
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Nanti aku jemput saat maghrib ya,” jelas Jhon. “Sebelum maghrib aku on the way ke rumahmu dan aku salat di masjid dekat rumahmu saja, agar tidak buang waktu,” jelas Jhon.
“Mengapa tidak salat di rumahku aja Kak?” tanya Farah.
“Belum saatnya,” jawab Jhon sambil senyum. Mereka sedang menunggu menu yang dipesan datang.
“Terserah Kakak saja lah. Aku sedang tidak salat, jadi habis maghrib kita bisa berangkat,” Farah menjawab sambil menerima es kelapa dengan gula merah yang dia pesan. Selanjutnya mereka makan sambil saling memberi informasi jati diri mereka.
“Jangan berharap segera mendapat jawaban chat bila aku sedang kerja. Kamu tahu, kadang aku bisa 18 jam sampai 22 jam tidak bisa menyalakan ponsel.” Jhon memberitahu hal paling penting bagi kekasihnya. Karena itu adalah hal baru bagi Farah. Semua kerabatnya sudah tahu tentang hal itu.
“Iya Kak, aku akan mulai mengerti hal itu,” jawab Farah. Dia tahu pernah salah ketika menghubungi Jhon dan marah karena tak segera mendapat jawaban.
“Kak, kita sama-sama tahu, kita belum pernah berpacaran sebelumnya. Tapi tak menutup kemungkinan ada yang pernah dekat dengan kita, entah sebagai sahabat atau mantan orang yang akan menjadi tunangan seperti Farhan. Apa Kakak punya orang yang pernah mendekati Kakak? Aku tak ingin ada yang tidak suka denganku karena merasa Kakak aku rebut.”
“Aku enggak tahu. Kalau dari diriku tentu tak ada karena aku tak suka tebar pesona. Masalahnya kadang ada orang yang merasa lebih berhak untuk kita karena mengenal kita lebih dulu. Seperti Indra yang merasa lebih berhak pada dirimu karena dia lebih dulu kenal dirimu dan ayahmu.” Jhon mengatakan yang sebenarnya.
“Maksud Kakak?” tanya Farah.
“Semalam aku mendapat telepon yang mengatakan aku diminta mundur mendekatimu karena pria penelepon itu lebih dulu kenal kamu dan ayahmu. Dia tak menyebut jati dirinya dan suaranya pun disamarkan.”
“Tapi aku yakin dia adalah Indra. Kalau mau, aku bisa menghabisinya. Aku bisa menghancurkan kariernya dengan sekali sentil. Tapi aku menunggu kelanjutan ancamannya padaku,” Jhon mengatakan hal itu, seakan tidak terganggu atas ancaman yang diberikan penelpon gelap semalam.
“Kakak serius mendapat ancaman?” Farah menjadi tak enak karena hal itu terjadi. “Apa bukan dari Farhan Kak?”
“Apa Farhan masih berharap kamu dan Abimu mau menerima dirinya setelah apa yang terjadi saat hari pertunangan kalian dulu?” tanya Jhon.
“Iya juga ya Kak. Farhan sudah tak punya muka bertemu aku atau abi. Apalagi sampai mengancam seperti itu,” Farah akhirnya setuju dengan pikiran Jhon.
“Ya sekarang kamu hati-hati saja. Jangan pernah sendirian bila bertemu dia. Jangan pernah minum sembarangan apalagi minuman yang sudah kamu tinggal keluar ruangan walau minuman itu ada di atas meja kerjamu.”
“Dan kalau bisa ruanganmu dan ruangan abimu pasang CCTV dengan hanya kalian berdua yang tahu saat pemasangannya. Tidak juga diketahui satpam atau siapa pun. Dan CCTV itu hubungkan ke laptop abimu atau ponselmu. Aku koq merasa ada yang ingin merusak abimu dari dalam,” tanpa sungkan Jhon membeberkan apa yang dia pikirkan.
“Yaaaaaah, aku ‘kan hari Kamis baru mulai masuk. Dan baru turun tugas hari Senin. Mana bisa aku menemanimu? Bagaimana bila kamu bersama Ragil adikku? Nanti aku yang pesan CCTV.”
“Ragil menemani satpam di luar agar tidak tahu apa yang kamu kerjakan. Kamu menemani teknisi CCTV memasang di ruanganmu dan ruangan abimu. Ingat pasang di dalam dan depan pintu ruangan agar bisa terlihat seluruh kegiatannya,” usul Jhon.
“Baik Kak, Kakak atur saja dengan Ragil. Biar kami janjian dan mohon tukang CCTV nya dibriefing terlebih dahulu agar tidak bicara dengan para satpam.” Farah menyetujui rencana Jhon.
Entah mengapa walau baru kenal, dia percaya pada Jhon daripada dengan Indra yang lebih dulu dia kenal dan sudah menjadi kepercayaan ayahnya.
“Ok, sekarang kita kembali ke kantormu. Dan ingat selalu berhati-hati,” Jhon mengingatkan kekasihnya.
“Lihat siapa yang menunggumu,” Jhon melihat Indra dan Farhat berdiri di lobby kantor.
“Assalamu’alaykum Om,” sapa Jhon yang terpaksa turun dari mobil karena ada Farhat di lobby.
“Wa’alaykum salam Jhon, wah enggak ngajak-ngajak nih makan siangnya,” dengan ramah Farhat menjawab salam yang Jhon berikan dan menyambut uluran tangan Jhon untuk bersalaman.
“Farah ngajak makan bebek di tempat makan favorite Om. Maknyuss Om, saya juga jadi suka makan di sana,” jawab Jhon santai.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL INFIDELITY BEFORE MARRIAGE YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa….
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta