Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
UNTUKMU



Anna baru saja membersihkan diri dengan rambut setengah basah yang di sisir.


Dia duduk mematung menatap paperbag warna tosca yang beberapa waktu lalu di berikan begitu saja oleh seorang pria yang bahkan ia tak ingat namanya.


"Untukmu!"


Masih Anna ingat, kuatnya tangan pria tersebut menarik agar dia mau menerima.


Apa benar ini untukku? tanyanya dalam hati. Dia tidak sedang bercanda, kan? Ia meragu.


Dia keluarkan isi dari paperbag tersebut, sebuah kotak perhiasan seukuran telapak tangan dengan warna senada.


Mata Anna berbinar, entah sudah berapa lama ia tak menyentuh kotak perhiasan seperti ini.


"Dia menyukaimu."


Ucapan Nisa terlintas, membuat gerakan Anna yang tengah mengelus kotak warna tosca tersebut berhenti.


"Dia datang hanya untuk bertemu denganmu." Wanita tengah baya itu tersenyum. "Sepertinya dia pemalu." Nisa geli.


Menyukaiku? Pemalu...? Kening Anna berkerut membayangkan ekspresi sangar Kiandra.


Itu hal yang mustahil, bukan? Anna menyangkal.


Dia mengulang semua ingatan akan pertemuan pertamanya dengan pria berwajah dingin tersebut, sampai bertemu lagi di sebuah swalayan dan terakhir ketika pria itu datang ke toko untuk membeli bunga.


Dalam rentetan peristiwa itu, Anna meyakinkan, tak ada hal apa pun yang sampai membuat lelaki itu terpesona dan menjadi suka padanya.


"Jangan pernah berpikir mati adalah solusi."


Ucapan ketus Kiandra membayang, membuat pandangan Anna teralihkan ke buket mawar putih pemberian Kiandra, yang kini sudah mengering. Kendati begitu, Anna tak membuangnya, dan masih ia taruh di sudut meja sebagai hiasan.


Lama Anna memandangi buket besar dengan mawar-mawarnya yang kini berubah cokelat dan layu. Hanya kertas pembungkusnya yang tak berubah. Masih terlihat bersih, dengan warna putihnya.


Hati Anna terenyuh, keadaan buket itu kurang lebih sama seperti dirinya. Hanya terlihat baik di luar. Tapi rusak di bagian dalam.


Anna mengusap air matanya yang hampir menetes. Dia tak boleh menangis, matanya akan bengkak dan Nisa akan curiga.


Wanita paruh baya itu akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan lagi, seperti ketika ia pingsan beberapa waktu lalu.


Di dalam ruangan sempit dengan kasur busa tipis yang hanya beralaskan tikar, serta meja kecil tempatnya kini berada, Anna duduk di lantai sambil menghela nafas panjang untuk menenagkan diri.


"Aku tak boleh lemah. Aku harus kuat." Ia mengepalkan kedua tangan. "Susah payah aku mendapatkan kehidupan baru. Aku harus melupakan semua." Anna bertekad.


Setelahnya berhasil menguasai diri, ia kembali fokus pada kotak warna tosca tersebut dan membukanya.


"I, ini..." Mata Anna membelalak melihat sepasang anting berbentuk memanjang dengan desain ekslusif dari Tiffany and Co serta taburan berlian di tengahnya.


Anna meneguk ludah. Antara percaya dan tidak. Tapi pandangannya tak bisa lepas dari sepasang anting cantik yang makin menawan di alasnya yang berwarna hitam.


Walau berusaha menghilangkan. Akan tetapi, kecintaan Anna akan perhiasan sederhana nan elegant tak serta merta bisa di hapus begitu saja.


Terkadang untuk menghibur diri, ia akan membuka situs dari beberapa brand yang dia suka.


Sekedar mengagumi koleksi-koleksi perhiasan yang makin tahun, makin membuat orang ingin memiliki. Tapi dengan keadaannya sekarang, Anna cukup puas hanya melihat.


"Tiffany knot earrings? Dia memberikan aku perhiasan keluaran terbaru dari Tiffany and Co?" Anna tercenung.


Jangungnya berdebar tak karuan. Kepalanya langsung berdenyut, membuat ia harus memegangi.


"Untuk apa dia memberikan benda semahal ini?" pikiran Anna kacau oleh kemungkinan negatif yang bisa saja terjadi.


Dia kembali mengira-gira hal apa yang telah di perbuat, sampai pria itu bersikap begini. Namun lagi-lagi, Anna tak menemukan alasan logis.


"Apa dia...ingin menjadikan aku simpanannya...??" Anna kaget oleh dugaannya sendiri.


Mendadak Anna memeluk diri dengan mata membulat seperti orang kerasukan.


"Apa aku terlihat seperti wanita murahan...?" tanyanya pada diri sendiri. "Apa tanpa sadar aku telah mengodanya...? Aku melakukan apa..?" mata Anna bergerak-gerak, dengan raut cemas.


Keringat dingin sampai mengalir di pelipis wanita dengan baju tidur warna pink dengan motif kodok hijau favoritenya.


"Aku harus mengembalikannya." Dengan cepat Anna meringkas semuanya.


.


.


Tetapi sudah dua malam Anna menunggu, pria yang ia lupa namanya itu tak kunjung datang.


Bekerja pun, ia jadi tak tenang dan sering melakukan keteledoran. Untungnya Nisa seorang yang pengertian.


"Benar kau ingin mengembalikannya?" tanya Nisa saat toko sepi.


Anna mengangguk, "Barang itu mahal sekali dan kami tak dekat." Anna menjelaskan. "Saya hanya tak mau jadi masalah di kemudian hari."


"Maksudmu dia sudah beristri?" Nisa yang berpegalaman menebak.


Anna tak menjawab dan hanya mengigit bibir bawah dengan pandangan ke bawah.


"Kalau dia datang, coba saja tanya langsung." Nisa menyarankan.


Anna menatap tak mengerti.


"Tentang dia sudah beristri atau tidak." Ia terkekeh untuk mengusir suasana tak enak.


"Tidak..." Anna menolak. "Saya hanya ingin mengembalikan pemberiannya, itu saja.."


"Bagaimana kalau ternyata dia benar menyukaimu dan hanya malu untuk mengungkapkan?"


Pertanyaan Nisa membuat Anna sedikit tertegun, kemudian merunduk lesu.


"Yaah...walaupun dengan perawakannya yang tinggi besar, rasanya mustahil dia pemalu." Nisa tertawa renyah untuk menghibur.


"Tidak, saya...tak ada hal apa pun dalam diri saya yang menarik..." Mengabaikan tawa Nisa, Anna berkata pelan.


"Kenapa insecure begitu?" Nisa mengelus punggung Anna, membuat wanita dengan rambut di kuncir itu menoleh ke arahnya. "Kita tak bisa menilai diri sendiri, orang lain lah yang menilai." Ia tersenyum.


Anna muram.


"Lupakan saja masa lalu, jika memang itu menyakitkan." Nisa menasehati. "Lahirlah sebagai orang baru dan tata hidupmu lebih baik, agar masa depanmu yang belum terjadi, bisa kau buat seindah mungkin."


Mata Anna berkaca-kaca memandang wajah Nisa yang terlihat makin berkerut seiring senyumnya yang terkembang.


"Permisi." Suara gemerincing lonceng yang terpasang di pintu menghentikan adegan melow mereka.


"Nona Anna?" seorang pria berjaket hijau hitam bertanya.


Anna dan Nisa bangkit, lalu berjalan mendekat.


"Saya Anna." Ia maju.


"Ada kiriman untuk anda." kurir online itu memberikan paperbag warna putih yang sedari tadi di jinjingnya.


Anna bingung. Namun di terima juga akhirnya, saat si kurir memintanya untuk tanda tangan. Tanda bahwa paket telah di terima.


"Tumben." Nisa ikut heran, sebab selama hampir dua tahun tinggal bersama, tak pernah Anna mendapat kiriman paket apa pun.


Anna menaruh paperbag tebal warna putih dengan tulisan The Harvest warna perak di tengah, lalu mengelurkan isi kotaknya yang berat.


"Waaah..." Nisa seketika takjub.


Sedang Anna, lagi-lagi di buat tertegun, melihat potongan kue dengan berbagai varian rasa yang di tata membulat seperti kue-kue pada umumnya.


Di bagian tengah kue tersebut, terdapat lempeng cokelat dengan tulisan singkat, Dimakan.


Entah Anna harus bereaksi seperti apa, ketika Nisa ikut membaca dan terpingkal sampai memegang perut.


...----------------...



...----------------...



*Ngomong-ngomong, ini kue favorite saya 🤤*


...****************...


Maaf kalau baru bisa update 🙏


Terima kasih sudah membaca, memberikan like, vote, gift, serta komen 🙏


Selamat membaca 😊


-🍀-