
"Kenapa kau menambah slot barang dari Golden Hope tanpa persetujuanku?" tanya Kiandra begitu sampai di ruangannya.
Pria itu kaget ketika rapat tadi mendapat laporan perihal kejadian tersebut, pasalnya ia tak tahu menahu, sehingga ia sendiri tak puas dengan jawaban yang di berikan dan memicu perdebatan sampai rapat selesai, serta memberi kesan kurang bertanggung jawab atas apa yang di putuskan.
"Chief, Anda sendiri yang bilang tidak mau di ganggu seminggu ini. Saya juga sudah berusaha menghubungi, tapi Anda tidak merespon, sedangkan saya harus segera memberi keputusan." Aldo yang duduk di hadapannya beralasan.
"Sebelumnya kita tidak ada pembahasan tentang hal ini!" tegur Kiandra tegas.
Pria dengan jas warna hitam itu tertunduk.
"Kenapa mendadak mereka bisa mendapat jatah lebih? Sedangkan distributor-distributor lain yang lebih lama bersama kita, untuk mendapat slot lebih itu perlu pengajuan yang lama dengan mempertimbangkan banyak hal." Kiandra berkata panjang lebar.
"Maaf, Chief. Tapi, waktu itu saya pikir tidak masalah, karena produk dari PT mereka memang terbukti pasarannya bagus." Aldo masih berusaha berdalih.
Kening Kiandra berkerut menatap Personal Asistennya tersebut. "Kenapa kau jadi sebodoh ini?" tanyanya kesal.
Aldo kembali tertunduk tanpa berani mengatakan apapun.
"Masalahnya, ini bukan cuma di keuntungan. Tapi juga soal menjaga hubungan baik!" Kiandra sampai memukul meja sangking marahnya. "Kau tidak dengar para Manager cabang itu bilang apa di rapat tadi? Disributor lama protes! Mereka menganggap kebijakan kita timpang sebelah!"
"Maafkan saya, Chief. Saya tidak berpikir panjang." Aldo terlihat menyesal.
Kiandra mendengus dengan muka merah padam. Tetapi, semua sudah terjadi. Percuma dia marah-marah, toh tak akan merubah apapun. Dalam hal ini ia juga salah, karena ia terlalu memasrahkan semua kepada Personal Asistennya tersebut.
Ini gara-gara aku terlalu sibuk mengurusi perempuan!
batin Kiandra kesal.
"Chief, saya akan mencoba bicara dengan para Distributor untuk meminta maaf. Lalu saya juga akan menghubungi Pak Rico, soal slot barang-barangnya yang terlalu banyak. Barangkali dengan begitu..."
"Tidak, tidak." Kiandra mengeleng cepat. "Keluar saja sana!" perintahnya sembari memalingkan muka.
Muka Aldo langsung lesu. "Maafkan saya, Chief." ucapnya pelan.
Kiandra cuma mendengus.
"Saya permisi, Chief." Aldo bangkit dari duduk. Tapi, Kiandra tak acuh dengan kedua alis hampir menyatu.
Melihat sikap pria dengan kemeja maroon yang di rangkap jas dari brand Bottega Veneta itu, Aldo tetap menunjukkan rasa hormat dengan sedikit menundukkan kepala saat berpamitan.
Tepat saat ia meraih handle, suara ketukan dari luar terdengar. Aldo segera membuka pintu tersebut, dan mendapati seorang karyawati sudah berdiri di ambang pintu.
"Selamat siang, Pak." ia tersenyum.
"Siang." Aldo membalas sapaan tersebut, sebelum menyingkir dan mempersilahkan pegawai yang menjabat sebagai Sekretaris itu masuk ke dalam ruangan.
"Selamat siang, Chief." ucap karyawati tersebut begitu sampai di depan meja Kiandra.
Chief nya tersebut hanya melirik dengan sorot angker, membuat nyali wanita berambut pendek itu seketika menciut.
"A, aanu..Chief...aa..." suara-nya mendadak menghilang, saat kening Kiandra berkerut dengan kedua mata makin menyipit.
"Kau normal, kan? Kenapa bicaramu gagu seperti itu? Belum makan atau bagaimana?" Chief nya itu ngomel, karena gaya bicara wanita itu mengingatkan pada Anna.
"Maaf, Chief!" karyawan-nya itu langsung menjawab lugas.
Lagi-lagi Chief Executive Officer muda itu mendengus dengan raut kesal.
Cuma aku tinggal seminggu, sudah kacau seperti ini. Bagaimana kalau aku tinggal satu bulan?
"Chief, Pak Rico ingin bertemu." kata Sekretarisnya itu hati-hati.
Kening Kiandra makin berkerut. "Bilang saja aku sibuk." ucapnya kemudian.
"Eemm..beliau ingin menyampaikan terima kasih..." si Sekretaris ragu menyampaikan.
"Terima kasih?" kali ini Kiandra menoleh ke arahnya.
Wanita bermake up full itu mengangguk. "Beberapa hari lalu Pak Rico mendapat undangan Pesta Anniversarry Tuan dan Nyonya Besar, untuk itu... beliau ingin menyampaikan langsung rasa terima kasihnya kepada Anda." ia menjelaskan.
"Undangan itu tidak bersifat pribadi, tapi memang untuk semua karyawan dan relasi. Untuk apa dia ingin berterima kasih secara pribadi? Apa dia tidak ada kesibukan lain yang lebih penting?" Kiandra tak habis pikir.
Sekretarisnya yang serba salah hanya menunduk, sembari dalam hati berdoa agar secepatnya bisa keluar dari ruangan tersebut.
Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat.
ia mengerang dalam hati.
.
Sementara itu di luar ruangan. Tampak Aldo dan Victoria berdiri berhadapan. Seperti biasa, pria itu akan mengoda bodyguard tersebut, jika tak sengaja bertemu.
"Guten Morgen, Vic." ia menyapa ramah dengan senyum lebar dan memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi bak iklan pasta gigi.
Victoria tak menjawab, serta tetap dalam posisi tegak dengan kedua tangan terkait di belakang.
"Ayolah...aku sudah menggunakan bahasa Jerman. Kenapa kau tetap tak menjawab?" Aldo pasang wajah kecewa yang di buat lucu.
Namun, bodyguard bertubuh tinggi langsing dalam balutan baju serba hitam ketat yang membungkus seluruh badannya itu masih tak merespon.
"Aku pikir...hubungan kita sudah lebih dekat. Tapi, seminggu tak bertemu, kau jadi membeku lagi padaku." Aldo melipat kedua tangan ke dada sambil mencondongkan wajahnya ke arah Victoria.
Tetapi, wanita itu tetap tak bergeming.
Aldo menghela nafas, seraya menarik diri. "Kau dengar ya, aku di marahi Chief?" tanya-nya kemudian.
Kali ini Victoria memberi sedikit respon lewat gerakan mata. Tapi, mulutnya tetap terkunci tak mengatakan apapun.
"Aku bodoh karena tak memperimbangkan banyak hal." Aldo bercerita sendiri. "Seharusnya aku tetap meminta pertimbangan Chief. Aku pikir Chief betul-betul butuh istirahat, karena Chief jarang sekali cuti, makanya aku tak mau menganggunya. Tapi...hal yang aku anggap sepele, ternyata jadi masalah seperti ini." ia berkata dengan mimik lesu.
Tangan Victoria yang tersembunyi di balik punggung terkepal, meski ekspresinya masih datar seperti biasa.
Aldo melihat ke arahnya, sambil berharap wanita itu akan memberinya dukungan. Tetapi, pandangan Victoria tetap lurus, tanpa terlihat berminat akan apa yang ia sampaikan.
"Sudahlah...percuma aku curhat padamu yang tak peduli padaku." pria berkemeja biru tua yang di rangkap jas hitam dari brand Salt and Papper itu mengibaskan tangan, lalu berjalan lunglai meninggalkan Victoria yang masih berjaga di depan ruangan khusus CEO.
Orang tuanya mengatakan dia bersih. Tapi, benar tidaknya sedang aku selidiki. Aku tak mau bertindak gegabah seperti dulu, karena ini menyangkut orang yang Kiandra percayai.
Victoria teringat pesan Tuan Besarnya beberapa hari lalu.
Perlahan kedua mata Victoria yang berwarna hazel meredup. Jauh di relung hati, ia berharap Tuan Besarnya itu tidak akan mendapatkan bukti otentik apapun, yang mengarah kepada orang yang di cintainya adalah benar sisa dari keluarga yang di habisi Ayahnya sendiri.
Tapi, bagaimana jika itu benar?
batin Victoria perih membayangkan apa yang akan terjadi.