
"Boneka beruang...?" Anna berguman.
Kiandra tak mendengar gumanan itu, karena ia masih sibuk melihat ke arah lain, sembari meredakan sensasi mual karena terlalu gugup.
Anna meneguk ludah dengan susah payah memandang boneka raksaksa berperut gendut dengan kata sorry di perutnya itu.
Jujur boneka besar yang sampai tidak muat di dalam bagasi itu terlihat lucu. Dan bulu-bulu tebalnya yang berwarna putih mengingatkan Anna akan Kiandra yang pernah memberinya buket mawar berwarna senada.
Tiba-tiba Anna menutup mulut dengan mata melebar, kala mengingat segala hal aneh yang Kiandra lakukan. Termasuk dia yang di paksa makan sushi sampai perutnya hampir meletus. Serta beberapa kali kiriman barang-barang mahal yang kesemuanya sudan di kembalilan, kecuali kue dan es krim seharga setengah gajinya di toko bunga, karena sudah terlanjur masuk perut.
Terlintas di pikiran ketika pria itu memberinya dua buah permen relaxa barley mint, yang sampai sekarang hanya ia simpan.
"Sementara ini dulu. Nanti aku beri sesuatu yang lain."
Kedua pipi Anna bersemu, ketika menyadari sesuatu yang sepertinya mustahil terjadi.
"Kenapa diam? kau tak suka?" tanya Kiandra yang sudah berhasil menghilangkan rasa grogi-nya.
Anna sedikit terkejut oleh suaranya yang lantang. Tetapi, kini setelah ia berani memandang wajah pria itu, dia malah malu sendiri.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Kiandra balas menatapnya tajam.
Anna langsung merunduk. Jantungnya berdebar-debar. Tetapi, berbeda dengan yang tadi. Kali ini bukan rasa takut, melainkan karena hatinya tengah di rambati oleh pletikan-pletikan kecil yang ia sendiri menolak menyadari.
"Sudah aku duga, kau tak akan suka benda macam ini." Kiandra menyisir rambutnya kesal.
Anna yang mendengar hal itu hendak memberi karifikasi. Namun, sebelum suaranya keluar, Kiandra sudah meraih teddy bear putih itu dan ingin membuangnya. Untungnya dengan sigap Anna langsung mencegah.
"Saya suka." ia berseru, seraya menghalangi Kiandra yang pikirannya sudah di penuhi ancaman untuk Aldo yang telah membuatnya melakukan hal konyol ini.
Pria mirip idol K-pop itu tercenung, ketika Anna mengambil boneka tersebut dan mengendongnya dengan susah payah.
"Saya menyukainya. Terima kasih." suara Anna terdengar dari balik boneka teddy bear yang menutupi wajah dan separuh tubuhnya.
Kiandra belum memberi respon, dan hanya melihat Anna sempoyongan memeluk boneka warna putih yang di temukannya di salah satu sudut mall yang siang tadi ia jelajahi.
"Saya akan menyimpannya baik-baik." wanita itu kembali berkata dari balik teddy bear putih dengan senyumnya yang mengemaskan.
Malam larut dan angin dingin yang sesekali berhembus. Tetapi, entah kenapa Kiandra malah terngiang omelan kakaknya saat mereka bertengkar.
"Kau tak akan pernah mengerti kalau tak mengalaminya sendiri."
Pandangan Kiandra berubah sayu. Tahun-tahun pernikahan Kakak perempuannya dengan seorang lelaki yang ia kira adalah saudara sedarahnya adalah yang terberat.
"Kau sudah terlanjur mendewakan Dave dan menganggapnya panutan dalam segala hal. Kau kecewa, lantaran dia bukan kakak kandungmu dan lebih kecewa lagi ketika dia malah menikah dengan Kirana, serta menimbulkan banyak skandal."
ucapan Ayahnya, turut mewarnai pikiran.
Iya, harus Kiandra akui. Dia sangat kecewa. Begitu kecewa, sampai ia enggan menikah. Itulah pokoknya. Dia tak paham dan tak mau mengerti, tentang kenapa Dave dan Kirana akhirnya nekat menikah, walau masyarakat luas tahunya Dave adalah anak kandung Ayah mereka.
"Kau tak tahu apa-apa..." suara Dave saat itu hampir seperti keluhan. "Kau tak tahu, kenapa mereka tak bisa mengatakan pada kalayak bahwa aku bukan anak kandung Dad."
Juni nanti, Kiandra tepat berulang tahun yang ke tiga puluh lima tahun. Berarti sudah lebih dari sepuluh tahun ia membenci dua orang yang sebenarnya sangat di sayangainya itu.
Kiandra mendengus. Ia sadar jika salah. Tapi, ego nya yang tinggi tak mau mengakui.
"Nak, ibu tahu kau sangat mengagumi Dave, dan kecewa ketika tahu kenyataan dia bukan kakak mu. Kau juga sangat syok dengan pernikahan Kirana dan Dave. Tapi, nak. Ada hal-hal yang memang di luar kuasa kita. Terutama jika itu menyangkut tentang jodoh dan perasaan."
Nasehat si ibu di bagian akhir membuatnya tertohok. Hal yang sebelumnya tak ia rasakan, kini ia rasakan. Dan karena hal itu pula, malam ini ia bisa jujur mengakui kesalahan, meski hanya di dalam hati.
Kiandra baru terbangun dari lamunan, ketika teddy bear jumbo yang di bawa Anna membuat wanita itu oleng dan hampir saja terjatuh. Dengan reflek yang bagus ia segera merengkuh wanita itu dalam pelukkan dan membiarkan bonekanya yang terjatuh.
Anna memekik dengan tangan terjulur untuk meraih hadiah pertamanya setelah sekian tahun. Tapi terlambat, boneka seharga ratusan juta itu sudah terlanjur memeluk tanah.
"Maaf, maaf, kan, saya." Anna panik. Ia menarik-narik kain lengan Kiandra yang masih berada di pinggangnya, sementara matanya terus tertuju pada si teddy bear yang malang.
"Aku suka padamu." ucap Kiandra dengan ekpresinya yang datar.
Sebaliknya, Anna begitu terguncang mendengar hal yang tiba-tiba ini. Sampai hanya bisa menatap tanpa kedip kepada pria yang masih melingkarkan kedua lengan di pinggangnya.
"Aku tidak tahu suka dalam hal apa." ia melanjutkan. "Tapi yang jelas, aku tertarik padamu. Aku selalu ingin kita dekat. Aku senang bersamamu. Saat kau pergi dan aku tak tahu kau dimana, aku gelisah serta terus memikirkanmu."
Kedua mata Anna bergetar mendengar pengakuan yang begitu mustahil bisa di ucapkan sosok dingin, angkuh dan koleris tersebut.
"Anna, Delana...atau siapapun. Asal itu kau, aku tak peduli lagi." Tangan kanan Kiandra terulur hendak merapikan rambut Anna yang tertiup angin.
Namun, Anna yang memiliki trauma, seketika menjauh, saat jari tangan Kiandra tak sengaja menyentuh pipinya.
"Tuan muda." Anna memperingatkan, ketika Kiandra yang tak suka dengan refleknya, menariknya kembali ke pelukan.
Kening pria itu berkerut. Ia merasa di tolak dan benci di panggil begitu.
"Bilang, ya!" Kiandra menegaskan.
Anna tak mengerti.
"Bilang, ya. Kalau kau akan tetap bersamaku." Telapak tangan Kiandra yang lebar menekan belakang leher hingga pipi wanita itu.
"Tuan muda, saya..."
"Kau lupa tadi aku bilang apa?" potong-nya kesal.
"Sekali lagi panggil Tuan muda, aku cium kau, sial!"
Anna kaget, saat sekali lagi tanpa permisi Kiandra sudah mendaratkan bibirnya.
Dia berkeliling sampai lelah ke berbagai tempat untuk mencari hadiah permohonan maaf. Tetapi, hanya karena melihat bibir pucat dan tubuh kurus yang seolah bisa hancur oleh peluknya yang terlalu erat, ia menjadi tidak bisa mengendalikan diri.
Memang sialan kau, Anna!
umpat Kiandra dalam hati.