
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Ada apa sih?" Farah melihat wajah letih suaminya yanh juga marah.
"Ada rumors tak enak di kantor. Aku takut imbasnya ke Abi dan namamu." Sungut Jhon dengan kesal. Dia buka kopernya untuk mengeluarkan baju kotor dan dia pun segera bersiap akan mandi.
"Rumors apa?" tanya Farah dengan lembut dan sabar saat Jhon selesai mandi.
"Aku dibilang kumpul kebo," keluh John.
"Bagaimana bisa?" tanya Farah penasaran.
"Seseorang yang ingin menjatuhkan namaku," jawab John lagi.
"Ini berkaitan dengan penilaian pilot terbaik tahun ini," kata John.
"Ya ampun segitunya ya mau menjadi yang terbaik harus menjatuhkan orang lain," Farah tak habis pikir dengan perilaku orang seperti itu.
"Itulah yang membuat aku kecewa. Aku tak papa kok nggak jadi pilit terbaik. Enggak bisa mempertahankan predikat pilot terbaik lagi, karena bukan itu tujuanku untuk selalu berprestasi."
"Aku memang ingin selalu memberikan yang terbaik untuk masyarakat bukan untuk membuat aku mendapat predikat pilot terbaik. BUKAN. Itu beda sekali."
"Menjadi pemegang predikat terbaik dengan menjadi yang terbaik untuk masyarakat itu sangat beda," kata Jhon berapi-api.
"Hanya orang yang mengerti yang tahu perbedaan itu," kata Farah menghibur suaminya.
"Bener banget. Dan banyak orang berambisi mengambil predikat terbaik tanpa berpikir dia harus memberi yang terbaik untuk masyarakat," kata John.
"Ya udah sekarang tidur aja. Atau mau sarapan? Aku keluar aja kalau mau tidur," Farah mengerti suaminya ingin istirahat.
"Enggak bisa tidur kalau udah kayak gini," kata John sambil memeluk Farah.
"Pesawatnya ingin landing dulu," bisiknya. Dan Farah mengerti apa yang dimaksud oleh John.
Akhirnya pesawat tempur Jhon berhasil mendarat dengan baik di landasan pacu milik Farah.
\*\*\*
"Mas kemarin waktu di Jogja Farah dan Amie ceritaan bahagia banget deh," kata Putri. Putri dan Putro baru saja keluar dari rumah keluarga besar Lesmana, mau berangkat kerja ke rumah sakit.
"Kenapa?" tanya Putro. Dokyer gigi itu yakin aaknada yang disampaikan istrinya.
"Aku senang lihat Amie udah di rumah sendiri dalam artian dia tidak tinggal dengan mertuanya walau pun rumahnya cuma di sebelah rumah ibu Tiwi. Tapi setidaknya ada privasi sendiri gitu loh Mas."
"Beda kan kalau dia nyampur sama mertuanya walau pun beda kamar. Itu kan beda rumah biar gimana pun Amie bisa jadi ratu di rumah itu di rumah warisan bapaknya."
"Farah juga bilang dia dan Jhon udah beli rumah jadi begitu mereka selesai resepsi nanti mereka langsung akan pindah rumah," cetus Putri.
"Aku cerita ke Farah dan Amie, bahwa aku akan sulit keluar dari rumah mama dan papa karena pola pikir dan pola asuh mama kan beda sama pola asuh Pak Farhat." Putri menjelaskan lagi apa pembicaraan para perempuan kemarin.
"Ya Itu makanya nggak usah dipikirin. Bikin kamu jadi pusing," kata Putro ambil mengacak-acak rambut istrinya.
"Mas, kita mau kerja loh. Berantakan dech rambutku," Putri protes dengan manjanya pada sang suami.
"Ah kamu berantakan juga tetep cantik kok," rayu Putro.
"Ya cantik buat Mas buat orang lain nggak cantik," kata Putri sambil mengambil sisir di tas ya
"Enggak perlu cantik buat orang lain, cukup buat Mas aja," Putro menegaskan prinsipnya.
"Iya sih, tapi enggak pantes kan dokter Wieduri Putri Suhardono penampilannya enggak oke?" Tetap Putri bisa memberi alibi.
"Trus Amie ngusulin gimana kalau kita tuh punya rumah weekend. Tadinya aku nggak ngerti apa maksud Amie. Lalu Farah langsung menjabarkan Mas."
"Maksud Amie tu kalau weekend kita di rumah sendiri. Sejak hari Jumat sore pulang kerja kita langsung pulang ke rumah kita sampai hari Senin pagi."
"Senin pagi kita berangkat kerja berangkat ngantor berangkat ke rumah sakit dari rumah kita, nanti pulang kerja kita kembali ke rumah mama sampai hari Jumat pagi," kata Putri lagi
"Bagus nggak usul ini?" kata Putri dengan antusiasnya.
"Kalau Mas sih setuju aja. Masalahnya kan bukan di Mas. Kita tetap tinggal di rumah itu pun Mas nggak apa-apa. Yang jadi masalah kan izin orang tuamu," jawab Putro dengan pelan.
Putro tak ingin istrinya tersinggung.
"Aku cerita sama Mas kan karena aku minta persetujuan Mas. Kalau Mas udah tahu seperti ini aku akan bilang pada Mama," jawab Putri lagi.
"Oh gitu maksudmu, kata Putro.
"Iya aku akan bilang soal ini ke mama. Kalau kita udah sepakat kata Putri.
"Mas setuju aja," jawab Putro.
'*Seperti dugaanku, Mas Putro itu nggak pernah mikir yang ribet-ribet. Apa pun dia akan setuju asal baik*,' batin Putri.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.