Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
DI RUANG MAKAN



"Kenapa kalian masih berdiri?" Ibu Kiandra menepuk telapak tangan, membuat Kirana, Dave, maupun Anna terkejut.


Tanpa di suruh dua kali, pasangan suami istri itu sudah menempatkan diri di kursi masing-masing.


"Loh?" Ibu Kiandra menatap Anna. "Kenapa diam saja? Ayo, ikut duduk." wanita itu menarik sebuah kursi.


Anna ingin menolak, tapi ia merasa sungkan dengan Ibu Kiandra yang sampai mempersiapkan sebuah kursi untuknya.


"Duduk di sini." Sebelum Anna mengucapkan sesuatu, wanita itu sudah memerintah.


Dave dan Kirana saling pandang, karena tdak biasanya si Ibu bersikap seperti itu. Terapi, mereka masih menganggapnya hal lumrah, karena si Ibu memang terkadang baik hatinya keterlaluan.


"Te, terima kasih, Bu. Tapi... Tapi saya..." Anna gugup.


"Itu kursi Om Kiki!" seru Kama yang duduk di seberang meja.


"Apa Nenek bermaksud menjodohkan Om Kiki yang jomblo dengan Tante itu?" tunjuk Kalila pada Anna.


Raut wajah Anna seketika memerah.


"Husstt!" Kirana langsung menegur anak-anaknya agar tak berbicara sembarangan.


"Bicara apa kalian?" si Nenek berucap santai. "Nenek hanya suka dengan suasana meja makan yang ramai." ia tertawa sambil menutup mulut.


Namun, semua juga tahu, kalau Ibu mereka yang sudah berusia kepala tujuh sedang berbohong.


Anna sendiri akhirnya menurut untuk duduk di kursi yang di sediakan, meski kini ia tertunduk dalam dan tak berani berkata sepatah kata pun.


Dave yang duduk di hadapannya menatap tajam, dan hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar.


Sebenarnya apa salahku, kenapa suami Nyonya Kirana terlihat tak menyukai kehadiranku di rumah ini...?


batinnya tak tenang.


"Tidak usah tegang begitu." Ibu Kiandra mengelus pundak Anna lembut.


Anna menengadah dan melihat wanita penolongnya itu tersenyum cerah. Bukannya merasa lebih baik, ia malah semakin rikuh.


Ibu juga, kenapa mendadak menyuruhku ikut sarapan bersama?


Anna betul-betul di buat tak nyaman di ruang makan luas yang menyatu dengan dapur tersebut.


Perhatiannya bisa sedikit teralihkan, saat tak sengaja ia melihat ke arah jendela besar yang mengarah ke halaman belakang. Di situ terdapat angsa-angsa berbulu putih sedang berenang di danau berair jernih dengan latar pohon cemara yang tumbuh mengelilingi tembok pembatas dunia luar.


Bagaimana nasib tasku yang berisi uang dan identitas,nya...?


Anna malah teringat barang-barangnya yang hilang. Hingga seruan Ibu Kiandra mengagetkannya.


"Kami sudah menunggumu, nak!" muka Ibu Kiandra berseri-seri melihat kedatangan anak lelakinya.


Kiandra yang sudah rapi dengan celana panjang hitam dan kemeja lengan panjang warna biru muda, mengerenyitkan kening melihat Kirana, lalu ekspresinya berubah kaget, ketika melihat Anna juga berada di situ.


Pria itu berjalan pelan ke arah meja panjang penuh makanan, yang tinggal menyisahkan dua kursi tersebut.


"Om Kiki, di tunggu si Tante." gurau Kama begitu Kiandra duduk.


"Nenek kasihan sama Om Kiki yang nggak punya pasangan sendiri." Kalila menambahkan, lalu keduanya saling pandang dan tertawa cekikian.


Dasar tuyul-tuyul.


sunggut Kiandra dalam hati.


"Lebih kasihan Tante yang jadi pasangan Om Kiki galak." Kama pura-pura berbisik sembari melirik Kiandra.


"Pol galak-nya." Kalila ikut berbisik dan mengangguk beberapa kali.


Kirana yang tadinya masih kesal karena kejadian semalam, memalingkan muka sembari tertawa kecil, sedangkan suaminya berkali-kali memperingatkan untuk tak ikut tertawa.


"Nanti Kian tersinggung." bisiknya.


"Siapa yang bilang Om Kiki galak?" ibunya malah menanggapi. "Om Kiki hanya sedikit pemalu soal wanita." ia menambahkan.


"Bu," Kiandra yang duduk di samping Anna protes.


"Nenek yang tidak tahu!" serobot Kalila. "Kami pernah melihat Om Kiki marah-marah kepada seorang wanita."


"Betul!" tandas Kama cepat.


"Benarkah?" Neneknya pura-pura terkejut.


"Itu karyawan yang berbuat salah dan pantas di marahi, Bu." Kiandra yang biasa cuek, kini harus menjelaskan, karena ia tak mau terlihat buruk di mata Anna.


"Tapi, sampai nangis lo, Nek." ujar Kalila.


"Nggak nyangka Om Kiki begitu." Kama melirik lagi ke arah Kiandra dengan tampang sedih yang di buat-buat.


Kiandra bertanya lewat tatapan mata.


Tetapi, Kama dan Kalila melengos dan pasang wajah sebal padanya.


"Tante, tante." panggil Kalila.


Wanita yang semula cuma merunduk dengan kedua tangan di bawah meja itu mengangkat muka.


"Tante harus siap-siap tisu kalau dekat Om Kiki." anak gadis berkuncir dua itu menganjurkan.


Anna tak mengerti, sedangkan Kiandra yang duduk di samping sudah memberi kode berkali-kali, agar duo kembar itu berhenti mengoloknya. Tetapi, lagi-lagi mereka tak mengubris.


"Tante butuh tisu untuk menyeka air mata, karena pasti akan di buat nangis sama Om Kiki." lanjut Kalila serius.


"Om Kiki itu Raja Tega!" timpa Kama sambil menjatuhkan punggung ke kursi dan bersedekap.


Anna menoleh ke arah Kiandra, membuat keduanya saling pandang.


"Tuh, lihat! Belum apa-apa Om Kiki sudah marah, kan?" tunjuk Kalila pada si Om.


"Siapa yang marah? Wajahku memang begini." ujar Kiandra tak bisa lagi menyembunyikan rasa kesal.


Mendengar ucapannya, seiri ruangan tertawa. Tak tak terkecuali Anna yang sampai menutup mulut untuk meredam suara.


Baru kali ini ia melihat Kiandra yang menurutnya sangat superior di jadikan bulan-bulanan oleh anak kecil, dan lucunya, apa yang di tuduhkan anak-anak itu adalah benar.


Mulai sekarang aku akan membawa tisu untuk berjaga-jaga.


batin Anna geli.


Kiandra yang awalnya kesal, perlahan keningnya mengendur saat melihat Anna tampak senang


Aku membelikannya ini-itu dia tetap diam. Giliran ada yang mengejekku, dia tertawa. Dasar wanita.


batin Kiandra dongkol.


Namun, sejujurnya dia juga ikut senang melihat Anna ceria, walau yang di tertawakan adalah dirinya.


Menang sialan dia!


ia mengumpat lagi di dalam hati.


Tanpa Kiandra tahu, diam-diam si Ibu yang duduk di ujung meja melihat dirinya yang terus- menerus memandangi Anna dengan ekspresi yang berubah-ubah.


Pandangan wanita tua itu sulit di jabarkan, tapi bibir dengan sudut-sudutnya yang sudah mengendur itu mengulas senyum lembut.


"Bu, mana Dad?" tanya Dave yang duduk paling dekat dengannya.


Si ibu sedikit kaget, sebelum akhirnya bisa menguasai suasana. "Di ruang kerjanya, sedang membicarakan sesuatu bersama Victoria." ia menjawab.


"Victoria... Bodyguard Kian?" Dave memastikan.


Ibunya mengangguk. "Akhir-akhir ini Daddy mu sibuk sekali. Tadi juga baru sampai rumah jam tiga pagi, lalu jam enam sudah rapi dan bilang ada meeting kecil bersama Victoria." ia menjabarkan.


Dave termenung.


Aneh sekali... Dad sudah lama pensiun dan enggan ikut campur urusan kantor. Tapi... kalau Victoria, berarti ada kaitannya dengan Kian...?


Pria lima puluh tahun itu diam-diam memperhatikan adik iparnya itu dari tempatnya duduk. Tetapi, dia di buat resah oleh interaksi Kiandra dan Anna.


Apa Dad sedang menyelidiki wanita itu?


tanyanya pada diri sendiri.


"Aku lappaarrr...."


"Maakaaann...."


Perhatian Dave segera teralih kepada anak-anaknya yang sudah merengek dengan kedua tangan memegang alat-alat makan.


Istrinya berusaha mensabarkan, sambil memberi tahu tentang peraturan di keluarga yang mengharuskan seluruh anggota berkumpul dahulu, baru sarapan bisa di mulai.


"Kakek kemana, sih?" tanya Kama setelah si ibu selesai memberi tahu.


"Cucunya sudah lapar ini!" sambung Kalila sebal.


"Maaf, Cucu-cucu Kakek yang cantik dan ganteng." Tiba-tiba Ayah Kiandra sudah berjalan ke arah meja makan dengan senyum khasnya.


Kama dan Kalila melonjak gembira sembari mengangkat tinggi-tinggi sendok dan garpu. Semua terhibur dengan tingkah si kembar yang kadang lucu tapi juga konyol.


Mungkin, di ruang makan itu hanya Anna yang merasakan ketegangan sampai perut mulas, saat pria berambut putih itu duduk satu meja dengannya.