
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
“Alhamdulillah,” Bu Diah dan bu Tiwi mengucap syukur mendengar khabar yang Wahyu berikan saat mereka selesai salat Subuh. Amie masih belum bangun. Obat yang dia minum ternyata benar-benar membuat dia istirahat cukup lama.
Sampai mereka semua selesai sarapan Amie tetap belum terjaga. “Kita ke rumah sakit setelah Amie selesai makan saja ya, saya sudah meminta bulek Harti membungkuskan makan sekalian untuk makan siang kita,” bu Tiwi tahu tak mungkin mengantarkan sarapan bagi yang ada di rumah sakit karena waktunya terlalu mepet.
Setidaknya makan siang nanti dia bisa bawakan nasi. Di rumah ini ‘kan memang setiap hari masak dalam jumlah banyak untuk semua pegawai kebun dan tambak. Jadi bukan masalah bila menambah porsi masak kali ini.
Jam sembilan pagi Amie baru terjaga, dia mencari suaminya dikasur. “Sudah bangun Nduk,” bu Tiwi menyapa Amie yang keluar dari kamarnya dengan kondisi fresh sehabis mandi.
“Kenapa aku dirumah Bu? Bagaimana dengan mas Putut?” tanya Amie cemas.
“Kita semalam pulang karena kamu tertidur. Mas-mu sudah sadar. Kita akan berangkat ke rumah sakit sehabis kamu sarapan ya?” jawab bu Tiwi sabar.
Mendengar akan berangkat bila dia sudah selesai sarapan, Amie langsung menuju meja makan dan segera sarapan.
Bu Diah yang baru kembali dari melihat pembangunan rumah simbah senang melihat Amie sudah fresh. “Sarapan Bude,” Amie menawarkan bu Diah sarapan.
“Bude sudah sarapan bersama ibumu, Saka dan Wahyu tadi pagi,” jawab Bu Diah lembut.
\*\*\*
Jhon dan Farah sampai di rumah sakit bersamaan dengan Wahyu dan rombongan. Mereka bertemu di area parkir. “Hallo Mie,” sapa Farah hangat.
“Apa khabar Mbak?” Amie pun menjawab sapaan kakak iparnya dengan hangat pula, dia membalas pelukan Farah.
“Hallo adek cantiknya Mas,” Jhon memeluk adik kesayangannya.
“Mas, malu,” Amie melepaskan pelukan Jhon. Dia tak enak pada Farah.
“Malu sama siapa? Sampai kapan pun kamu adik Mas yang paling cantik,” Jhon tak ingin Amie merasa kehilangan dirinya.
Putro sangat sayang pada adik kecilnya, hanya tak diperlihatkan seperti Jhon.
Dan Ragil dia menganggap Amie adalah teman bermain bukan sebagai kakak. Lagi pula walau Amie menyebutnya MAS, tapi usia Ragil lebih muda dua tahun dari Amie.
“Mas,” Putut bahagia melihat Amie yang berlari masuk ruang rawat dan langsung memeluk dan menciumi wajahnya.
Amie lupa dia datang bersama Jhon dan yang lainnya. Amie juga tak peduli di ruangan itu ada Ragil, pak Cokro dan pak Siswojo. Yang dia tahu hanya melihat suaminya sudah sadar.
“Mas enggak apa-apa. Enggak usah panik,” jawab Putut mencium kening Amie dengan lembut.
“Hei, gantian, aku juga mau nyalami Putut,” Jhon menggoda Amie.
“Ih, Mas ganggu aku aja,” tanpa malu Amie merajuk karena Jhon mendorong dirinya agar sedikit bergeser memberi ruang untuk dirinya menyalami Putut.
‘*Ibu tak pernah melihat kebahagian dan keceriaan seperti itu ketika kamu menikah dengan Angga Nduk*,’ bu Diah membatin melihat tingkah laku anak perempuannya itu.
‘*Bahkan ketika dengan Angga, kamu tak berlaku seperti itu Nduk*,’ pikiran pak Siswojo pun sama melihat Amie manja pada Putut dan berani memperlihatkannya dimuka umum.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul CINTA KECILNYA MAZ itu ya.