
"Aku bertemu dengannya di pinggir jalan dan dia bilang ingin bertemu denganmu tapi tak bisa."
Tanpa di minta Ethan menerangkan.
Kiandra masih tak bergeming menatap Anna, sedangkan Anna sendiri terlihat gusar dengan raut tertunduk dalam.
Alis Ethan terangkat. Ia lirik kedua orang itu sambil melipat kedua tangan ke dada.
"Disini nggak ada nyamuk. Tapi ada obat nyamuk ya?" seloroh Ethan keras-keras.
Sontak Kiandra dan Anna jadi salah tingkah.
"Bagaiaman kalian bisa bertemu?" tanya Kiandra senormal mungkin. Meski jantungnya berdetak tak karuan.
Ethan tak menjawab dan malah tersenyum dengan bola mata berputar, membuat wajahnya jadi aneh dan lucu.
"Dan kau," Kiandra gantian berkata pada Anna. "kenapa bisa bersama dengannya? di iming-iming apa kau?" ia langsung main tuduh.
"Apa?" Anna tak habis pikir dengan pertanyaan Kiandra yang berkesan negatif.
Padahal yang sebenarnya, Kiandra hanya cemburu pada Ethan yang begitu gampang membawanya pergi.
"Anda salah paham. Saya..."
"Tanpa perlu iming-imingi apa pun, setiap wanita pasti dengan senang hati mau pergi denganku." potong Ethan serayak membusungkan dada.
Ekspresi Kiandra seketika berubah malas.
"Kenapa anda bicara begitu?" Anna kaget. "Saya mau ikut karena anda bilang..."
"Akan datang ke party Club hari sabtu ini." lagi-lagi Ethan menyambar omongan-nya sebelum selesai.
"Apa?" mata gadis itu membelalak. "Saya tidak..."
"Oke, aku jemput sabtu besok." Ethan memutuskan, kemudian tersenyum sangat manis kepada Anna yang gusar.
Kiandra yang berdiri di tengah-tengah keduanya semakin panas melihat tingkah mereka.
Sekarang siapa yang jadi obat nyamuk?
batin Kiandra kesal.
Ethan bukannya tak menyadari sahabatnya itu sedang cemburu, eh, marah. Tetapi, pria tersebut memang sengaja menjahili Kiandra yang terkenal tak doyan wanita.
"Saya tak pernah berkata seperti itu." Anna masih berusaha mengklarifikasi. Ia tak mau ada salah paham, karena jelas-jelas ia tak pernah mengatakan apa yang Ethan tuduhkan.
Namun, pria yang mengenakan kaos berkerah warna salem itu tak peduli dan malah sibuk melihat jam tangan.
"Aku ada praktek jam 3 sore." Ucap Ethan sambil membenarkan letak kacamata.
Kiandra hanya mendengus
Otomatis Anna menengadah ke arah jam dinding di ruangan yang menunjukkan pukul setengah tiga sore.
"Dia ada perlu denganmu. Jadi, jangan usir dia lagi. Kasihan anak orang." Ethan menambahkan.
Kiandra tak mengatakan apapun dan hanya menatap kawan baiknya itu dengan muka sebal luar biasa.
"Tunggu." Cegah Anna.
Hal itu membuat kedua mata Kiandra hampir keluar karena terkejut.
Sialan, kenapa dia malah berat ke Setan?
pikiran Kiandra makin runyam.
"Saya hanya sebentar. Tunggu saya. Saya tidak bisa hanya berdua di ruangan ini..." Anna yang tak mau ada fitnah, sampai menghadang langkah Ethan.
"Yah...aku memang lebih menyenagkan dari pada dia." penuh kebanggaan Ethan tersenyum lebar sembari melirik Kiandra yang tak perlu di jelaskan lagi bagaimana ekspresinya.
"Bu, bukan begitu." Anna mengeleng sambil mengerak-gerakan kedua tangan.
"Tapi, sayangnya aku sudah di tunggu para pasien kecilku." Tak mengindahkan omongan Anna, Ethan menambahkan.
Sepertinya cerdas. Tapi kenapa orang ini tak paham maksud ku? apa dia menderita penyakit narcissistic personality disorder?
tanya Anna dalam hati.
Melewati Anna yang tengah sibuk melamun. Ethan berjalan mendekati Kiandra.
"Jangan lupa traktir aku nanti malam." ia berbisik, lalu terkekeh pelan.
"Kau pikir aku ulang tahun?" Kiandra balas berbisik, namun sarat akan emosi.
"Kau memang tak sedang ulang tahun. Tapi aku sudah membawakanmu hadiah, jones." bisik Ethan dan menekankan pada kata terakhir.
"Setan." umpat Kiandra dalam hati.
.
Sebenarnya, Anna sudah cukup berterima kasih pada pria berkacamata dan berwajah ramah tersebut karena bersedia mengantarkan-nya pada Kiandra.
Ia genggam erat tali paperbag bertulis Dior yang sedari tadi ia bawa-bawa.
Aku harus segera menyelesaikannya.
Anna bertekad dalam hati.
"Hei, hei...!"
Akan aku kembalikan semua ini, lalu secepatnya pergi.
Anna masih berkutat dengan pikirannya.
Tapi...kue nya sudah terlanjur aku makan. Apa aku ganti uang?
mata Anna mendadak melebar.
Keluh-nya dalam hati.
"Heh! Anna!"
Anna kaget mendengar namanya di panggil.
"Lhoh...??" ia menegok ke kanan dan ke kiri.
Dimana laki-laki bernama Ethan tadi?
tanya-nya dalam hati.
"Kenapa masih berdiri? kau tak mau duduk?" tanya Kiandra serius.
Akhirnya Anna sadar, jika kini di ruangan itu hanya ada dirinya dan pria berwajah seram yang tempo hari bersikap aneh dan mengirim banyak hadiah untuknya.
"Kenapa masih diam saja?" suara baritone Kiandra kembali terdengar.
"Kemana Abang yang tadi?" bukannya duduk sesuai arahan Kiandra. Anna malah menanyakan hal lain.
"Abang?" mata Kiandra memicing.
"Iya." Anna menjawab mantap.
Apa Ethan setan itu lebih menarik dari pada aku?
kedua alis Kiandra hampir menyatu.
Apa penampilanku dengan jas lengkap seperti ini terkesan tua di banding Ethan yang memakai kaos berkerah?
Kiandra malah memikirkan hal yang tak perlu.
"Dia sudah pergi."
Mata Anna melebar.
"Kau tak dengar tadi dia berpamitan padamu?" Kiandra melengos.
Melihat raut Kiandra yang makin tak bersahabat, Anna semakin tak tenang.
*Jangan sampai dia berpikir buruk tentangku*.
batin Anna memperingatkan.
Sembari berjalan perlahan mendekati Kiandra yang berdiri di samping meja kerja, Anna mengamati pria tersebut.
Kalau saja dia sedikit lebih ramah dan mau tersenyum, pasti...
Ia menilai dalam hati.
"Lihat apa kau?" tanya Kiandra galak.
Anna langsung tersentak.
Bodoh! kebiasaanmu belum hilang juga rupanya.
Anna ingin memukul kepalanya sendiri yang tak bisa mengontrol pikirannya.
"I, ini." Takut-takut Anna mengulurkan papperbag yang ia bawa.
Dahi Kiandra berkerut.
"Saya kembalikan." ia melanjutkan.
Kerutan di dahi Kiandra makin bertambah.
Tangan Anna sudah pegal. Tapi Kiandra tak juga mau mengambil paperbag tersebut.
"Saya taruh di sini." Akhirnya dia letakkan benda tersebut ke atas meja.
Keadaan makin tak nyaman untuk Anna, karena Kiandra masih saja berdiri tanpa respon.
"Ku, kue-nya...sudah saya makan. Tapi...tapi akan saya ganti secepatnya." Anna tertunduk sambil memainkan jari-jari tangan.
Dalam pandangan Kiandra, Anna yang seperti itu, makin mirip dengan kakak perempuannya di masa muda.
"Sa, saya permisi." tak berani melihat muka Kiandra. Anna langsung memutuskan undur diri.
"Apa kurang jelas yang aku tulis?"
Belum juga Anna mencapai pintu, suara Kiandra yang lugas memenuhi ruang.
Anna berbalik dan melihat sosok itu telah berjalan mendekat.
"Kau bisa baca kan?" tanya Kiandra sambil membungkukkan badan agar sejajar dengan wajah gadis itu.
"Sa, saya...." Anna gagap melihat wajah Kiandra tepat berada di hadapannya.
"Kalau aku bilang dimakan, ya dimakan. Dipakai, ya dipakai. Begitu saja kenapa kau tak paham?" kedua alis tebalnya yang terpatri sempurna itu berkerut.
...****************...
Selamat untuk rangking 1-10 mingguan berhak mendapat pulsa @10rb.
Sikahkan follow IG Hijaudaun_birulangit untuk konfirmasi nomor ponsel atau yang punya telegram bisa join groub Hibi_Cluster untuk PC saya.
Yang belum beruntung jangan khawatir, karena setiap minggu saya akan bagi-bagi pulsa lagi untuk rangking 1-10 mingguan 💙
Terima kasih sudah membaca Seducing Miss Introvert
🙏
-🍀-