
Meski Aldo sudah memberi tahu, bahwa minta maaf tidak melulu di ukur dengan uang dan kemewahan. Tetapi, bukan Kiandra namanya kalau tidak mahal dan bermerk.
Dia menyuruh Aldo berhenti di salah satu mall besar di kota tersebut. Lalu segera menjelajah toko demi toko untuk mencari barang yang kira-kira setara dengan harga bibir Anna yang ia cium.
Terdengar jumawa. Tapi, begitulah Kiandra yang memikiki sifat koleris mix arogan.
"Anda mau berkeliling berapa toko lagi, Chief?" tanya Aldo yang kedua lututnya mulai terasa pegal.
"Sampai ketemu yang aku mau." Kiandra menjawab tanpa melihat Aldo di belakang yang sudah kelelahan.
"Memang anda mau yang bagaimana?" tanya Aldo sembari memandangi Kiandra yang berjalan tanpa henti.
"Belum tahu." jawab-nya singkat.
Astaga..
Aldo mengerang dalam hati. Ingin sekali ia tepuk jidat. Tapi, di tahan-tahannya agar tetap terlihat berwibawa.
Sejak pagi ia belum sarapan, dan berharap Kiandra akan mengajak makan siang lebih dulu. Tetapi, sampai menjelang sore seperti ini, Chief nya belum juga selesai dengan urusannya.
Dia sendiri tidak tahu apa yang di cari. Lalu bagaimana ketemunya?
batin Aldo yang lelah mengomel.
Namun, ia mulai berpikir tentang si Chief yang tampaknya begitu serius dengan wanita bernama Anna.
Chief tak pernah dekat dengan lawan jenis, kecuali Nyonya Alexa dan Vic. Tapi, dengan wanita ini beliau sampai berciuman, dan bahkan dulu sempat terjadi huru-hara di kantor hanya karena hal sepele yang dia sebabkan.
Aldo jadi teringat insiden pemecatan dirinya dan beberapa karyawan senior, cuma karena tak sengaja mengusir gadis sederhana itu.
Apa istimewanya dia?
pikir Aldo sembari membayangkan sosok Anna yang baginya tak menarik.
Tiba-tiba pandangan pria berpenampilan rapi itu berubah dingin, ketika menatap punggung Kiandra yang berada tepat di hadapannya.
Mereka berjalan bak kereta api yang saling berurutan. Kiandra terlihat cuek saja, serta sibuk melihat jajaran etalase toko yang menjual berbagai jenis barang.
Aldo memandangi dirinya di cermin salah satu toko, ketika Chief nya itu berhenti dan mengamati sebuah kalung berbandul berlian yang terpajang di dalam sebuah kotak kaca.
Sosok Kiandra yang hanya memakai kemeja biasa, dan dirinya yang berjas lengkap. Aldo mendengus, seraya membuang muka. Ada kebencian yang sesaat tersirat di wajahnya yang biasa mengulas senyum.
Secara karakter, kadang kala Aldo memang terlihat polos menjurus bodoh. Tapi, satu sisi dia orang paling berjasa di perusahaan dan yang pertama yang pasang badan jika ada apa-apa dengan Kiandra. Pasang badan dalam hal pekerjaan tentu saja, karena jika dalam hal mengancam nyawa, itu sudah ada Victoria.
Mengingat wanita kelahiran Jerman itu membuat Aldo tertunduk sedih. Dia mencintai bodyguard cantik itu. Tetapi, jauh di dalam lubuk hati, Aldo sadar jika mereka bersebrangan dan tak mungkin bersatu.
Vic, suatu saat mungkin aku akan mengecewakanmu.
batin Aldo muram.
Ia ikut berjalan, saat Kiandra tak cocok dengan toko itu dan kembali melihat-lihat yang lain.
.
Diam-diam di salah satu sudut mall yang ramai oleh lalu-lalang orang yang mencari kesenangan berbelanja atau sekedar cuci mata, Victoria terus mengawasi.
Hal ini rutin wanita itu lakukan, karena memang beginilah tugasnya. Di mana Kiandra pergi, dia harus setia menjaga. Chief nya adalah VIP, meski orang awan tak tahu. Pria jangkung itu dengan bebas melengang di keramaian, tanpa tahu nyawa berharganya jadi incaran.
Kedua mata amber Victoria memicing, tak kala melihat gelagat Aldo yang mencurigakan.
Pria yang sering bertingkah konyol cuma untuk menarik perhatiannya itu mengikuti Chief-nya di belakang. Memang jika di lihat sekilas tak ada yang aneh. Tapi, gestur tangan kanan Aldo membuat Victoria curiga.
.
Tiba-tiba langkah Kiandra terhenti, membuat Aldo yang berada di belakang-nya terkejut.
"Ada apa, Chief?" tanya Aldo sigap. Sangking cepatnya gerakan tangan pria berjas itu, Kiandra sampai tak menyadari ada yang di sembunyikan.
"Jika aku memberi barang mewah, apa artinya aku seperti membayarnya?" tanya Kiandra serius.
Kedua alis Aldo hampir menyatu mendengar ucapan Chief nya yang terasa aneh di telinganya.
"Dari tadi aku memikirkan hal itu." Eskpresi Kiandra berubah murung.
Kedua pria itu berdiri di samping plang besi pembatas, dengan para pengunjung mall yang sesekali melihat ke arah mereka.
"Tinggal kebutuhannya saja, Chief." Aldo berusaha mengerti
"Kebutuhan? kau pikir makanan?" kening Kiandra berkerut.
"Bukan begitu."Aldo yang paham sifat Kiandra mencoba menjelaskan. "Maksud saya, anda memberi sesuatu itu cuma hadiah atau sebagai tanda maaf."
Kiandra berdecak. "Kau ngomong apa?" ucapnya sembari berbalik dan kembali berjalan.
Anda yang tidak paham.
batin Aldo mulai malas.
Namun, di ikutinya juga pria berkemeja lengan panjang yang di lipat sampai siku itu.
"Kalau anda benar untuk permohonan maaf, lebih baik tidak terlalu mewah. Yang penting sungguh-sungguh, Chief." Aldo seperti mengulang nasehatnya tadi di dalam mobil.
"Nilai barang di ukur mewah atau tidak, itu tergantung orangnya." Kiandra punya pemikiran sendiri.
Kedua mata Aldo berputar. "Jadi anda inginnya bagaimana?"
"Bingung." Kiandra mengusap rambutnya ke belakang.
Mendengar penuturan Chief-nya, Aldo menghela nafas panjang seraya mengusap dada agar sabar.
CEO dan Personal Asistennya itu terus berkeliling mall yang padat oleh pengunjung. Tetapi, kali ini mereka berjalan berdampingan dan terlihat seperti seorang teman dekat.
.
.
"Bu, bagaimana kalau Delana juga di buatkan gaun?" Kirana mengusulkan, saat gadis itu sedang meletakkan teh dan camilan di atas meja ruang keluarga.
Mendengar itu Anna jadi kikuk. Tetapi, ia tak mengatakan apapun dan memilih menyelesaikan tugasnya.
Di ruangan itu duduk Kirana beserta suaminya, dan juga ibu mereka yang di apit oleh si kembar.
"Benar juga, ya?" mata ibu Kiandra berbinar. "Kenapa aku tidak kepikiran soal itu?" seolah baru saja mendapat pencerahan, ia terlihat antusias.
"Benar apa, nek?" Kalila yang sedang bersandar di bahu neneknya ikut nimbrung.
"Benar, kalau kau gendut dek." Kama yang menyahut, dan langsung di lempar bantal oleh saudari-nya.
"Hei, sudah-sudah." ibu Kiandra yang berada di tengah berusaha melerai kedua cucunya yang mulai kumat.
Namun, kegaduhan itu hanya sesaat, sebab tatapan dari si Ayah yang mematikan segera membuat mereka tak berkutik.
"Aku mau ke kamar aja." Kama langsung bangkit dari duduk. "Om Kiki nggak pulang-pulang." ia beralasan, padahal takut kena omel.
"Aku juga." Kalila menyusul.
Kedua anak kembar itu saling pandang, lalu melirik Ayah mereka yang duduk di samping si ibu. Kemudian pergi dengan raut sebal.
"Kenapa papa kita bisa seseram itu?" bisik Kalila.
"Mungkin karena sering di marahi Mama." Kama menjawab.
Untungnya obrolan absurd mereka tidak ada yang mendengar.
.
"Kenapa jika denganmu mereka langsung menurut tanpa perlu teriak?" tanya Kirana setelah dua anak kembarnya tak terlihat.
"Mereka hanya ingin ke kamar." Dave yang menjawab tak sesuai pertanyaan, membuat muka istrinya makin timbul kerutan.
"Saya permisi." Anna yang sudah menyelesaikan pekerjaannya pamit.
"Tunggu." ibu Kiandra mencegah. "Duduk dulu sini." ia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Anna terlihat tak enak. Tapi, di turutinya juga keinginan wanita yang dahulu pernah menabraknya hingga sempat koma itu.
"Besok ikut ibu ke butik untuk mencari gaun yang pas untukmu, ya?" ia tersenyum.
"Ah, anu...saya..." Anna ingin menolak. Namun, belum sampai kalimatnya habis. Tiba-tiba Kiandra sudah memasuki ruangan.