
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Putut masih belum sadar, semua berharap cemas. Saat ini Ragil dan kedua orang tuanya sudah sampai di rumah sakit.
“Kamu istirahat dulu Nduk,” bu Diah meminta Amie untuk pulang. Dia tak ingin Amie sakit.
Sejak kedatangannya Amie hanya diam. Perempuan itu sudah berhenti menangis. Tapi pandangannya kosong.
“Gil, coba hubungi mas Putro, suruh tanya ke temannya bagaimana menangani kondisi Amie saat ini,” pak Siswojo meminta Ragil menghubungi kakaknya. Biasanya yang menghubungi Widyo adalah Putut.
Bu Diah dan bu Tiwi mulai cemas melihat kondisi Amie. “Bu, barusan mas Putro minta temannya di rumah sakit ini untuk membawakan mbak Amie obat. Abis ini langsung minumkan dan kalau mbak Amie tidur suruh dibawa pulang dulu."
"Dan mas Putro minta ibu nemani aja di rumah sampai mas Putut sadar. Biar mbak Amie enggak cape dan enggak kepikiran.” Wahyu menjelaskan perintah Putro barusan.
“*Yo wis* Mbak, kita berdua habis ini pulang *ngancani* Amie. Biar yang disini para ayah dengan Ragil aja,” bu Tiwi mengajak besannya untuk ikut istirahat di rumah. ( yo wis \= ya sudah, - ngancani \= nemani ).
“Ini diminum dulu Nduk,” bu Diah meminta Amie meminum dua jenis kapsul yang baru saja diantarkan oleh seorang perawat suruhan dokter teman Putro.
Tanpa protes Amie meminumnya dan kembali duduk terpaku. Tadi semua sudah makan malam sehingga bu Diah berani memberi obat itu.
Tak menunggu lama Amie tertidur di kursinya. Wahyu dan Ragil menggendong Amie dan didudukkan di kursi roda yang sengaja Wahyu pinjam di ruang rawat Putut.
“Ayo Mas, nanti Mas Ragil bawa kembali kursi roda ini kesini,” Wahyu mengajak Ragil ikut sampai mobil ayahnya.
Pak Cokro dan pak Siswojo kehilangan gairah bicara, mereka berdua duduk dalam diam.
“Ini kalau mau kopi Om, Yah,” Ragil yang kembali dari mengantar Wahyu dan para wanita mampir membeli aneka gorengan dan kopi sebagai teman ngobrol mereka malam ini.
Ragil juga membeli satu kotak air kemasan agar tidak kekurangan minum. Karena dia membawa kursi roda dia tak perlu keberatan angkat kardus air mineral. Cukup dia taruh diatas kursi.
“Ayo Mas, monggo,” pak Cokro lebih dulu mengambil kopi yang Ragil belikan.
“Ayok.”
Tengah malam, tepatnya pukul 00.35 Putut terlihat menggerakkan telapak tangannya. Ragil yang berjaga sendirian langsung memencet bel memanggil perawat yang bertugas. “Kenapa Mas?”
“Ini Suster, tangannya bergerak,” jawab Ragil. Suster memperhatikan. Dia meraba denyut nadi Putut sambil melihat arloji ditangannya.
“Kita lihat sebentar ya Mas, sepertinya memang ada aktivitas tubuh, denyut nadinya mulai naik,” sang suster memperhatikan Putut dengan saksama.
“Ugh …,” Putut melenguh dan membuka matanya. Ragil langsung membangunkan ayahnya dan pak Cokro.
“Apa yang dirasa Mas?” tanya perawat pada Putut.
“Saya panggil dokter dulu,” sang perawat keluar ruangan.
“Kenapa aku disini?” keluh Putut.
“Mas apa tidak ingat kemarin tertabrak truk?” tanya Ragil. Saat bersamaan dokter dan suster yang tadi masuk kedalam ruangan.
“Selamat malam pak Putut,” sapa dokter jaga sambil melihat data Putut. Dia membaca nama pasien untuk menyebut namanya.
“Malam Dokter,” sahut Putut sambil menyeringai kesakitan.
“Apa yang Bapak rasa?” tanya Dokter.
“Sakit,” balas Putut cepat.
“Bagian mana saja yang sakit?” tanya dokter lagi.
“Kaki, punggung dan kepala,” sahut Putut.
Dokter melihat hasil CT Scan relative bagus. Dan hasil pemeriksaan menyeluruh hanya tulang kering kaki kiri yang retak. Tak ada laporan tentang kerusakan tulang belakang.
“Bapak ingat apa yang terjadi? Bisa jelaskan kejadian sebelum kecelakaan?” dokter memancing daya ingat Putut.
“Saya habis bertemu teman yang akan menampung hasil panen ikan di tambak saya. Saat akan pulang saya jalan dalam kecepatan sedang. Tiba-tiba saya terpental karena ditabrak dari belakang.” Putut menjelaskan dengan rinci.
Artinya dia tidak amnesia seperti dugaan kemungkinan yang akan dia derita ketika sadar.
“Baik, sekarang anda akan mendapat suntikan penahan nyeri lewat infus ya, dan saya minta anda mengisi perut karena sejak siang perut anda kosong. Bisa bahaya bila usus terus bergerak menggiling saat lambung kosong,” dokter jaga yang masih sebaya Putut menerangkan tindakan yang akan dia berikan.
“Selamat malam dan selamat rehat,” sang dokter pun pamit.
Pak Cokro memberikan roti coklat pada Putut, karena tengah malam seperti ini juga akan sulit cari makanan. “Kamu ganjel ini dulu.”
Tanpa diminta Ragil keluar untuk membeli tehh panas bagi Putut. Dia juga membeli martabak telur. ‘*Mas Putut sudah sadar, ingatannya tak terganggu*,’ demikian pesan yang langsung Ragil kirim pada Wahyu, mas Putro dan mas Jhon.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul TELL LAURA I LOVE HER itu ya.