THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
AKU SUDAH KOTOR!



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Tak terasa, sekarang sudah hari Minggu. Hari resepsi pernikahan Putro dan Putri.


Semalam Jhon, Wahyu, Ragil, Putut, pak Cokro, pakde Siswojo dan Bu Tiwi diskusi tentang penjagaan Amie agar tidak mendapat kejutan berulang.


Putro dan bu Diah tak ikut di pertemuan semalam karena mereka bertemu di lobby penginapan. Mereka membagi tugas dan berjanji saling mengawasi dan akan membuat “pagar” agar tidak sembarang orang bisa ngobrol dengan Amie.


Mereka harus mencegah Amie bersinggungan dengan orang yang diasumsikan akan bisa memicu trauma kembali.


“Mas Widyo pesan, bila hari ini Amie kembali terluka, akan lebih sulit penanganannya. Karena kejutan di Jumat siang belum dia semburkan. Masih dia pendam dan itu berbahaya,” demikian semalam Putut memberitahu kondisi Amie yang belum mau membuka mulut soal Angga dan bayinya.


“Tapi kalau Amie dikucilkan, itu juga tidak baik, karena dai akan makin lama terbuka pada kehidupan normal,” pak Cokro menjawab usul bu Tiwi yang meminta Amie tak usah hadir di acara resepsi besok.


“Bener, terlebih dia sudah tahu dapat baju seragam dan acaranya hari ini. Itu akan membuat dia makin merasa dibuang,” Jhon setuju pendapat mertua Amie.


Itu lah dasar pemikiran akan membuat “pagar” bagi Amie.


Pagi ini semua wanita sibuk berdandan maksimal. Yang pria juga tak lupa mematut diri. Hanya Amie yang santai. Dia dandan natural saja tanpa perlu polesan tebal. Sejak dulu memang dia tidak suka terlalu tebal riasannya.


Sejak semalam Amie banyak merenung. Dan Putut sangat memperhatikan perubahan istrinya itu. “Cantik enggak Mas?” tanya Amie manja.


“Kamu enggak perlu dandan yang neko-neko sudah sangat cantik RA. Terlebih di mata Mas. Cuma kamu yang paling cantik,” jawab Putut sambil menciumi leher Amie dari belakang. Leher jenjang Amie terekspose karena Amie menggulung sederhana rambutnya. Bukan dengan sanggul, hanya ditekuk-tekuk sesuai kemampuannya.


“Mas, jangan begini, lihat nih, Mas bikin aku merinding,” Amie memperlihatkan rambut di lengan bawahnya yang berdiri. Padahal tanpa diperlihatkan itu juga Putut tahu melihat kulit leher Amie.


“He he, abis kamu cantik banget Yank,” balas Putut.


“Udah ah, ayok kita keluar,” ajak Amie.


“Kita belum bikin foto selfie di kamar Yank, tunggu sebentar,” Putut membuat foto dia sedang mencium leher Amie selain foto lainnya.


“Aku jadikan ini wallpaperku ah,” goda Putut.


“Mas iiiiiiih. Enggak boleh. Itu cuma buat kita, enggak boleh dilihat orang lain,” Amie protes akan niat Putut. Dan Putut hanya tertawa menanggapi protes istrinya.


***


“Kamu mau resepsi kita nanti seperti ini?” pancing Putut.


“Aku pengennya meriah tapi di rumah. Enggak mau di gedung. Boleh enggak Mas?” jawab Amie memastikan.


“Kenapa?” Putut malah bertanya, karena umumnya perempuan ingin yang terlihat WAH.


“Rasanya aku lebih nyaman bila resepsi dibikin di rumah. Enggak perlu keluar uang sewa gedung. Enggak perlu pesan catering dan semua kerabat di kampung bisa datang. Kalau di gedung ‘kan terbatas orangnya dan waktunya,” Amie mengemukakan pendapat sederhananya.


Ketika menikah dengan Angga dulu juga dia menolak resepsi di gedung walau Angga dan bude Diah memaksa.


“Mas terserah kamu. Kalau kamu nyamannya di rumah, ya kita bikin di rumah. Trus kapan kita akan bikin resepsi?” pancing Putut selanjutnya.


“Kalau soal itu aku manut ( menurut ) ama Mas aja,” sekarang Amie yang terserah pada keputusan pasangannya.


“Kalau begitu nanti malam sebelum pulang Mas akan matur pada pakde dan budemu. Biar kita atur waktu resepsi ya?” Putut senang, selangkah lagi kemajuan yang Amie perlihatkan.


‘Apa Mas Putut ikhlas menerimaku yang pernah menikah dengan mas Angga dan pernah hamil?’ Amie sejak semalam sudah mulai bisa berpikir. Itu sebabnya Putut sering melihat istrinya merenung.


‘Mengapa dulu aku bodoh sekali mau menerima lamaran mas Angga padahal aku sama sekali tak pernah mencintai lelaki itu?’


‘Aku sudah kotor! Tanpa cinta aku menyerahkan tubuhku pada mas Angga. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai istri!’


Amie memandangi wajah suaminya. Dia merasa sangat rendah diri karena tidak selevel dengan Putut. Dilihatnya suaminya sedang berbincang ramai dengan kerabat mas Jhon yang pernah sama-sama kuliah di Bandung walau tidak satu kampus.


“Sekarang kamu balik ke desa? Wah dekat ya kalau mau main. Adikku sejak dulu naksir kamu. Biar sekarang dia pedekatenya mudah kalau kamu sudah tidak di Bandung lagi,” tanpa rasa bersalah kerabat mas Putro mengatakan keinginannya membuat Putut menjadi adik iparnya.


\===========================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta