
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Menjelang sore Putri dan Putro pamit. Seperti rencana semula Putro ingin melihat rumah sakitnya sebelum pulang ke rumah.
“Serius?” tanya Jhon pada istrinya saat perempuan itu bilang mereka akan menginap disini. Tentu saja Jhon senang karena istrinya membagi waktu antara kedua orang tuanya dan mertuanya.
“Serius lah Kak, kita dua malam disini ya? Sisanya baru di rumah Abi,” jawab Farah yang sedang mencuci piring.
Bagaimana Jhon tidak bingung? Istrinya adalah putri orang terkaya di Solo. Di rumah orang tua Jhon ini tak ada pembantu.
Artinya Farah harus mau mencuci piring bahkan memasak sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Dia tentu ragu Farah akan mau. Bahkan untuk mengajaknya menginap pun kadang Jhon ragu.
“Aku biasa masak sejak kecil Kak, juga cuci piring dan cuci baju dengan tangan! Umi mengajarkan kami bertiga harus bisa mengerjakan semua karena umi bilang tak selamanya kami dikelilingi para asisten rumah tangga."
"Kami bertiga sejak lulus SD wajib membereskan dan membersihkan kamar kami masing-masing. Dan setiap malam Abi akan mengontrol kamar kami,” Farah mencoba menerangkan tentang dirinya pada Jhon untuk menepis rasa tak percaya suaminya.
‘*Cuci baju dengan tangan? Tanpa mesin*?’ suatu info yang membuat Jhon angkat topi pada pasangan Basalamah. Mereka mendidik anak-anak mereka dengan bekal dilapangan bukan hanya teori!
“Dan didikan umi dan Abi sangat berguna saat kami jauh dari mereka seperti bang Ilham dan bang Farouq sekarang."
"Di Singapore mereka masak sendiri. Juga mencuci sendiri pakaian mereka. Rumah kami di Singapore tanpa asisten rumah tangga. Abang bergantian membersihkan rumah, masak dan mencuci,” Farah mengeringkan tangannya.
\*\*\*
Pagi ini Farah berangkat kerja dari rumah mertuanya. “Siap perang?” goda Jhon melihat istrinya sudah rapi dengan baju kerjanya.
“Siap enggak siap, harus siap!” jawab Farah diplomatis.
Tadi sehabis subuh Farah dan mertuanya membuat sarapan bubur sumsum. Sekarang mereka siap ke kantor masing-masing. Ragil malah sejak tadi sudah berangkat karena ada ujian pagi hari.
“Injih Bu, saya‘kan emang santai berangkatnya. Kak Jhon malah sedang ngelap mobil sehabis dicuci tadi,” Farah salim pada kedua mertuanya yang bersiap berangkat kerja.
Walau sudah rapi dengan baju kerjanya, Farah tetap menuju ke belakang. Dia membilas cuciannya di mesin cuci. Pagi tadi sambil menyiapkan sarapan dia sudah mencuci baju dengan mesin. Sehingga sekarang dia tinggal membilas dan mengeringkannya sambil menunggu Jhon selesai membersihkan mobilnya.
“Ayok,” ajak Jhon. Mereka pun langsung berangkat menuju kantor Farah.
“Pamit ya Kak,” Farah mencium tangan Jhon dan langsung turun setelah suaminya mengecup keningnya dengan lembut.
“Lho Om. Mau kemana pagi-pagi?” Farah bertemu dengan Husain yang hendak keluar kantor. Dia bertanya seakan tak tahu rencana Farhat.
“Ini, ayahmu menyuruh Om ke kantor pak Lesmana lalu ke kantor pajak untuk mengurus pajak mobil ibumu,” Husain yang sehari-hari disebut Husen memberitahu tugasnya pada Farah.
“Oke Om, hati-hati ya,” jawab Farah sambil masuk ke lift.
Tadi sebelum turun, Husain pamit pada Indra. “Saya hari ini tidak ada di kantor, kalau Bapak ada keperluan, mohon dibantu ya.”
“Lho … pak Husen mau kemana?” tanya Indra.
“Bapak menyuruh ke kantor pak Lesmana. Sesudah itu saya mau urus perpanjangan pajak mobil milik ibu. Takutnya saya tidak sempat balik ke kantor,” Husain memang sering minta Indra mendampingi Farhat bila dia harus keluar kantor seharian.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul TELL LAURA I LOVE HER itu ya.