Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
HIKAYAT KEBAHAGIAAN



Fairmont Hotel yang terletak di Senayan, Jakarta Pusat, menjadi lokasi di selengarakannya resepsi pernikahan Kiandra dan Anna.


Ayah Kiandra menyewa seluruh area restoran sampai Pod Dining yang sebenarnya sudah sangat indah dengan semacam rumah kaca berbentuk igloo dengan taman-taman bunganya yang cantik.


Pengantin baru itu menginginkan konsep outdor dengan atap langit dan banyak bunga. Maka sebagai orang tua yang baik dan kebetulan mampu, mereka dengan setulus hati menyiapkan segalanya untuk pernikahan impian anak-anak mereka.


Ibu Kiandra sendiri yang setiap hari menanyakan progres dan mengecek langsung ke lokasi tentang kesiapan tempat, dekor, katering, sampai urusan baju.


Nah, untuk urusan yang terakhir, Ibu dan anak itu sempat berdebat, karena Kiandra menginginkan Solo Basahan, yaitu pakaian tradisional warisan kerajaan Mataram dengan ciri bagian atas yang tidak tertutup seluruhnya.


Akan tetapi, si Ibu beranggapan jika baju seperti itu tidak sesuai dengan resepsi yang berkonsep outdor. Yah, walaupun pelaminanya bisa di pindah ke dalam, tetap saja si Ibu tidak menyetujuinya.


"Kenapa harus Solo Basahan? padahal Ibu ingin melihat Delana memakai kebaya rancangan Bu Anne Avantie." ujar wanita yang telah melahirkannya itu.


"Kebaya itu bisa di pakai kapan saja, Bu." Kiandra bersikeras.


Anna yang juga duduk di ruang keluarga sebenarnya ingin mengeluarkan pendapat. Tapi, ia merasa tak enak hati jika menyela keduanya.


Dia melirik Ayah mertuanya yang duduk di sofa lain. Pria tua itu terlihat tenang-tenang saja melihat perdebatan istri dan anaknya.


Sudah setengah bulan berlalu sejak kepulangan dari kota Bharu, Kelantan. Dave dan Kirana juga telah pulang ke tempat tinggalnya. Dan kini tinggal Kiandra dan Anna di rumah keluarga Marthadinata sembari menyusun respesi pernikahan mereka yang tinggal hitungan minggu.


"Delana."


Panggilan dari Ibu mertuanya membuatnya terkejut.


"I, iya, Bu?" ia menjawab gagab.


Wanita dengan baju terusan warna biru muda dan rambut tergelung itu duduk di sampingnya. "Delana, kau ingin memakai Solo Basahan atau berkebaya?" tanyanya serius.


Kedua mata Anna mengerjap. "Eeemmm... a, anu.." ia melihat si suami dengan ujung mata. Lalu kembali fokus kepada Ibu mertuanya. "Me.. Menurut Ibu?" ia balik bertanya.


Kiandra mengkerutkan kening melihat respon istrinya.


"Tentu saja bagus berkebaya!" ujar Ibu mertuanya girang.


"O...ooohh..." ia masih ragu karena melihat Kiandra yang memelototinya.


"Jadi...?" wanita tujuh puluh tahunan yang masih memiliki rambut panjang hitam alami itu menunggu.


Anna menggigit bibir bawah. "Ka... kalau Ibu bilang begitu...Eeemmmm...." ia melirik lagi ke arah Kiandra, lalu dengan gamang kembali menatap si Ibu mertua. "Saya... memilih memakai kebaya saja, Bu." ia tersenyum kaku.


Ibu Kiandra langsung gembira, sedangkan si anak mendengus sambil memalingkan muka.


Akhirnya di putuskan mereka memakai kebaya berwarna putih dengan sanggul khas Jawa Tengah.


.


"Kenapa kau malah memilih kebaya?" Kiandra bertanya saat mereka sudah berada di dalam kamar pribadi.


"Aku hanya ingin menyenangkan Ibu." jawab Anna yang sudah mengganti bajunya dengan piyama polos dari kain satin.


Kiandra berjalan mendekat. "Kau tak ingin menyenangkan suamimu?" ujarnya kesal.


"Bukan begitu." ia meralat cepat.


Tapi, pria dengan celana pendek itu malah acuh seraya melepas kaos dan menaruhnya ke tempat terdekat.


"Ibu dan Daddy kan sudah mengurus semua, jadi aku pikir tidak masalah kalau kita sedikit menyenangkan mereka." Anna melanjutkan.


"Melihat kita menikah saja, Ibu dan Daddy sudah senang." tandas Kiandra yang masih kesal.


Anna menghela nafas. "Memang kenapa kau sekali ingin memakai Solo Basahan?" tanyanya ingin tahu.


Kiandra yang bertelanjag dada dan sedang berdiri di depan cermin menoleh ke arahnya. "Tentu saja aku akan terlihat lebih tampan dengan otot perut dan lenganku yang terlihat." jawabnya lugas.


Hampir-hampir Anna mengelus dada mendengar penuturan suaminya yang memang agak lain itu.


Sebenarnya dari mana sifat narsis dan kelewat PD nya itu?


batinnya tak habis pikir.


Tiba-tiba sebuah kecupan di pipi membangunkannya dari lamunan. Ia menoleh, dan melihat senyum Kiandra yang terkembang.


Wajah Anna seketika memerah. "Ke, kenapa...?" ia tak melanjutkan, sebab sebenarnya sudah tahu dengan hanya melihat senyum suaminya itu.


Kiandra sudah mendekatkan bibir dan hendak memeluk, ketika mendadak istrinya mendorongnya dan menjauh.


"Bau!" seru Anna sambil menutup hidung dan mulut.


"Apa?" Kiandra tak mengerti.


Istrinya mengeleng serta menyuruhnya menjauh ketika ia ingin mendekat. "Kenapa kau bau sekali?" ujar Anna sembari membuang muka.


"Kau.. mengatakan aku bau?" Kiandra tak percaya.


Anna mengangguk berkali-kali dengan telapak tangan yang tetap menutup sebagian wajah.


Muka Kiandra merah padam. Seumur hidup, belum ada yang seorang pun yang mengatakan hal di luar nalar seperti itu padanya yang setiap mandi menghabiskan waktu satu jam dan pengkoleksi parfume keluaran Paris.


"Jangan mengada-ngada," ia berjalan mendekat. "tadi tidak apa-apa, kenapa sekarang.."


Anna langsung mual, membuat suaminya itu membeliakkan kedua mata.


"Kau benar-benar bau!" Anna berlari menjauh.


"Hei, Anna!" Kiandra hendak mengejar.


"Maaf, aku tidak kuat! Aku tidur di sofa!" dari kejauhan wanita itu berseru.


"Apa-apaan dia...??" guman Kiandra yang mematung di depan pintu, sambil memperhatikan istrinya yang memilih tidur di sofa panjang yang terletak satu ruangan dengan kamar tidurnya yang luas.


Untungnya hal tak masuk akal tersebut hanya terjadi sesekali, yaitu ketika mereka bersentuhan. Tapi, tetap saja membuat Kiandra pusing, karena ia tak bisa leluasa menjamah istri sendiri.


Namun, karena persiapan resepsi yang semakin sibuk dengan bertambahnya hari, membuat mereka tak terlalu memperhatikan tanda-tanda tersebut.


.


.


Hingga sampailah di hari sabtu di bulan penuh cinta.


Seolah tahu ada yang berbahagia, langit biru di atas sana turut cerah tanpa awan. Pol Dining, restoran sampai area pintu masuk di hiasi beragam bunga berwarna pink-putih dengan beberapa foto sang mempelai dalam figura cantik.


Si kembar yang memakai beskap dan kebaya putih terlihat mencomoti beragam makanan yang tersaji, sembari memotret random acara yang di iringi musik akustik itu.


Sebenarnya Kirana ingin menasehati anak-anaknya agar lebih tenang. Tapi, si suami melarang dan meminta dirinya tetap duduk di sampingnya.


"Yang penting mereka tidak menyalakan petasan." Dave berkata kalem.


Tetapi, omongan pedas tak semua bermakna benci, dan itu terbukti dengan ketiganya yang memeluk dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya.


"Sehari berapa kali?" bisik Roy sembari melirik Anna yang terlihat berbeda dengan make up dan sanggul Jawa yang di hiasi untaian bunga melati.


Kiandra berdecak. "Sudah cepat duduk, masih banyak tamu lain yang mengantri." ia memerintah dengan suara di tekan.


Pria perokok itu terkekeh, lalu gantian menyalami Anna. "Yang kuat ya, Tuan Putri." ucapnya sambil mengedipkan satu mata.


Anna tersenyum dengan perasaan malu.


"Gimana? Enak kan kalau nikah?" Alexa yang memakai dress rancangan Ivan Gunawan menipiskan bibirnya yang berwarna merah.


"Enak, seperti candu." ujar Kiandra, membuat mereka tergelak bersamaan.


Tak ada rasa iri atau apapun ketika Alexa mengucapkan selamat kepada Anna, karena wanita itu memang terbukti baik untuk kawan karibnya.


Ethan yang terakhir mengucapkan selamat dan melontarkan guyonan garing kepada pasangan itu.


"Heh, Setan." panggil Kiandra setelah pria berkacamata itu menyalami istrinya.


Pria yang berprofesi sebagai Dokter anak itu menoleh.


"Move on!" ujarnya.


Ethan tertegun, kemudian tertawa dan berlalu.


Ada orang-orang beruntung yang bisa saling memiliki. Tapi, ada juga mereka yang hanya bisa memendam rasa sendiri, dan entah sampai kapan di pandangan pria berkacamata itu hanya ada Alexa seorang.


"Sebab kau terlalu indah.. dari sekedar kata. Dunia berhenti sejenak menikmati indahmuu..."


Raim Laode yang di undang sebagai pengisi acara menyanyikan lagu terbaiknya yang membuat para tamu terlena dalam liriknya.


"Dan apabila, tak bersamamu, kupastikan, ku jalani duniaa... tak seindah kemarin..."


Suara asli penyanyi pria bertubuh kurus itu jauh lebih merdu dari yang biasa di dengar melalui media, membuat pasangan pengantin itu saling tatap dan tersenyum penuh cinta.


Kedatangan Nisa sebagai salah satu tamu kehormatan hampir membuat riasan wajah Anna berantakan karena tak henti menitikan air mata. Berkali-kali ia memeluk dan mengucapkan terima kasih kepada wanita yang sudah ia anggap sebagai keluarga itu.


"Ah, pantas saja dulu kau tak bisa membedakan garam dan gula." Nisa melucu untuk menghentikan tangis haru Anna sebab bisa bertemu lagi dengan wanita baik hati yang dahulu bersedia menampungnya.


Sang Sultan Kelantan dan Permaisuri bahkan secara langsung turut mengucapkan terima kasih atas kebaikan Nisa dan mengangkatnya sebagai kerabat dari Kerajaan Kelantan. Hal yang membuat wanita itu tertegun beberapa detik dan baru bisa mengucap syukur setelah Anna mengenggam tangannya.


Tak hanya itu, Nisa juga mendapat hadiah dari keluarga Marthadinata berupa ruko yang selama ini ia sewa untuk usaha dan tempat tinggal, kini sudah di beli, serta di atas namakan atas namanya. Keluarga konglomerat itu juga memberinya modal agar usaha tok bunganya lebih besar dan maju.


Nisa yang tak percaya sampai berkali-kali mencubiti lengannya dan membuat mereka geli. Mungkin ini yang namanya apa yang kau tanam, maka itulah yang kau tuai. Nisa yang hidup sebatang kara, mendadak kaya raya dan menjadi kerabat bangsawan.


Udara segar, aroma wangi bunga dan dekorasi aesetic, serta makanan yang di masak langsung oleh Chef dari Australia. Di tambah sovenir berupa bunga kering yang di taruh di dalam tabung dengan emas antam 10 gram di dalamnya, makin menyempurnakan acara yang sempurna oleh kebahagiaan tersebut.


.


Rombongan Sang Sultan hanya tiga hari di Jakarta. Mereka pulang ke kota Bharu setelah mengunjungi makam Rendy Aryatedja atau Tengku Ibrahim Petra untuk bersilaturahmi dan mendoakan.


"Tempat ini indah dan damai, pastilah Kakanda lebih menyukai tinggal di sini." Ayah Anna yang bersimpuh di dekat makam menyeka air mata.


Sebenarnya ia ingin memindahkan makam ke Kelantan, agar bisa berkumpul bersama anggota kerajaan yang lain. Tetapi, saat mengetahui sejarah dan siapa yang di makamkan di samping kakaknya tercinta, Sang Sultan segera memahami dan mengurungkan niat.


.


Resepsi pernikahan memang hanya satu hari. Tapi, imbasnya sangat luar biasa, terutama untuk semua karyawan di bawah naungan Marthadinata Groub.


Ayah Kiandra menaikkan tunjangan dan bonus, serta memberikan satu unit cluster rumah dua lantai untuk karyawan yang telah mengabdi di atas sepuluh tahun.


Aldo salah satu karyawan beruntung yang mendapat hadiah tersebut girang. Tetapi, ia lebih bahagia lagi, saat menoleh ke samping dan ada Victoria yang tersenyum memandanginya.


.


Semuanya turut merasakan kebahagian yang telah begitu lama di nanti pasangan tua itu.


Hingga malam pun datang, menidurkan keduanya dalam lelap lelah yang hangat dan senyum terukir di wajah mereka yang di penuhi keriput.


.


Ibu Kiandra yang tidur berbantal lengan suaminya perlahan membuka mata. Sinar mentari telah naik, membuat jendela besar yang hanya tertutup vitrase memancarkan sinarnya masuk ke dalam kamar.


"Jam berapa ini...?" ia bangkit sembari mengusap-usap mata.


Biasanya si suami selalu bangun lebih dulu, lalu dengan memberinya kecupan selamat pagi untuk membangunkannya.


Sayup-sayup Ibu Kiandra mendengar suara pemotong rumput dan kicau burung-burung yang sarangnya banyak terdapat di pohon cemara dekat danau.


Pagi yang seperti biasa, setelah acara besar dan beberapa kegiatan amal yang mereka lakukan untuk menambah rasa syukur.


"Sayang, hari ini kau ingin di masakkan apa?" ia menyentuh tangan si suami yang masih terbaring.


Namun, pria berkulit putih dan beruban itu tak bergeming.


"Sayang, kau kelelahan, ya?" Ibu Kiandra terkekeh.


Tapi, tawanya seketika lenyap saat menyadari sesuatu. Jantung wanita tujuh puluh tahun itu berdetak lebih kencang ketika memperhatikan bagian dada suaminya tak bergerak.


"Sayang...?" suara Ibu Kiandra bergetar.


Namun, pria yang menemani separuh lebih hidupnya itu tetap tak membuka mata.


"Kau akan hidup lebih lama dari aku kan?"


Mendadak ia teringat ucapan si suami.


"Aku tak bisa hidup sendiri."


Air matanya mulai jatuh satu persatu.


"Mereka lebih membutuhkanmu dari pada aku. Mereka juga sudah mampu berdiri tanpa aku. Tanpa aku, mereka akan baik-baik saja. Tapi aku... aku tak akan pernah baik-baik saja jika kau mendahuluiku."


Dada Ibu Kiandra sesak oleh kesedihan yang perlahan merajai dan kenangan lima puluh tahun lebih yang mereka habiskan.


"Aku bisa apa dengan masa lalu yang tak bisa aku rubah? Aku memang b4j1n9an! Aku mendapatkanmu dengan cara paling biadab! Tapi, sekarang dengan sepenuh hati aku ingin membahagiakanmu. Bukan untuk menebus kesalahan di masa lalu, apa lagi hanya ingin memilikimu. Tapi, karena aku benar-benar mencintaimu. Aku menyayangimu, yang ku kasihi sepenuh hati, hingga aku merelakan semua..."


"Aandreee..!!" seketika ia meraung dengan rasa perih kehilangan.


.


.


"Kau tahu aku lebih mencintaimu..."


Kedua bola mata berwarna indah itu selalu menyihirnya, serta membuatnya berharap kelak anak-anaknya pun akan memiliki warna bola mata yang sama.