
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
“Mbok, yang buat bebakaran siang ini, bumbu, sambel, kerupuk dan nasi sudah siap?” tanya bu Tiwi pada asisten rumah tangganya. Di dapur ini memang tiap hari memasak untuk semua pegawai kebun, tambak dan kandang yang berjumlah hampir empat puluh orang.
“*Sampun Bu. Degan nggeh sampun dipesen. Niki kulo beta aken gendis jawi.mbok menowo wontek sing ndamel rucuh. Tapi sirop njih pun siap*,” sahut simbok. \[ Sampun Bu \= sudah bu. Degan nggeh sampun dipesen \= kelapa muda juga sudah dipesan untuk dipetikkan. Niki kulo beta aken gendis jawi,mbok menowo wontek sing ndamel rucuh \= ini saya juga bawakan gula merah, siapa tahu ada yang mau bikin rucuh ( es kelapa muda dengan gula merah ). Tapi sirop njih pun siap \= tapi sirop juga sudah siap\].
“Mau ikut panen atau langsung bebakaran,” tanya Amie pada kedua kakak iparnya. Mereka sedang dirumah belakang untuk melihat kamar yang akan mereka tempati nanti malam. Tadi koper sudah dibawakan oleh pegawai pak Cokro.
“Aku sih pengen lihat panennya, bukan langsung makan,” jawab Farah.
“Sama lah. Aku juga pengen lihat panennya. Maaf. Sekali lagi maaf. Kalau hanya langsung makan, kan kita biasa dapatkan itu di rumah makan,” sahut Putri.
“Kalau begitu pakai lotion anti nyamuk dulu, lalu kita kedepan buat berangkat ke tambak. Aku ambil kruk mas Putut dulu,” Amie sengaja membawa kruk. Karena hanya sebentar Putut bergerak. Jadi tak apa pakai kruk.
“Ayok Mas, aku mau lihat ikannya diangkat,” Putri mengajak Putro segera berangkat ke tambak yang hari ini akan dipanen.
“Kalian sudah siap?” tanya Putut. Kalau sudah siap kita bisa berangkat sekarang. Pakai satu mobil saja,” Putut menyerahkan kunci mobilnya pada Jhon. Mobilnya bisa muat enam orang. Tak seperti mobil Putro atau mobil Jhon.
“Kita enggak bawa apa-apa?” tanya Putri bingung. Bukankah mereka akan makan siang di tambak?
“Nasi dan sambel nanti akan diantar saat makan siang Mbak. Sekalian antar untuk semua pegawai. Nunggu sayur untuk semua matang. Hanya yang ditambak hari ini tanpa sayur karena kita akan bebakaran,” sahut Amie.
“Owh gitu. Ya wis, kita berangkat yok. Aku enggak sabaran lihat panen,” sahut Farah.
“Put, kamu di depan saja, biar enggak susah,” Putro mengatur agar Putut duduk didepan dengan Jhon. Dia dan istri akan duduk paling belakang sedang Amie dan Farah di kursi tengah.
“Baik Mas,” Putut pun perlahan berjalan ke mobil dengan Amie yang selalu mendampinginya. Bahkan Amie baru mau masuk mobil saat sudah memastikan suaminya duduk di mobil.
Tentu saja apa yang dilakukan Amie jadi sorot andang Farah dan Putri. Mereka belajar bagaimana bakti seorang istri. Hal sepele yang membuat kehidupan rumah tangga menjadi makin manis.
“Hari ini akan panen apa?” tanya Jhon saat mereka melaju ke tambak.
“Gurame dan patin Mas,” sahut Putut.
“Gurame dibakar, digoreng lalu dibumbu asem manis enak. Patin dibakar, di goreng atau dibikin kuah asem juga enak,” sahut Farah yang memang bisa masak. Tak seperti Putri sang nyonya besar.
“Apa bumbunya ada kalau kita mau masak itu?” tanya Putri.
“Aku sudah siapkan semua Mbak,” sahut Amie. Dia memang memperkirakan akan membuat asem manis dan asem-asem selain ikan bakar dan ikan goreng.
“Paklek, nanti ikan dipisahkan lebih dulu yang buat makan ditambak dan langsung bersihkan ya. Soal dipotong atau tidak, tanya bojoku,” Putut memerintahkan para pegawainya yang sejak tadi sudah mulai mengeringkan air kolam agar panen bisa lebih mudah.
“Itu mengapa ada yang masih kecil? Apa itu anaknya?” tanya Putri dengan penuh perhatian.
“Bukan. Mereka semua dari benih yang seragam. Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan memang ada yang tidak rata seperti itu karena kalah bersaing."
"Nanti dia akan dipisahkan di kolam tersendiri yang isinya hanya sedikit. Biasanya dia akan segera tumbuh normal,” sahut Putut menjawab pertanyaan Putri.
Amie langsung mendekati pegawai yang menyiapkan ikan untuk diolah olehnya. Tanpa menunda dia langsung membalurkan bumbu untuk ikan yang akan dibakar dan digoreng.
Sementara yang akan diolah menjadi kuah asam langsung dia kerjakan. “Lho, kamu koq enggak ngajak aku masak?” Farah protes pada Amie yang sudah sibuk di dekat saung di area dapur tambak itu.
“Santai aja Mbak. Mbak ‘kan datang untuk lihat panen. Jadi jangan repot. Nanti yang bakar juga para laki-laki. Aku hanya bikin kuah asem dan yang digoreng saja,” sahut Amie sambil mulai menggoreng ikan.
“Paklek, *degane di papras yo*,” perintah Putut pada seorang pegawainya. \[ degane di papras yo \= kelapa mudanya di potong atasnya (dibuka ) ya\].
“Mbak-mbak itu degannya sudah dibuka. Silakan diolah menurut kesukaan sendiri ya,” Putut mempersilakan Putri dan Farah membuat minuman sendiri. Putro dan Jhon tentu tak perlu disuruh.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.q

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.