamu'alaykum semuanya. Salam sejahtera ," kata Sholeh.
"Maaf pada acara menjelang resepsi kami terpaksa mengumpulkan semua anggota keluarga, karena ada beberapa hal penting yang harus kami diskusikan dengan pemilik hajat," lanjut Sholeh lagi.
"Pertama mengenai kejadian tadi malam. Mungkin ada beberapa yang kurang jelas."
"Semalam kami menangkap tiga orang yang bertujuan ingin agar pesta berantakan!"
"Poin kedua isi racun ini agak-agak aneh kalau untuk orang umum."
"Zat aktif pertama yang kami temui pertamanya tentu saja akan membuat yang mengkonsumsi keracunan dan muntah."
"Muntah bisa menimbulkan dehidrasi Jadi kalau yang nggak kuat ya bisa meninggal tapi kan bukan itu tujuan utamanya kalau saya lihat karena mereka memasukkan banyak unsur zat aktif lain yaitu PHTHALATE."
"Kelebihan zat ini akan membuat selain gangguan pencernaan juga akan membuat orang yang memgkonsumsinya menjadi mandul."
"Tadi malam dosis yang akan diberikan dalam jumlah banyak sehingga bisa menimbulkan diabetes, kegemukan dan ada akan berakibat penyakit berkepanjangan yaitu mandul."

Saya ulangi ya. Poin pertama pertama tadi kami menangkap penyusup. Poin yang kedua adalah tentang materi dari racun. Dan sekarang kita masuk ke poin yang ketiga yaitu tujuan penyusupan tadi malam."
"Rupanya mereka akan menaruh racun ini tidak di semua makanan untuk umum. Mereka tahu sesudah acara makan malam untuk umum, ada meja khusus untuk keluarga."
"Semalam kan memang terjadi keluarga makan di meja khusus. Penyusup tahu keluarga inti akan menemani tamu makan tanpa ketakutan kelaparan karena sehabis semua tamu pulang mereka akan membuka meja khusus buat keluarga inti makan."
"Makanan di meja khusus itu yang akan diracun! Jadi jelas tujuannya adalah HANYA akan meracun keluarga tuan rumah yaitu keluarga Farhat Basalamah."
"Jelas tidak? Yang akan kena racun hanya keluarga Basalamah. Bukan semua tamu. Itu poin ketiga. Sampai sini ada pertanyaan?"
Semua diam membayangkan kalau mereka kena racun yangpara kecoa tadi malam.
"Kalau tidak ada pertanyaan saya cukupkan sampai sini kata-kata saya. Karena bidang yang saya tangani cuma sampai sini. Selanjutnya akan dilanjutkan oleh Pak Dwipa," kata Sholeh.
"Monggo Pak Dwipa."
"Oke selamat siang semuanya. Assalamu'alaykum." Semua pun menjawab salam yang Dwipa berikan.
"Seperti yang tadi sudah diuraikan oleh pak Sholeh. Tadi malam kita sudah menangkap tiga kecoa sebagai penyusup lalu kita juga sudah diberi tahu hasil dari sample racun yang diperiksa oleh Pak Sholeh dan fakta ketiga tujuan utamanya hanya di keluarga Farhat."
"Kami bisa tahu tujuan utama itu karena tadi malam kita langsung introgasi mereka. Menurut pengakuannya mereka hanya diwajibkan menaruh di meja khusus yang untuk keluarga."
"Selanjutnya mungkin tadi saat menerima pesan dari saya pada bertanya kenapa Pak Juned mengundang semua yang berkaitan dengan Farah dan Jhon."
"Memang tujuannya adalah membuat Farah dan Jhon tidak punya keturunan."
"Otak pelaku juga ingin membuat semua keluarga Basalamah itu menjadi sakit karena kegemukan atau diabetes."
"Itu pembuka dari saya." Dwipa sengaja menghentikan sejenak pembicaraannya. Dia ingin semua fokus pada apa yang dia bahas.
"Mengapa Farah dan Jhon harus menjadi tujuan misi ini?"
"Karena otak pelaku dendam terhadap Farah!"
"Dari sini kalian bisa prediksi siapa pelakunya? Siapa otaknya? Orang umum aja sudah bisa menebak-nebak siapa pelakunya. Ada yang bisa jawab pertanyaan saya ini." Dwipa memberi kesempatan semua beropini.
Mayoritas semua menebak Indra dan Indira.
"Semuanya nggak ada jawaban lain kecuali Indra dan Indra? Ada yang lain?" tanya Dwipa.
"FARHAN!" Tegas Jhon
"Wah ada satu yang nebak Farhan. Saya uraikan mengapa saya minta semua datang karena ini berkaitan dengan nama besar keluarga besar Basalamah."
"Kenapa Bu Faradina harus datang. Tujuannya pelaku membuat Jhon mandul tentu akan berhubungan dengan semua keluarga besar! Itu mengapa Bu Faradina harus hadir."
"Semua akan mendapatkan beban kejiwaan bila hal itu terjadi. Semua akan saling menyalahkan!"
"Jadi bukan berkaitan dengan persoalan kemarin! Melainkan karena akan ada faktor kejiwaan yang akan ditanggung satu dua orang yang akan berimbas pada semuanya."
"Karena permintaan Pak Juned bahwa semua harus hadir, semua menduga kecurigaan pada Indra dan Indira!"
"Perlu kami beritahu, sampai saat ini kami BELUM menemui indikasi keterlibatan Indra dan Indira."
"Tak ada indikasi Indra dan Indira terlibat karena penjagaan Kantor Polisi juga nggak bisa sembarangan mereka mau ngatur strategi dan acara pernikahan ini belum bocor ke mereka. Indra dan Indira belum tahu tentang acara resepsi."
Semua bingung. Kalau bukan Indra dan Indira, siapa yang tega berbuat kejam? Apa musuh pak Farhat?
Tapi tadi pak Dwipa bilang pelaku dendam pada Farah!
"Kita lanjut ya! Seharusnya enaknya Pak Juned yang buka jangan saya. Pak Juned aja deh. Silakan Pak Juned."
"Sebenarnya kamu aja nggak papa tapi karena sudah dikasih ke saya, saya ambil tempat bicaranya."
"Sungguh ini berat buat kami katakan. Dalam usaha itu tidak ada teman tidak ada saudara. Kami belum memegang bukti bahwa saudara atau teman kita ini terlibat. BELUM ada bukti tetapi ada lingkaran dia otak pelaku utamanya."
"Sebelum saya buka, saya minta kak Dina dan dan kak Farhat berbesar hati. Kak Dina dan kak Farhat harus bersiap mendapatkan kenyataan bahwa saudara kita atau sahabat kita adalah tokoh utama dari persoalan semalam!"
Farhat menggenggam tangan istrinya erat.
"Sampai saat ini kami masih menunggu kepastian dari team di lapangan. Kami benar-benar kerja ekstra cepat agar momen nanti malam itu bisa menjadi arena pesta penangkapan!"
"Sebentar, sebentar! Saya angkat telepon dulu," Juned melihat ada telepon masuk. Semua pasti yakin kemungkinan telepon itu sangat penting karena tak mungkin Juned mengangkat telepon saat sedang meeting seperti ini.
"Kamu tunggu di lobby! Sebentar lagi Sholeh jemput kamu!" Juned memutus pembicaraan.
"Pak Soleh tolong jemput Adnan di lobby."
"Baik Pak," jawab Sholeh.
"Nah ini ada kemungkinan titik terang yang saya tunggu sudah sampai. Semoga semua siap melihat kawan atau saudara kita yang mempunyai niat tidak baik terhadap kita." Juned menatap tajam Farahdina dna Farhat.
"Kita tunggu sebentar ya," kata Juned.
"Silakan diminum teh kopinya ambil sendiri tuang sendiri," Ilham berdiri dan bicara pada semua untuk self service.
Amie kembali ke belakang sambil kembali mengambil teh dan snack. Putri pun begitu dia duduk kembali di belakang
"Umi sabar ya untungnya racun itu belum jadi diberikan," kata Farhat pada istrinya yang memang sangat shock mendengar orang akan membuat Jhon mandul.
"Enggak nyangka aja anak kita jadi sasaran seperti ini," Faradina menerima teh hangat yang Ilham ambilkan.
Akhirnya sosok yang ditunggu datang yaitu Pak ADNAN.
Adnan datang membawa laptop dengan layar cukup besar.
"Sudah dapat?" Juned langsung bertanya ketika Adnan memberi hormat padanya.
"Sudah. Siap Ndan!" jawab Adnan.
"Baik kamu buka siapin aja nanti saya tinggal klik memperlihatkan videonya," Juned tak mau membuang waktu karena sebentar lagi semua harus bersiap di rias.
"Kita lanjut karena kita dikejar waktu," kata Juned sambil menghirup kopi yang diambilkan oleh anggota polisi.
"Kak Farhat dan Kak Dina saya mohon maaf bila fakta ini menyakitkan kalian dan mungkin bisa merusak hubungan kalian dengan keluarga pelaku."
"Saya minta SEMUA nanti bekerja sama. Tak boleh ada yang bicara apa pun soal ini di luar. Karena nanti bisa ada yang dengar dan misi kita gagal."
"Ingat ya tidak boleh ada yang bicara apa pun tentang kejadian yang sekarang di terjadi ruangan ini."
"Satu kali lagi saya ulangi : TIDAK BOLEH ada siapa pun yang membahas masalah ini walau pun dengan suami atau istrinya."
"Keluar dari ruangan ini anda semua tidak tahu apa-apa. Kalau sampai ada yang mendengar pembicaraan anda walau di dalam kamar sekali pun itu bahaya," jelas Juned.
"Camkan itu baik-baik."
"Semua bisa berjanji?" Juned tentu tak ingin kerja kerasnya gagal. Dia harus memastikan semua hadirin disini bisa tutup mulut. Juned tak akan memulai lagi bila masih ada yang belum paham ketentuan ini.
"Paham."
"Janji akan diam."
Setelah semua memastikan akan diam, Juned pun puas.
"Adnan buka," perintah Juned. Maka Pak Adnan pun menyalakan laptopnya dan layarnya di arahkan pada peserta rapat siang ini.
Dalam video itu jelas terlihat tiga kecoa semalam duduk berjajar menghadap kamera. Yang duduk di tengah adalah kecoa betina.
Lalu masuk dua petugas dengan seragam mengapit kecoa jantan gemuk.
Petugas mengatur kecoa jantan gemuk yang baru datang duduk didepan tiga kecoa semalam hanya agak menyerong agar kamera bisa leluasa mengambil rekaman kejadian.
"Apa benar bapak ini yang menghubungi kalian?" Tanya petugas pada tiga kecoa penyusup pesta.
"Benar Pak," jawab ketiganya kompak.
"Baik kita mulai ya," petugas di ruangan pemeriksaan para kecoa akan memulai tanya jawab setelah mendapat kepastian kalau sosok yang baru datang benar sosok yang jadi penghubung antara para kecoa dengan pemilik modal.
"Saya sudah tahu jati diri Anda berikut semua latar belakang anda. Tapi untuk pemeriksaan anda wajib menyebutkan jati diri anda!
Sekarang kamera diarahkan ke kecoa gendut.
"Nama saya Samsul Huda," Jawab kecoa gendut dengan lirih tapi jelas.
"Apa latar belakang tindakanan anda?" Petugas bertanya pada kecoa gendut.
"Saya hanya sopir antar jemput karyawan kecil, bukan sopir bos. Istri saya sedang hamil dan dokter bilang harus dioperasi caesar karena panggul nya kecil. Saya butuh uang lumayan besar untuk biaya kelahiran anak saya itu."
"Anda hanya sopir antar jemput buruh pabrik di perusahaan itu. Dari mana orang yang menyuruh anda tahu anda butuh uang operasi caesar untuk istri anda?"
"Minggu lalu saya kasbon Pak untuk operasi istri saya. Saat sedang mengajukan kasbon beliau datang. Dia memanggil saya ke ruangannya."
"Saya akan berikan tiga kali jumlah yang kamu ajukan secara gratis bila kamu mau membantu saya. GRATIS! Begitu katanya. Siapa yang tak mau dibantu tiga kali liat dan gratis pula Pak?" Kecoa gendut mulai berceloteh.
"Saya menganggap tugasnya sangat ringan. Saya diminta mencari dua atau tiga orang untuk meneteskan obat perangsang di makanan sebuah pesta. saya tak perlu bergerak sendiri. Hanya bertugas mencari eksekutor saja. Dia bilang obat perangsang tidak membahayakan, tidak mematikan. Yang meminum atau memakannya hanya ingin berhubungan sexx saja saya mau aja," jawab kecoa gendut itu.
"Saya hanya perlu mengatur orang untuk masuk ke bagian catering sebuah pesta. Saya tidak tahu siapa pemilik pesta. Yang saya tahu hanya orang itu nanti akan mengatur tiga orang itu untuk bergerak. Tugas saya hanya sampai situ."
" Bagaimana ketiga orang itu dapat obat perangsang dan makanan atau minuman mana yang harus diteteskan obat saya tidak tahu. Bukan tugas saya lagi."
"Karena katanya perangsang aja, bukan racun hanya akan membuat gairah seksual aja saya pikir aman. Jadi saya mau mencari tiga orang eksekutor itu."
"Tiga orang ini juga butuh uang. Mereka dibayar sendiri. Tidak dipotong dari uang saya. Uang langsung diberikan oleh Bos saya itu," kata kecoa gendut lagi.
"Kalau gitu berarti anda yang mencari orang ini?"
"Iya Pak."
"Anda sudah menerima uangnya?" tanya petugas.
"Saat saya merekrut mereka, saya diberi sepertiga jatah saya. Uang yang saya butuhkan untuk operasi. Uang itu sudah saya bayarkan langsung ke rumah sakit untuk deposit sehingga saya tenang."
"Sisanya akan diberikan bila misi sudah dilakukan yaitu semalam."
"Apa sudah masuk lagi uang sisanya?" Tanya petugas.
"Sudah Pak. Semalam sudah masuk semuanya," jawab kecoa gendut.
"Saya bilang misi sudah selesai berhasil. Lalu boss tanya kenapa tidak ada terekspos di media. Saya jawab kemungkinan keluarga pemilik pesta menutup supaya tidak terekspos media. Agar pesta resepsi aman. Mendengar itu uang langsung ditransfer."
"Bagaimana dengan uang mereka bertiga?" tanya petugas.
"Semalam sih boss sudah memberi bukti bahwa semua sudah dibayarkan kok. Bukti transfernya ada di ponsel saya yang sudah disita petugas."
"Anda bisa sebutkan jati diri bos anda?"
"Bisa Pak."
"Kenapa anda bisa sebutkan nama bos anda dengan mudah?"
"Karena keselamatan istri saya di rumah sakit sudah berada di tangan polisi. Saya tak mau istri saya kenapa-kenapa." Jawab si kecoa gendut itu.
"Polisi kan menjaga supaya istri anda kan nggak dikerjain sama bos anda, bukan mau balas ke istri anda," kata petugas.
"Ya saya mengerti Pak."
"Sebutkan nama bos anda dan nama perusahaan serta alamatnya!"
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA itu ya.