
"Pakai itu!" perintah Kiandra sembari melempar celana pendek miliknya tepat ke pangkuan Anna.
Namun, wanita yang tengah duduk di pinggir ranjang itu mengacuhkannya dan malah menatap dengan ekspresi masam.
"Kenapa masih diam? Kau tak ingin pulang?" Kiandra mulai kesal.
"Jawab dulu pertanyaan saya." Anna bangkit dari duduk, membuat paha hingga kaki mulusnya yang tak bercela seolah di pamerkan.
Kiandra membuang muka, serta berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran kotor yang sedari tadi mengelitik.
Anna berjalan mendekat. "Apa yang terjadi semalam?" ia kembali bertanya.
Kiandra tak menjawab, karena ia sedang sibuk meredam godaan di depan mata. Tapi bagi Anna, ia terlihat seperti menghindar.
"A, apa saya mabuk?" tanyanya ragu-ragu.
Kiandra langsung menoleh ke arahnya.
"Benar? Semalam saya mabuk?" Anna memastikan dengan raut gelisah.
"Iya." jawab Kiandra singkat, sembari berharap wanita itu segera memakai celana pendek yang ia berikan. Karena percayalah, wajah polos tanpa riasan, serta kemeja warna putih yang kebesaran itu, jauh lebih bisa melemahkan imannya.
Tetapi, Anna malah menatap dengan kedua matanya yang mulai berair.
Kenapa lagi dia?
Kedua alis Kiandra hampir menyatu.
"Jadi... yang saya minum semalam... Anda dan teman-teman Anda..." Anna memegangi leher, lalu meremas kain baju yang menyembunyikan bekas kiss mark di tubuhnya.
"Kita bahas soal itu nanti." Kiandra berkata. "Sekarang cepat, pakai celana yang aku berikan. Lalu aku antar kau pulang." lagi-lagi Kiandra menghindari bertatapan mata dengan wanita itu.
Anna menggigit bibir bawah dengan hati remuk, membayangkan hal tak senonoh apa yang pria itu dan teman-temannya lakukan.
"Hei, berapa kali aku bilang, jangan menggigit bibir seperti itu!" Kiandra yang gemas meraih pipi wanita itu dan mengusap bibirnya dengan jempol tangan.
Tetapi, Anna malah menangis dan hal itu membuat Kiandra makin frustasi.
"Kenapa malah menangis? Itu hobi mu atau bagaimana?" ia mengusap wajah serta mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Saya tidak minum alkohol, tapi kenapa bisa mabuk? Kenapa Anda dan teman-teman Anda..." Anna tak bisa melanjutkan kalimatnya, karena terburu tangisnya yang pecah.
Ya Tuhan, tolong aku...
Kiandra menghela nafas sambil memandangi langit-langit ruang.
Anna kecewa melihat respon Kiandra yang seolah menggangap 'kejadian semalam' cuma hal remeh.
Iya, dia sudah mendapat apa yang di mau. Memang ini lah tujuannya.
batin Anna pahit.
Sudahlah, toh ini bukan yang pertama. Dan kau memang cuma barang bekas yang layak di jadikan piala bergilir.
pikiran Anna mulai ngawur.
Ia terisak, lalu mengusap pipinya yang basah berkali-kali, kemudian mengambil celana pendek yang Kiandra lempar tadi di tempat tidur.
"Hei, kenapa jadi seperti orang putus asa begitu?" Kiandra meraih pergelangan tangan Anna supaya menghadap ke arahnya.
Tapi Anna tak mengatakan apapun, dan cuma memandanginya dengan wajah sembab.
Hati Kiandra langsung nyeri, sebab raut Anna saat ini sama persis dengan ketika ia hendak melompat dari jembatan penyebrangan.
"Ja, jangan sedih terus." ucap Kiandra yang selalu gagu jika bersikap romantis.
Bukannya terharu, Anna malah tertunduk dengan bahunya yang gemetar menahan tangis.
Kiandra kembali menghela nafas. Semalam ia sudah tak bisa tidur, karena berkutat dengan hasrat di ubun-ubun, serta rasa penasaran akan nama Delana Amirah Petra yang wanita itu sebutkan. Kemudian ketika mandi pagi tadi, ia harus menahan perih di kedua lengannya yang terdapat banyak luka cakaran. Dan sekarang, di saat ia akan berangkat bekerja untuk menyelesaikan segala problematik perusahaan, wanita ini kembali 'membuat gara-gara'.
Rasa-rasanya Kiandra yang sedari awal sudah enggan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, ingin mundur saja dan kembali ke prinsip awal, yaitu melajang seumur hidup.
Seperti Kirana dan Dave. Cinta cuma membuat bodoh dan menghilagkan logika berpikir.
begitu dahulu ia selalu mencibir.
Namun, kali ini Kiandra harus mengakui kebodohan dan logikanya yang mulai terkikis.
"... Aku minta maaf." ia berkata pelan.
Anna mengangkat muka memandangnya.
"Teman-temanku yang melakukannya." Kiandra tak enak. "Seharusnya... aku memang tak membawamu ke tempat seperti itu. Aku... minta maaf." ia menatap Anna dengan kedua bola matanya yang berwarna cokelat terang.
Dahulu setiap melihat kedua bola mata itu, Anna selalu teringat akan Ayah Kiandra. Tetapi, sebenarnya ia tahu, bahwa meski sama, tapi sorot keduanya berbeda. Kiandra yang kasar, tapi memiliki sinar mata yang jujur dan terasa lebih indah jika di pandang.
Anna meneguk ludah, kemudian memalingkan pandangan. "Kenapa ada kiss mark di tubuh saya?" ia bertanya.
"Apa?" Kiandra kaget.
Kening Anna berkerut, lalu mengusap sisa air mata di pipi. "Sudahlah..." ia mengambil celana pndek milik Kiandra, lalu berjalan gontai menuju kamar mandi untuk memakainya.
Mendadak muka Kiandra merah padam mengingat kejadian semalam. Di mana saat itu ia sempat menciumi beberapa bagian tubuh, dan bahkan sempat ******* dan meng*lum aset pribadi wanita itu.
Jangan-jangan semua itu berbekas?
Kiandra membeliakkan kedua mata. Kemudian mengeluh, sambil menepuk jidat dan wajahnya sendiri.
Kenapa aku bisa melakukan hal serendah itu?
ia tak habis pikir.
.
Anna keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah yang ia gelung, serta kemeja kedodoran dan celana pendek yang panjangnya menjadi di bawah lutut setelah ia pakai.
Anna tak berkata apapun, ketika berjalan melewati Kiandra dan memasukan baju biru model kemben nya yang nampak lusuh ke dalam sebuah tas kain yang tak sengaja ia temukan.
Kiandra melihat apa yang di lakukan wanita itu dengan ekor mata, dan malah jadi gelisah sendiri.
"Ayo." ajak Anna setelah siap.
Kiandra menoleh ke arahnya, kemudian perlahan berjalan mendekat.
Tanpa sadar Anna mengencangkan pegangannya pada tas kain yang ia tenteng, saat pria itu makin maju.
"Anna." Kiandra memanggil.
"Eemmm... aku..." Kiandra memijit pelipis, lalu meneguk ludah dengan susah payah, dan terakhir bersedekap sembari berusaha menatap mata wanita di depannya itu.
Anna sendiri tak begitu memperhatikan kegelisahan Kiandra, sebab ia tengah berkutat dengan rasa was-was yang membuatnya hampir lupa bernafas.
"Anna."
Kiandra kembali memanggil, membuat ia tersentak kaget, karena tiba-tiba jarak mereka sudah begitu dekat.
"A, aku... aku memang sempat sedikit.. emmm.. anu..." pria itu berdehem beberapa kali karena suaranya hampir hilang.
Sebenarnya Anna sudah tak mau membahasnya. Tapi, mau tak mau ia harus mendengarkan, meski hatinya menjadi semakin sedih saja.
"Aku minta maaf..." ucap Kiandra lemah.
Ekspresi Anna makin keruh dengan pandangan tertunduk.
"Tapi percayalah, aku tak berbuat lebih." lanjutnya dengan nada bicara lebih lugas.
Air mata Anna kembali memgalir.
Kiandra yang melihat itu memejamkan mata sesaat, kemudian menghela nafas panjang.
"Anna." ia meraih pundak wanita itu agar melihat ke arahnya. "Aku tidak bohong. Sungguh." ia menyakinkan.
Namun, Anna masih enggan menanggapi, dan cuma air matanya yang mewakili.
Astaga... kenapa dia cuma diam dan menangis?
Kiandra yang tak mengerti hati perempuan, makin bingung di buatnya.
Kiandra mengusap wajahnya beberapa kali, lalu mendengus dan menatap gamang ke arah Anna. "Baiklah, baiklah, aku mengaku!" ia kesal pada dirinya yang selalu ikut sakit, jika melihat wanita itu bersedih.
Anna melihat ke arahnya.
"Semalam aku memang hampir menidurimu. Tapi, itu hanya hampir!" Kiandra menekankan.
Kedua mata Anna mengerjap, karena begitu emosioanlnya Kiandra menerangkan.
"Aku juga tak akan bertindak sejauh itu, kalau saja kau tidak memelukku lebih dulu." ia bersedekap sembari melirik sombong.
"Memeluk?" Anna kaget. "Saya memeluk Anda?" ia tak yakin.
"Iya!" tegas Kiandra sembari mencondongkan mukanya tepat di hadapan wanita itu.
Anna langsung syok. Inginnya ia membantah semua itu, tapi ia sendiri tak ingat apa yang terjadi.
"Dan satu lagi." pria itu kembali berkata.
Tanpa sadar Anna mencengkeram tas kainnya kuat-kuat, karena Kiandra menatap tajam pada dirinya.
"Delana," ucap Kiandra.
Anna tersentak, karena baru kali ini pria itu memanggilnya demikian.
Pria berpostur tinggi dengan jas rapi layaknya CEO di novel-novel itu berjalan mendekat.
Anna makin tegang, seolah ia sudah ada firasat tentang apa yang akan terjadi.
"Tengku Delana Amirah Petra, Anak ketiga Sultan Kelantan, kenapa bisa terkatung-katung di Negeri orang?" tanya Kiandra dengan raut lebih serius dari biasanya.
Wajah Anna seketika menjadi pucat pasi.
Kiandra mengamati baik-baik perubahan ekspresi wanita itu, serta memperhatikan gesturnya yang jelas-jelas menunjukkan ketidaknyamanan.
"Sa... Saya tidak tahu maksud Anda apa..." Anna berusaha berbohong.
Kening Kiandra berkerut. "Kau pikir siapa yang kau ajak bicara sekarang?" ucapnya marah. "Aku ini Kiandra Marthadinata, yang dengan sekali menjentikkan jari, semua informasi yang aku butuhkan segera terkumpul. Apa lagi kau dengan jelas menyebutkan nama lengkap." Kiandra berkata angkuh.
"A, apa? Saya menyebut apa...?" Anna yang tak ingat kebingungan.
"Seharusnya dari dulu saja aku buat kau mabuk!" ujar Kiandra kesal.
Kedua mata Anna membulat, sama seperti mulutnya yang mengangga lebar.
"Jadi, lebih baik sekarang kau jujur atau aku bawa sekarang juga ke Kelantan!" ia mengancam.
Anna tak berkutik.
.
Kiandra tak berbicara apa-apa lagi, dan cuma menunggu Anna yang berdiri resah di hadapannya.
Biasanya Kiandra paling malas menunggu. Tetapi, melihat betapa syoknya wanita itu saat identitasnya terbongkar, ia memilih memberi waktu.
Hidupnya di sini bisa di bilang melarat.
batin Kiandra sambil menggingat Anna yang dahulu bekerja di toko bunga.
Kenapa dia tak pulang, dan kembali hidup mewah sebagai anggota kerajaan?
tanya Kiandra dalam hati.
"Masalah saya itu sudah berat! Seumur hidup saya tidak bisa pulang rumah, ke keluarga saya, ke orang-orang yang saya kasihi..."
Kiandra teringat racauan Anna saat mabuk.
.
"... Saya.. memang berasal dari Kelantan." Akhirnya wanita itu mau membuka mulut.
Kiandra menyimak sambil bersedekap.
Anna tertunduk gelisah. Setelah sekian tahun, rasanya begitu sulit mengakui asal-usul, yang berarti juga membongkar kesalahannya.
Namun ia sadar, tak mungkin selamaya bisa bersembunyi terus.
"Ayah saya Yang Di Pertuan Agong ke 15 Ismail Petra, Ibu saya Tengku Anisah Petra. Saya memiliki dua orang kakak, yang bernama Maheer dan Majeed. Tapi, sudah hampir tiga tahun saya memutus hubungan dengan mereka." Anna menatap Kiandra.
Pria itu tertegun.
"Saya... bukan siapa-siapa. Saya hanya Anna. Anda pun mengenal saya sebagai Anna..." air mata wanita itu meleleh.
Entah kenapa Kiandra langsung memeluknya. "Kau memang Anna, dan aku menyukai mu sebagai Anna." ia berkata. "Maka aku tak akan membiarkan wanita yang aku cintai ini terus-terusan bersedih." ia mengelus puncak kepalanya, seraya mendekap lebih erat.
Anna terenyuh mendengar ucapan Kiandra. Tetapi, hal itu pula yang membuat hatinya makin lara.