
Anna memperlambat langkah, saat melihat Dave dari kejauhan. Pria berumur itu terlihat sedang berbincang dengan Kiandra. Ia memegangi dadanya yang mendadak berdebar, setiap kali melihat suami dari wanita yang menyuruhnya memanggil Kakak.
Aku tidak mengidap Gerontofilia, kan?
batin Anna khawatir.
Tiba-tiba Dave menyadari kehadirannya, membuat jantung Anna seketika ingin melompat, saat mata mereka saling beradu.
Anna mulai menegang, ketika pria itu berjalan ke arahnya, kemudian tersenyum begitu mereka berpapasan. Ia hanya bisa merunduk, tanpa berani membalas senyum yang sangat jarang ia lihat itu.
Sampai Dave berjalan melewatinya, Anna masih bisa merasakan sensasi aneh menjurus ke perasaan rindu yang terasa mengebu di rongga dada.
Kenapa rasanya jadi sedih...?
pikir Anna bingung.
Ia menoleh ke arah Dave yang kini hanya terlihat punggungnya di kejauhan, kemudian menghela nafas panjang dan berbalik.
Namun, ia di kagetkan dengan Kiandra yang sudah berdiri di depan mata.
"Astaga...! Kenapa Anda.." Anna mengusap-usap dada untuk menenagkan diri.
"Kenapa?" potong Kiandra sembari sedikit membungkuk agar muka mereka sejajar. "Kaget, ya?" ia menyringai.
"A, apa?" Anna mengerjap berkali-kali karena tegang.
Kiandra mendengus sambil menegakkan punggung. "Kau melihat Dave seperti melepas kekasih ke medan perang saja." ucapnya ketus.
Anna membulatkan kedua mata. "Ke, kenapa Anda bisa berpikir begitu?" ia berusaha menyangkal.
Kiandra membuang muka, dan berjalan lebih dulu.
"Tuan, eh! Kian..." Anna belum sanggup menyebut nama secara langsung. Tetapi, ia terus mengejar pria yang terlihat sedang marah itu.
Hingga mereka sampai di gazebo dan duduk bersama, Kiandra belum juga mau melihat, apa lagi berbicara dengannya.
Anna jadi merasa tak enak. Ia pandangi pria di sampingnya sambil merapatkan cardingan rajut. "Kenapa Anda jadi semarah ini?" ia memberanikan diri membuka obrolan.
Kiandra langsung menoleh ke arahnya dengan kedua alis hampir menyatu.
Anna meneguk ludah. Jujur ia gentar. Tapi, ia tak mau ada salah paham. "Kita ke sini... hanya untuk saling diam?" tanyanya pura-pura polos.
Kiandra mendengus sambil melipat kedua tangan ke dada. "Kau ini, dengan ku saja tak pernah sampai seperti itu. Tapi, kenapa dengan Dave matamu sampai tak berkedip?"
Kedua mata Anna mengerjap.
"Lihat!" tunjuk Kiandra kesal. "Berbeda sekali ekspresimu ketika sedang melihat Dave tadi, dengan saat melihat ku sekarang."
Dia cemburu?
tebak Anna dalam hati.
"Apa? Kenapa malah melotot seperti itu?" muka Kiandra sampai memerah.
Anna tak bergeming, serta hanya memandangi dengan jantung berdesir, saat menyadari kecemburuan pria itu.
"..Maaf.." kata itu yang pertama keluar dari mulutnya.
Kiandra bertambah jengkel, karena bukan itu yang ia harap. Ia membuang muka, dan memilih melihat lurus ke arah danau buatan yang berair tenang.
Angin pagi berhembus, membuat pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi, serta tumbuh berjajar mengelilingi tembok pembatas dengan dunia luar berayun lembut.
Langit yang tadinya masih berwarna kelabu, perlahan mulai memperlihatkan birunya yang indah, beserta awan-awan putihnya yang bergerak perlahan.
Burung-burung liar terbang berkelompok, serta sebagian ada yang bertengger, atau membuat sarang di pohon-pohon cemara yang memang menjadi rumah untuk mereka.
Belum terdengar keriuhan manusia, dan hanya ada hymne dari hewan-hewan mungil yang menentramkan. Memang, tak ada yang bisa mengalahkan kedamaian pagi yang indah seperti ini.
.
"Entah kenapa... saya merasa dekat dengan Tuan Dave." ucap Anna memecah sunyi.
Seketika Kiandra melihat ke arahnya. "Dekat?" ia mengulang seperti orang yang memiliki gangguan pendengaran.
Anna mengangguk sembari menatap kedua mata pria itu. "Saya sendiri tidak tahu kenapa merasa begitu. Perasaan ini muncul tiba-tiba, saat saya dan Tuan Dave duduk bersama."
Kali ini kening Kiandra berkerut dengan pandangan bertanya.
"I, ini tidak seperti yang Anda sangka." Anna cepat mengklarifikasi. "Tuan Dave mengkhawatirkan Anda, lalu... eemmm... beliau mendatangi saya, dan kami membicarakan Anda..." suara Anna melemah di kata terakhir.
Dasar tukang ikut campur!
batin Kiandra kesal.
"Berkat beliau, saya jadi tahu tentang Anda." Anna segera menimpali, karena tahu Kiandra sedang berpikiran negatif tentang kakak iparnya tersebut.
"Tahu apa? Bukannya kau sudah tahu tentang aku?" malas-malas Kiandra berkata.
Sudah tahu aku cemburu. Tapi, malah membela laki-laki lain.
Anna jadi serba salah. Ia ingin menjelaskan lebih mendetail. Tapi sudah lebih dulu gamang, karena tanggapan Kiandra yang tak baik.
Gara-gara Dave, aku jadi bersikap kasar lagi padanya.
pikir Kiandra sambil menghela nafas.
Ia sedikit menyesal, karena sejak insiden mabuk dulu sudah berjanji untuk bersikap lebih sabar.
"Po, pokoknya... saya tidak ada perasaan cinta, atau yang menjurus ke hal-hal seperti itu." Anna memberitahu.
Kiandra cuma melirik.
"Jadi, Anda tak perlu cemburu ataupun marah." lanjut wanita itu sembari memandang Kiandra tulus.
Sesaat pria itu tercenung. Kemudian memalingkan muka dengan wajah merah padam.
Kenapa dia jadi terlihat cantik sekali?
ia menekan dadanya yang mendadak bergemuruh.
Anna yang melihat respon Kiandra, mengira pria itu masih tak percaya. "Benar, saya dan Tuan Dave..."
"Sudah!" Kiandra langsung barbalik.
Anna hampir berjingkak karena kaget.
"Jangan bicara atau menyebut nama laki-laki lain saat bersamaku!" ia memerintah.
"E, eh..? I, iya." spontan Anna menjawab.
Kiandra mendengus dengan kening yang masih berkerut.
Menguras energi sekali bicara dengan wanita.
ia mengeluh dalam hati.
Mereka kembali terdiam tanpa ada yang bicara. Serta yang terdengar hanya gesekan sapu lidi para pekerja yang membersihkan halaman, dan cicitan burung liar yang sesekali terbang menukik ke dekat gazebo.
Anna yang tidak tahu harus berbuat atau bicara apa lagi, memilih merunduk melihat rumput hijau di bawah kakinya.
.
"Ceritakan, kenapa kau sampai pergi dari Negaramu." kata Kiandra beberapa saat kemudian.
Jantung Anna seketika berdetak lebih kencang. Ia remas cardingan rajutnya kuat-kuat, untuk meredam tangannya yang tiba-tiba sudah gemetar.
Keadaan yang tadinya remang-remang, kini benar-benar telah cerah, kendati matahari belum memunculkan bias sinarnya.
Jujur Anna takut jika di singgung tentang masa lalu. Tetapi, saat ia mengingat semua yang sudah terjadi di rumah itu, ia segera bisa memantapkan hati.
"... Saya.. melakukan kesalahan yang tak bisa di maafkan." ia mengawali kisah.
Kiandra membenarkan letak duduk menjadi miring menghadap ke arahnya, sambil menyandarkan punggung ke tiang gazebo yang terbuat dari kayu jati.
"Orang tua saya sangat malu, hingga memilih turun tahta. Sudah seperti itupun, para kerabat masih mencemooh, karena saya adalah biang yang menyebabkan permata pusaka kesultanan Kelantan hilang sampai sekarang." ia tertunduk sedih.
"Permata pusaka?" Kiandra memastikan.
Anna mengangkat muka dan melihat ke arahnya. "Batu permata milik Baginda Sultan Iskandar yang di perolehnya ketika menikah dengan Ratu Suhita dari kerjaan Majapahit tempo dulu." ia memberi tahu.
Pikiran Kiandra langsung berputar. Maklum saja, ia paling lemah soal sejarah.
"Saat pemerintahan Sultan Ibrahim, batu permata itu di sematkan di mahkota Raja sebagai hiasan, lalu di ambil sedikit untuk di jadikan cincin untuk Sultanah Zainab sebagai lambang cinta sang Raja untuk Ratunya. Lalu hal itu menjadi sebuah tradisi, di mana cincin itu menjadi milik Ratu-Ratu selanjutnya. Termasuk Ibu saya, orang terakhir yang mengenakan cincin tersebut sebelum hilang." Anna kembali menundukkan pandangan.
"Kau menghilangkan barang sepenting itu?" Kiandra tak percaya.
Anna mengigit bibir bawah sambil memainkan jemari tangan di pangkuan. "Tidak hanya permata warisan keluarga..." suara Anna terdengar lemah. "Tapi... perusahaan milik keluarga, juga ikut hilang karena ulah saya..."
Kiandra terdiam dengan ekspresi serius.
"Kalau Anda mau tahu, di tempat asal, saya ini hanya aib. Inginnya saya mati saja. Tapi, saya terlalu pengecut untuk mengakhiri nyawa saya yang tak berharga." Anna mencoba tegar untuk tak menangis, meski bahunya sudah gemetar dan kedua matanya sudah berkaca-kaca.
Ia menoleh ke arah Kiandra yang masih mematung. "Lebih dari itu... Saya ini sudah tak berharga. Tidak layak untuk bersanding dengan Anda yang terhomat, dan juga..."
Kalimat Anna terhenti, ketika Kiandra menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Kenapa selalu merendahkan diri sendiri?" tanyanya dengan kedua alis hampir menyatu. "Aku menyukaimu! Bahkan aku mau bertinkah konyol untuk mendapat perhatianmu. Aku masih bingung cara melamarmu, tapi kau malah bilang aib dan tak berharga? Apa kau pikir seleraku seburuk itu?" Kiandra kesal bukan main.
Kedua mata Anna seketika membelalak.
"Memang berapa harga permata itu? Perusahaan seperti apa milik keluargamu yang ikut hilang itu? Kau tinggal bilang padaku, dan aku bisa menyelesaikan dengan sekali menjentikan jari. Makanya jangan berpikir, mati! Mati! Itu semua tak akan selesai." ia melepas bekapannya. "Yang ada, kau meninggalkan beban untuk keluargamu yang masih hidup!" ia menambahkan dengan intonasi tinggi menekan.
Raut muka Anna keruh, kemudian perlahan air matanya mengalir membasahi pipi.
Sial.. Dia malah menangis.
Kiandra tepuk jidat.