
Semua berjalan sebagaimana mestinya, hingga tanpa sadar bulan berganti begitu saja.
Nyaris tak ada yang berubah dari aktifitas Kiandra yang sibuk. Tetapi, kehilangan Anna cukup membuatnya sulit berkonsentrasi, meski sebisa mungkin ia tak memikirkan.
Namun, saat malam menjelang dan segala rutinitas padatnya selesai, di situlah ia mulai kelimpungan, sebab tak bisa mengendalika pikirannya yang selalu tertuju pada wanita itu.
Ini hanya soal rasa bersalah dan aku yang tak sempat minta maaf.
Kiandra menarik kesimpulan dan menekankan hal itu dalam hati.
Tapi, jauh di dalam lubuk hati. Sebenarnya Kiandra tahu, jika ini bukan sekedar rasa bersalah ataupun sebuah permintaan maaf.
.
.
Jika biasanya hanya malam minggu Kiandra berkumpul bersama teman-temannya di Club, kini hampir tiap malam dia menemani Roy di club nya.
"Mana yang lain?" tanya Kiandra yang baru saja datang.
"Kau lupa ini malam selasa?" Roy balik bertanya.
"Mungkin saja kan. Mereka senggang, lalu ke sini." Kiandra duduk di samping pria berpenampilan nyentrik itu.
"Seperti kau yang sekarang senggang terus?" Roy menyesap rokoknya dan tertawa bersama kepulan asap yang ia hembuskan.
Kiandra cuma menarik sudut bibir.
Mereka berdua duduk di tempat paling sudut, sembari melihat para pengunjung yang berjoget ria di iringi musik remix dan guyuran lampu warna-warni.
Seorang pelayan membawakan dua botol equil dan sepiring roti tortila isi daging.
Kiandra menuang equil-nya dalam gelas, lalu meminumnya sampai habis.
Pelayan di situ tahu seleranya, dan tanpa perlu bilang, para pelayan akan menyajikan minuman non alcohol.
Roy mengambil satu gulung tortila, kemudian mengolesakan sedikit saus dan melahapnya.
"Kau sedang ada masalah?" tanya Roy setelah menelan makannya.
"Tidak." Kiandra yang bertopang dagu, menjawab singkat sambil menatap lurus ke arah lantai dansa yang di penuhi keseruan.
Roy yang paham karakter Kiandra, memilih tak bertanya lagi dan santai saja menikmati suasana.
Tempat hiburan malam milik-nya makin meriah, ketika musik di ganti dengan yang lebih menghentak, membuat para dancer histeris dan makin tenggelam dalam kesenangan dunia.
Namun, bukannya ikut terhibur, Kiandra malah semakin hampa dalam sunyi hatinya yang terasa kosong.
"Ayo, ikut joget." ajak Roy seraya berdiri.
"Malas." Kiandra melengos.
"Kalau malas tidur di rumah." gurau Roy yang sudah mengangkat kedua tangan dan mengoyangkan pinggul.
Kiandra mengangkat jempol.
Volume musik di naikkan dan pengunjung makin memanas dengan menari erotis dan tak segan saling cumbu dengan lawan jenis di keremangan lampu disko.
Kiandra memegangi kepalanya yang malah pusing dan telingannya seakan tuli dengan suara musik sekeras itu.
Kenapa dia bisa betah dengan ini semua?
batin Kiandra sambil memandangi Roy yang memang anak dugem dari masa putih-abu.
"Aku pulang saja." ujar Kiandra sembari bangkit dari duduk.
"Loh? kenapa?" Roy tak mengerti.
"Tidur di rumah." Kiandra menirukan anjuran pria itu tadi.
Roy terbahak.
Tak berkata apa-apa lagi, Kiandra balik badan dan melambaikan tangan.
"Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur!"
Kiandra mendengar seruan Roy dari kejauhan. Tapi, ia memilih mengabaikan.
.
Kiandra menghela nafas panjang begitu berada di luar dan di sambut udara malam yang sejuk.
Dalam jarak beberapa meter, Victoria setia mengikuti ke mana Chief-nya itu pergi.
Setelah memastikan Kiandra masuk ke dalam mobil, Victoria segera menaiki motor-nya sendiri dan bersiap membuntuti.
Namun, sampai beberapa menit, mobil Kiandra tak juga berjalan.
Apa Chief sedang menerima telpon?
tebak Victoria yang sudah mengenakan helm fullface.
Bodyguard yang tak terlihat seperti wanita dengan dandannya yang serba hitam dan mengendarai motor sport itu mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Dia memang di tuntut untuk selalu waspada, sebab yang ingin menjatuhkan keluarga Marthadinata lewat Chief-nya itu banyak, dan rata-rata tak terlihat.
.
"Ini sudah hampir tiga bulan. Kenapa tetap tidak ada hasil?" seperti tebakan Victoria, di dalam mobil Kiandra memang tengah menelpon seseorang.
"Saya juga sudah berusaha Chief." suara Aldo terdengar. "Tapi, modal kita cuma foto buram dan sebuah nama. Itu seperti mencari jarum di atas tumpukan jerami."
"Kau mau menguji kesabaranku?" kening Kiandra berkerut.
"Astaga...mana saya berani Chief." nada bicara Aldo terdengar putus asa. "Saya sudah menyuruh beberapa orang mencari, bahkan sampai melibatkan aparatur negara. Tapi, orang bernama Anna ini benar-benar tak meninggalkan jejak apapun."
Kiandra mendengus sambil bertopang dagu. Pandangangan-nya ia buang jauh ke kegelapan malam dari kaca mobil.
Sedangkan Aldo masih terus berbicara tentang tugas tambahan yang di bebankan padanya sejak beberapa bulan lalu.
"...Saya sampai lupa urusan kantor, hanya untuk mencari detektif yang mumpuni untuk..."
Tak mau lagi mendengar omong kosong, Kiandra mematikan sambungan telpon sebelum Aldo selesai bicara.
"Tidak berguna." Kiandra berguman, lalu menjalankan mobil keluar dari pelataran Club.
.
"Memberi makan anjing, mencari orang, menyelesaikan tugas, ini dan itu. Lama-lama bukan asisten pribadi. Tapi asisten serba guna." Aldo berbicara pada ponselnya yang telah mati.
Setelah puas mengeluarkan uneg-uneg, Aldo menaruh benda itu di atas nakas dan kembali melanjutkan tidur.
.
.
Malampun bergulir.
Bunyi alarm pada ponsel, memaksa Kiandra yang baru tidur jam lima pagi untuk bangun.
Dengan mata setengah terpejam, ia mematikan alarm yang menunjukkan pukul tujuh.
Kiandra membuka selimut dan bergegas mandi. Ada rapat jam sembilan dengan para manager cabang, dan sebagai pemimpin yang baik, ia tidak boleh sampai datang terlambat.
Tak lama ia sudah tampil prima dengan setelan jas dari Brioni dan tengah memasang jam tangan merk Vacheron Chonstantin Tour de l' lle yang ia miliki sebagai hadiah ulang tahun ke 25 dari Daddy dan Ibu-nya.
"Perfect." Kiandra memuji tampilannya di cermin yang memang sangat sempurna.
Dia hendak mengambil cincin bvlgari sebagai pelengkap, ketika pandangannya tertuju pada kotak perhiasan warna tosca bertulis Tiffany and Co.
"Tolong jangan kirim apapun lagi."
Sorot mata Anna yang selalu di penuhi kegelisahan nampak nyata dalam pikiran, membuat ekspresi Kiandra berubah muram.
Ia buka kota kecil tersebut. Sepasang anting yang mungkin tak akan pernah Kiandra lihat Anna memakainya.
Dering ponsel dari balik jas, membuat Kiandra tersadar dari lamunan dan segera menutup kota perhiasan itu.
"Mau apa dia pagi-pagi menelpon?" kening Kiandra berkerut melihat foto profile dua bayi dengan nama Kirana.
Kiandra tak langsung menjawab. Dia mengambil tas, kemudian mengusap kepala Snow yang sedang tertidur dan membuka pintu kamar.
Seorang cleaning service sedang membersihkan lantai, kemudian tersenyum ketika melihat Kiandra datang.
"Pagi." Kiandra balas menyapa, saat melewati petugas kebersihan itu.
Ponsel terus berdering, saat Kiandra memasukan dua lembar roti tawar ke dalam mesin pemanggang, lalu melumuri roti tersebut dengan selai stroberi dan mengigitnya sedikit demi sedikit.
Si cleaning service sampai heran, melihat majikannya duduk tenang di meja makan dan tengah menikmati sarapannya sambil membaca koran, padahal di sebelahnya ponsel terus berbunyi.