THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
MENU WAJIB PAK SISWOJO



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




“Ikan dan lalapnya tambah Yank,” pinta Putut.



“Yang goreng atau yang bakar?” tanya Amie. Dia tahu Putut lebih suka yang bakar.



“Goreng aja enggak apa-apa. Karena yang goreng sepi peminat,” sahut Putut. Sementara gurame asam manis sudah hampir habis. 1



“Nasi dan ikan masih banyak lho, jangan malu-malu buat nambah,” Wahyu yang sedang mengambil tambahan nasi mempersilakan semua untuk nambah.



“Aku bisa tambah gendut kalau maksinya seperti ini terus,” Putro menambah patin kuah asam untuk penutup makan siang kali ini. Patin kuah asam dia makan tanpa nasi.



“Iya bener. Serius kapan-kapan kita bikin acara begini lagi yok,” Farah juga senang dengan makan seperti ini.



“Aku tunggu kapan kalian punya waktu. Nanti aku pas kan dengan jadwal panenku. Dan kalau dua bulan lagi menu bisa ditambah dengan bebek bakar,” sahut Putut senang.



“Wah dua bulan lagi kamu sudah bisa panen Yu?” tanya Ragil tak percaya.



“Sebulan lagi pun siap kalau hanya butuh sepuluh ekor,” sahut Wahyu. 



“Nah kalau begitu bulan depan saja. Kalau dua bulan lagi kan sudah sibuk resepsi. Insya Allah bulan depan tambak ‘kan tetap panen,” Putut senang dengan wacana itu.



“Aku akan atur waktu dengan abi dan umi. Mereka pasti suka. Gimana kalau abi mengajak om Lesmana?” tanya Farah pada Putri.



“Kalau abimu yang ngajak kemungkinan besar papaku tak akan menolak,” sahut Putri.



“Mas Jhon, tentukan harinya, karena yang repot dengan jadwal kan cuma njenengan ( anda ),” Putut meminta Jhon yang memutuskan.



“Sepulang dari sini akan aku kabari. Aku lihat jadwal terbang dulu,” sahut Jhon.



“Tapi menunya tetap seperti ini ya. Natural. Jangan dibikin jadi heboh dengan menu yang bukan hasil panen,” pinta Farah.



“Iya menu akan tetap seperti ini ditambah bebek bakar saja,” sahut Amie. 



“Mas Putro tolong ajak ayah dan ibu juga,” pinta Putut pada Putro.



“Ya pasti dong ayah dan ibu harus ikut,” sahut Farah. Nanti aku akan berangkat dengan ayah dan ibu. Abi biar pakai mobil sendiri dengan sopir,” Farah langsung memutuskan dia lah yang akan bersama mertuanya. 



“Bulan depan jadwal panen tambak yang mana paklek?” tanya Putut. Masalahnya kalau para tetua ikut tentu harus tempat yang lebih luas.



“Yang siap yang di kulon masjid. Tapi kalau untuk tempat bebakarane  agak sempit kalau untuk banyak orang. Bebakarane yang cukup luas yang dekat SD,” sahut pegawai Putut.




“Tergantung tanggal. Kalau akhir bulan memang jadwalnya yang dekat SD itu,” sahut sang pegawai.



“Ya wis, kalau yang panen di dekat masjid lalu bebakaran dekat SD enggak apa-apa. Nanti biar yang mau lihat panen ke dekat masjid dulu. Yang masak saja yang standby di dekat SD,” sahut Amie memutuskan.



Putut hanya tersenyum manis mendengar istrinya memutuskan seperti itu. “Kita tunggu info dari mas Jhon aja ya,” Putut mengelus lengan istrinya kalau dia setuju dengan pendapat Amie untuk lokasi pertemuan berikutnya.


\*\*\* 



Mereka pulang menjelang sore. Sebelum menuju rumah Jhon sengaja memutar mobilnya untuk memperlihatkan keindahan desanya pada Farah dan Putri. Mereka sejak kecil tinggal di pusat perkotaan Solo.



“Langsung parkir ke rumah belakang saja Mas,” pinta Putut saat mobil memasuki daerah rumahnya. Sesuai permintaan Putut maka Jhon langsung memarkir mobilnya ke teras rumah Amie, bukan rumah pak Cokro.



Untungnya rumah sudah selesai direnovasi. Sekarang semua kamar mempunyai kamar mandi di dalam walau kecil sehingga bila ingin ke toilet malam tak perlu keluar. Atau antri saat mandi.



“Kita bisa lho bebakaran dihalaman ini,” Putro melihat halaman rumah milik ayah Amie ini. Sedang tanah milik ayahnya adalah yang sekarang disewa Wahyu untuk usaha. Mbah Harjo hanya memiliki dua anak. Maka tanahnya hanya dibagi dua. 



“Ya bisa aja. Tapi sensasi bebakaran langsung ditambak enggak ada Mas,” sahut Jhon.



Jhon sedang mengamati renovasi yang Putut lakukan. Tak banyak yang diubah. Hanya tiap kamar diberi toilet. 



Dapur juga dibagi dua. Dapur bersih didalam yang menggunakan gas. Dan dapur asli atau pawon yang menggunakan kayu bakar tidak dihilangkan. Karena para asisten rumah tangga lebih senang memasak dengan kayu bakar.



Putut mengganti lantai lama menjadi keramik berwarna cream. Sangat serasi dengan pilar dan kusen jati rumah kuno ini.



“Monggo Mas, Mbak. Kue ndeso ya begini,” Amie mengeluarkan pisang kepok kukus dan singkong goreng serta teh panas untuk teman ngobrol sore ini. 



“Aku paling suka singkong rebus yang digoreng seperti ini. Empuk,” sahut Farah.



“Iya, ibu sering banget nyiapin singkong seperti ini. Kalau kita datang tinggal goreng,” Putri mengingat di kulkas mertuanya tersedia rebusan singkong yang siap goreng.



“Karena itu menu wajibnya pakde setiap ngopi sore,” jawab Amie.



“Owh gitu,” Farah baru tahu kesukaan mertua lelakinya itu.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1674497423468.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.