Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
KATA HATI



"Sa, saya..." Anna berusaha mengucapkan sesuatu. Tetapi, ia sendiri bingung hendak berkata apa. Sementara  pria itu terus memandangi dengan kedua bola matanya yang berwarna cokelat terang.


"Tidak apa-apa belum ada keinginan untuk menikah." si Ibu sudah berjalan ke arah mereka, lalu mengelus pundak Kiandra dan mengusap-usapnya. "Jalani saja dulu, pasti dengan berlalunya waktu, keinginan itu akan datang sendiri." ia tersenyum.


Kiandra terpana oleh air muka Ibunya yang tulus. Seolah apa yang ia ucapkan tadi adalah hal yang sudah begitu di tunggu-tunggu. Padahal yang sebenarnya, ia sendiri tak yakin, apa yang sedang ia rasakan itu benar cinta atau sekedar rasa penasaran, sebab awal ia tertarik dengan Anna karena wanita itu sekilas mirip Kirana.


"Delana..." kini giliran Ibu Kiandra yang menangkup kedua tangan wanita tersebut.


Anna yang sedari tadi tertunduk, sekarang mengangkat muka dengan ekspresi gundah.


"Bu, maaf... saya..." ia masih saja merasa ketakutan akan identitas dan kebohongannya.


Si Ibu tersenyum. "Tidak apa-apa." ia menenangkan. "Kami menerimamu di sini."


"Ti, tidak.. saya..." Anna mengigit bibir bawah.


Bagaimana kalau Tuan Besar menyelidiki latar belakangku...? Lalu.. akan kemana lagi aku dengan keadaan tak punya uang dan Rico...


Membayangkan apa yang akan terjadi membuat kedua mata Anna berkaca-kaca.


Seharusnya dia tidak menjadikanku tameng, agar terhindar dari perjodohan atau semacamnya.


Ia yang salah paham, menyalahkan Kiandra dalam hati.


"Hei, jangan suka mengigit bibir bawah seperti itu." tegur Ibu Kiandra perlahan.


Anna kaget, karena tanpa sadar ia sudah tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Ibu Kiandra kembali tersenyum. Ia seperti paham akan apa yang di khawatirkan gadis itu, sebab ketika muda, ia pun pernah mengalaminya. "Kami menerima mu di sini." ucapnya kemudian.


Kedua mata Anna membulat sempurna.


"Kami menerima apa adanya dirimu, tanpa embel-embel kau siapa dan darimana." Ibu Kiandra kembali berkata.


"Sayang." sela Ayah Kiandra sembari bangkit dari duduk.


Namun, istrinya dengan cepat menoleh ke arahnya dan memberi isyarat agar ia tak berkata apapun.


Pria pemilik jaringan bisnis Marthadinata Corp serta pemegang saham terbesar di Sanjaya Company itu langsung terdiam.


Kedua anaknya yang melihat hal tersebut saling lirik tanpa berkata apapun. Tapi, tanpa di ungkapkan juga mereka sudah saling paham. Di luar Ayahnya boleh jadi seekor harimau yang di takuti. Tetapi di dalam rumah, ia rela menyembunyikan taring demi pasangannya.


"Rukun-rukun kalian." Ibunya kembali fokus kepada pasangan tersebut. "Kian, jaga Delana. Dan Delana, mohon maklumi jika Kian terlalu egois atau seenaknya sendiri."


"Bu." kali ini Kiandra bereaksi. Ia malu di katakan seperti itu, karena ia merasa sama sekali tidak pernah egois.


"Ibu akan siapkan gaun yang indah untukmu." Si Ibu mengabaikan Kiandra dan tetap fokus kepada calon menantunya. "Supaya saat pesta nanti, kau bertambah cantik dan Kian..." ia melirik ke arah putra semata wayangnya. "akan segera menjadikanmu istrinya." ia sumringah luar biasa.


Jika sudah seperti ini, Ayah Kiandra tidak akan mungkin bertindak tegas. Ia terlalu sayang kepada sang istri, dan melihat kebahagiaannya tersebut, membuat ia tak mungkin menentang alih-alih mencurigai Anna sebagai salah satu orang yang di kirim oleh sisa anggota keluarga itu.


"Sayang, kemarilah." panggil istrinya. "Delana masih sungkan karena perkataanmu tadi." ia melanjutkan.


Ayah Kiandra menyembunyikan kekalutannya dengan sebuah senyuman, kemudian berjalan mendekat. "Delana, maaf, jika tadi ada ucapan yang kurang berkenang." ia menatap gadis tanpa riasan apapun itu baik-baik.


Di dekati oleh pria yang dahulu menjadi cinta monyetnya, membuat Anna sedikit gemetar karena grogi. Tetapi, sayangnya hal tersebut di anggap sebuah ketakutan oleh Kiandra.


"Sudah!" ujar Kiandra sembari menyambar tangan Anna yang hendak berjabat tangan dengan si Ayah. "Aku mau bawa dia pergi." tandasnya seraya menyeret wanita itu meninggalkan ruangan.


"Mirip siapa itu?" ucap Ibu Kiandra sembari menahan geli.


Suaminya yang berada di sebelahnya angkat bahu dengan ekspresi pura-pura bodoh.


Dave pasti kaget jika aku beri tahu.


batin Kirana sambil menghela nafas panjang. Kini ia maklum kenapa adiknya bisa berada di kamar Anna, meski ia tetap tak membenarkan perbuatan tersebut.


Acara sarapan pagi yang di rancang oleh Ibu Kiandra setelah melihat putranya itu berduaan malam-malam di beranda rumah, sukses membuat ia tersenyum lega.


Kian akan menikah.


batinnya girang, lalu mengandeng lengan suaminya dan menatapnya.


"Kau senang?" pria tua berambut salju itu bertanya.


Istrinya mengangguk dengan senyum terkembang.


.


Sementara itu di ruangan lain yang menghadap kebun bunga mawar putih, serta searah jalan ke rumah kaca, Anna segera menepis tangan Kiandra begitu tak ada yang memperhatikan.


"Kenapa Anda berkata begitu di depan semua?" tanyanya marah.


Kening Kiandra bekerut, tetapi ia tak langsung menjawab.


"Kenapa harus saya? Apa kurang cukup Anda mempermainkan saya selama ini?" ia kesal mengingat Kiandra yang tiba-tiba hadir dan menganggu hidupnya yang hanya menginginkan ketenangan.


"Siapa yang mempermainkan?" ujar pria itu marah. "Kau pikir aku bocah yang  hobi mainan, hahh?!" ia bersedekap dengan raut angkuh.


Sebenarnya Kiandra juga tak mau hal itu terjadi. Jujur ia sangat malu mengakui perasaannya tadi. Tapi ia terpaksa, karena emosinya terpancing oleh si Ayah. Terpancing karena apa? Ya karena gadis kurus, pucat, gagu, tukang melamun ini. Kiandra gemas, sampai-sampai ia mengacak rambutnya sendiri.


"Saya ini tidak pantas untuk Anda..." suara Anna getar karena menahan sedih. "Saya juga tidak pantas menerima kebaikan keluarga Anda... Jadi... jadi tolong.. bilang kepada Ibu, kalau sebenarnya tadi Anda hanya bercanda... pasti.. pastii..." Anna tak melanjutkan kalimatnya dan malah mengigit bibir bawah, lalu mengkerut takut, sebab Kiandra memelototinya dengan kedua alis tebalnya yang hampir menyatu.


"Ngomong saja terus, sialan!" umpat pria berperawakan tinggi tersebut.


Anna mundur sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang karena intonasi suara Kiandra yang meninggi.


"Aku kan sudah pernah bilang, kau memang bukan tipe ku." Kiandra berkata lugas. "Kau juga tidak pantas, tidak sesuai, tidak pas, tidak cocok. Di mataku, dari satu sampai sepuluh, nilaimu satu!" Kiandra menunjukkan jari telunjuknya.


Anna yang awalnya bersedih hati, seketika mulutnya mengangga, serta ada sedikit perasaan tidak terima di cap demikian.


"Tapi, masalahnya..." Kiandra sengaja memotong kalimatnya sendiri.


Anna masih tertegun.


Pria itu melangkah mendekat, lalu membungkukkan sedikit punggungnya agar wajah mereka sejajar.


Anna sampai menahan nafas, saat muka mereka kini saling berhadapan.


"..aku menyukaimu." ucap Kiandra dengan sorot tajam menatapnya.


Kedua mata Anna melebar.


"Kau bisa apa, kalau aku menyukaimu?" Kiandra menarik sudut bibir.