Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SI ANEH



Anna tertohok mendengar perkataan Kiandra yang sarkas.


Meski kesal. Tapi Anna harus mengakui, jika secara sadar atau tidak, kita selalu ingin tahu masalah orang lain. Entah ingin tahu karena ingin membantu atau sekedar ingin tahu untuk memuasakan hasrat diri.


"Di situ!" pria berkemeja cokelat itu menunjuk ke arah di mana Kiandra dan Anna duduk. "Semalam saya sudah membooking tempat itu. Kenapa sekarang ada orang lain yang menempati?"


"Mohon maaf sebelumnya Pak." Manager itu merendah. "Mungkin pegawai kami yang kurang koordinasi. Sebelum anda, sudah ada pelanggan lain yang telah lebih dahulu memesan tempat tersebut."


"Omong kosong!" Pria berperawakan tinggi dengan rambut tersisir rapi itu membentak.


"Sudahlah. Mungkin benar pegawainya kurang koordinasi." pasangannya memilih menyudahi.


Pria itu mengerenyitkan dahi. Dari kejauhan ia tatap baik-baik Kiandra yang tengah menikmati hidangannya.


Mendadak pria tersebut menyeringai. "Pantas saja..." ia kembali memandang si Manager.


Seorang pelayan datang, kemudian membisikan sesuatu kepada si Manager. Pria tengah baya itu manggut-manggut, lalu menyuruh-nya pergi.


"Kami ada tempat lain dengan view tak kalah indah dengan tempat tersebut. Jika anda berkenang...."


"Marthadinata." Pria berkemeja cokelat itu berkata.


Raut si Manager yang ramah, tiba-tiba berubah.


"Buruk sekali pelayanan di sini." cemooh pria tersebut.


"Kami minta maaf." Manager itu merunduk. "Tapi jika anda berkenang, kami sudah menyediakan tempat yang sama bagusnya dengan tempat yang sebelumnya di pesan. Kami juga akan memberikan diskon khusus untuk anda dan pasangan."


Pria itu terkekeh. "Sebegitunya kalian melindungi pelanggan emas."


"Honey, sudahlah. Kita terima saja tawaran mereka. Kita tetap bisa makan, bahkan mendapat diskon." Wanita dengan setelan baju kerja warna putih dan kuning itu menengahi.


Kening pria itu berkerut dan wajahnya kian menegang. Namun, ia tak ada pilihan selain mengiyakan permintaan dari pasangannya.


"Silahkan..." Manager itu mempersilahkan mereka berdua.


"Ayolah Honey, jangan cemberut terus." Wanita itu mengapit lengan si pria dan berusaha menghibur.


Namun, pandangan si pria masih tajam menatap Kiandra yang duduk santai di bangkunya.


Huru-hara kecil itu segera berhasil di atasi.


Pihak restoran dengan cekatan melayani pasangan yang kini duduk berselang empat meja dari tempat Kiandra dan Anna berada.


Posisi duduk yang berurutan dan jarak yang lebar, membuat pria berkemeja cokelat itu hanya bisa melihat punggung Anna. Terlebih fokusnya memang bukan pada Anna, tapi pada Kiandra yang memiliki mimik angkuh.


"Saya sudah kenyang." Anna mengelus perutnya yang seolah di dalam ada sesuatu yang mengeliat.


Dalam tempo beberapa menit, dia telah menghabiskan 3 piring dengan masing-masing berisi 5 potong sushi.


"Spicy tuna-nya tinggal satu. Kenapa tidak di habiskan semua?" tanya Kiandra lugas.


"Tidak, terima kasih. Saya benar-benar sudah sangat kenyang." Tolak Anna sembari mengibas-ngibasakan kedua tangan.


Kiandra yang duduk bersandar dan melipat kedua tangan ke dada menatap dengan kening berkerut.


Anna mengkerut di pandang begitu. Ia takut, kalau-kalau Kiandra akan memaksanya menghabiskan semua.


Sebenarnya dengan 1 piring sushi saja dia sudah kenyang. Tetapi, karena Kiandra terus menyuruhnya makan, maka dia terpaksa menghabiskan sampai tiga piring.


Aduuh...perutku jadi melilit.


keluh Anna dalam hati.


Diam-diam di bawah meja ia pegangi perutnya yang mendadak buncit karena kebanyakan makan.


Kiandra melihat jam tangannya sesaat, memastikan jika ia masih punya waktu untuk mengantar Anna pulang sebelum kembali ke kantor.


"Baiklah, di bungkus saja sisanya dan kau bawa." Pria berjas hitam itu memutuskan.


"Dibungkus?" mata Anna melebar. Ia tak menyangka Kiandra type orang yang membawa pulang makanan sisa. Bukan makanan sisa sebenarnya. Tapi, makanan yang di pesan dan tidak habis.


"Kenapa? kurang?" tanya Kiandra, sebab Anna memandang heran ke arahnya.


"Tidak." Anna mengeleng panik.


"Kau merasa aku aneh?" tebak Kiandra.


Kiandra hanya bertanya. Tetapi, karen nada bicaranya tegas dan wajahnya tak santai, Anna jadi takut dan tak berani memandang wajahnya.


"Ibuku bilang, makanan adalah berkah. Kita patut bersyukur karena tak hanya bisa kenyang. Tapi, juga bisa merasakan makanan yang enak."


Anna menengadah. "Ibu...?" tanya sadar ia berkata.


"Iya." jawab Kiandra dengan mimik kaku tak berubah. "Sejak kecil ibu selalu memarahi kami jika menyisahkan makan. Ibu juga tak segan membawa pulang makanan yang tak habis."


Walaupun sebelum itu pasti Daddy akan marah, karena di anggap memalukan.


Kiandra memijit kening. Kadang ia merasa kedua orang tuanya bak Romeo dan Juliet. Namun, tak jarang hubungan keduanya seperti Tom dan Jerry.


"Beliau pasti orang yang sangat baik." Anna tersenyum tulus.


Ia, pastilah beliau orang yang baik hatinya, karena Om itu pun terlihat ramah dan penyayang. Pasangan yang sempurna.


Anna ikut berbahagia untuk pria dewasa yang menjadi cinta monyetnya tersebut.


"Iya, beliau baik dan sangat sabar pada kami." Kiandra jarang membicarakan tentang keluarganya. Tapi, entah karena petikan koto yang menenangkan atau memang karena Anna yang membuatnya nyaman. Kini ia mau sedikit berbagi cerita pada orang lain.


"Kami?" Anna memiringkan muka dengan raut ingin tahu.


Kiandra yang awalnya sedang memandang langit biru, menoleh dan mengkerutkan kening.


"Aku dan kakak-ku. Tanya apa lagi? mau jadi wartawan?" ucap Kiandra ketus.


Nyali Anna seketika kembali menciut.


Apa-apaan dia? cerita-cerita sendiri, marah-marah juga sendiri.


batin Anna sembari memandangi Kiandra yang tengah memanggil pelayan untuk di bawakan mesin EDC.


Kenapa tak langsung ke kasir? toh pintu keluar juga lewat sana.


Anna berkata dalam hati, saat melihat Kiandra melakukan pembayaran dengan mesin berbentuk kotak panjang seukuran telapak tangan.


"Tolong packing sushi dan katsu yang tersisa." ucap Kiandra setelah kertas struk ia terima.


Bibir Anna tanpa sadar mengerucut. Meski ada kata 'tolong'. Tapi wajah Kiandra tak menunjukkan demikian.


Dia betul-betul aneh.


Anna menghela nafas.


"Kenapa diam saja? kau tak mau pulang?"


Anna tersentak, melihat Kiandra yang sudah berdiri menjulang di hadapannya.


"Pu, pulang. Tentu saja pulang." Anna lamgsung bangkit dari duduk.


Ia bisa mendengar Kiandra mendengus, kemudian tanpa menunggu dirinya. Pria dengan setelan jas dari brand lokal Salt and Paper itu telah berjalan lebih dulu.


Dasar, orang aneh.


umpat Anna dalam hati.


Pria berkemeja cokelat itu melihat Kiandra berjalan ke arahnya, sebab pintu keluar memang berada di sana.


"Lihat dia." dengan ekor mata, ia menunjuk ke arah Kiandra.


Pasangannya menoleh kebelakang.


"Woow..model?" wanita itu terkesima.


"CEO Martahdinata-Sanjaya Groub." Pria itu meminum ocha dinginnya. Tetapi, pandangan-nya masih lekat ke arah Kiandra.


"Perfect Prince." ia berkata serayak mengerlingkan sebelah mata.


Kiandra melewati meja pasangan itu begitu saja.


Namun, Anna yang terburu mengikuti langkah kaki Kiandra yang lebar, terjerembab karpet pelapis lantai dan jatuh tepat di samping meja pasangan tersebut.


Anna spontan mengaduh, membuat Kiandra berbalik.


Awalnya pria itu cuma melihat tanpa berniat menolong.


Namun, ketika Kiandra yang langsung membantu Anna bangkit dan wajah gadis itu terlihat. Tiba-tiba mata pria itu melebar.


"Delana?" ujarnya sambil berdiri.


Anna seketika mendongkak dan melihat ke arahnya.


...****************...


Halo, silahkan follow IG Hijaudaun_birulangit untuk konfirmasi nomor HP atau silahkan gabung groub Tele untuk Pc.


🐢. Kapan bagi-bagi pulsanya berakhir?


Sudah pernah saya jawab ya di story IG, sampai saya bosan 😅



Terima kasih sudah membaca, memberikan vote, gift dan berkomentar positif. 🙏


-🍀-