
"Loh? Kenapa Anda sudah kembali?" tanya Aldo heran.
Kening Kiandra berkerut. "Memang aku harus laporan padamu kalau ingin pulang?" ia balik bertanya.
"Tentu tidak, Chief." Aldo yang sudah biasa dengan keketusan Kiandra menghela nafas. "Hanya saja, saya bisa langsung ke kantor, dan tak perlu mampir untuk memberi makan Snow." ia meletakkan kantong plastik hitam ke atas meja. "Kemarin makanannya tinggal sedikit, jadi saya berinisiatif membelikannya." ia menjelaskan.
Kiandra cuma melihat bungkus plastik berisi pakan tersebut tanpa mengatakan apapun.
"Kalau begitu... saya pamit dulu Chief." ucap Aldo canggung karena tak mendapat respon.
"Bagaimana pesta nya kemarin?" mendadak Kiandra ingin tahu
Langkah Aldo seketika terhenti, lalu kembali menghadap ke arah Kiandra. "Menyenangkan." jawab-nya ringan. "Para petinggi Golden Hope, termasuk Pak Rico menyayangkan ketidak hadiran Anda. Tapi, mereka sepenuhnya berterima kasih kepada Anda yang sudah berjasa besar pada perusahaan mereka yang baru seumur jagung." ia bercerita. "Pak Rico juga memperkenalkan saya kepada beberapa pengusaha Malaysia. Mungkin... jika Anda tidak keberatan, kita bisa menjadwalkan makan siang untuk menjalin relasi?" ia menawarkan dengan hati-hati
Namun, Kiandra yang biasanya nenolak atau menerima dengan nada lugas dan pasti, kini cuma termenung dengan dahi berkerut dalam.
Aku tidak salah bicara, kan?
batin Aldo bingung.
"Eemmm... itu tadi... kalau Anda berkenang Chief. Kalau tidak, ya.. tidak apa-apa." ia meringis.
Kiandra masih bungkam. Tapi, kali ini pandangannya berubah tajam saat menatapnya.
"A, ada apa, Chief?" Aldo mulai was-was akan sesuatu yang tak Kiandra ketahui.
Jangan bilang kalau dia sudah tahu.
pikiran Aldo mulai tak tenang.
Namun, ekspresi tegang Chief nya itu perlahan mengendur. "... Rico itu.. " ia ragu untuk meneruskan.
"Apa Chief?" Aldo terkejut. "Pak Rico?" ia memastikan.
Kiandra memperbaiki posisi duduk, lalu kembali menatap Personal Asisten kepercayaannya itu. "Dulu Rico pernah mengatakan, kalau Anna mirip dengan Putri dari Negaranya, kan?" ia bertanya seolah itu sesuatu yang tak lazim.
Kedua mata Aldo membulat. Tetapi, kemudian spontan ia menepukkan kedua telapak tangan. "Oh! Lelucon Pak Rico itu, Chief?" tebaknya sembari tertawa. "Iya, saya masih ingat!" lanjutnya. "Tuan Putri dari Kelantan itu memang mirip..." kalimat Aldo terputus, saat melihat Anna yang tiba-tiba muncul dengan mengenakan kemeja Kiandra yang kebesaran dan rambut yang masih basah terurai.
Anna yang sudah bersiap meluapkan emosi, seketika tersentak melihat kehadiran orang lain di Apartemen itu.
Sementara Kiandra, ia terpaku sambil menelan ludah, melihat penampilan Anna yang baginya terlihat jauh lebih seksi dengan wajah polos dan kemeja miliknya tersebut.
Anna yang malu, segera masuk kembali ke dalam kamar. Sedangkan Aldo, ia nampak kikuk dengan pikirannya yang menjurus ke hal-hal dewasa.
"A, anu.. Chief." akhirnya ia bisa mengucapkan sesuatu. "Sepertinya... saya langsung ke kantor saja untuk menghandel meeting pagi." ia melonggarkan dasinya yang sebenarnya sudah rapi dan pas.
"Iya, handle semua meeting pagi ini." Kiandra berkata sembari terus memandangi punggung Anna yang menjauh. "Mungkin setelah jam makan, baru aku sampai di kantor." ia melanjutkan sambil menoleh ke arah Aldo.
"Baik, Chief." pria itu mengangguk, seraya melirik sesaat ke arah dimana Anna menghilang, kemudian membuka pintu dan pergi.
Di luar, ekspresi ramah Aldo seketika berubah serius. Ia berjalan tegap menelusuri lorong Apartemen mewah berlantai dua puluh tersebut, lalu lurus menuju lift dan turun sampai basement.
Sesampai di basement yang di gunakan sebagai area parkir, Aldo menuju mobil miliknya sembari menyalakan kunci sensor. Begitu duduk di dalam mobil, ia menyalakan mesin dan mengambil ponsel dari balik jasnya.
Ia mengeser layar smart phone tersebut, kemudian mengamati benda itu yang ternyata tersambung pada kamera CCTV.
"Mungkin kalau tak melihat langsung, aku tak akan percaya." Aldo berkata sambil melihat rekaman Kiandra dan Anna.
Tiba-tiba layar ponsel berubah menjadi foto senjata api dengan tulisan, Masa Depanku calling...
Raut Aldo langsung menegang. Tapi, di angkatnya juga telpon tersebut.
"Halo, Vic?" ucapnya riang.
Namun, si penelpon tak langsung bersuara.
"Halooww..." nada bicara Aldo di buat lucu.
Tetapi bukan jawaban yang di dengar, melainkan Victoria sendiri yang muncul dalam jarak beberapa meter dari mobilnya yang masih terparkir.
Aldo tertegun melihat kedatangan Victoria dari balik kaca mobilnya yang gelap.
"Hentikan."
"Astaga Vic, kalau kau di sini, kenapa kita tak langsung bicara?" Aldo masih bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Victoria menatap mobil Mazda CX-5 warna Snowflake White Pearl Mica yang di kendarai Aldo tanpa kedip, sementara telinganya masih mendengar pria itu mengeluarkan lelucon dan rayuannya yang seperti biasa.
"Kau tahu Vic, Chief kita saja sudah punya pacar. Kita kapan? Kau tega membiarkan aku lumutan seperti ini." Aldo mengoceh.
Victoria bisa saja bersikap tegar, serta pasang wajah minim ekspresi. Tapi, batinnya tak bisa berbohong, dan sorot matanya memperlihatkan semua kepedihan itu.
"Tuan Besar sudah memperingatkan." ucap Victoria tegas.
Seketika Aldo terdiam.
Mereka saling pandang dalam jarak jauh dan terhalang kaca mobil Aldo yang gelap. Keadaan basement yang sepi, menambah kesan tegang di antara keduanya.
"Hentikan sekarang juga apa yang sudah kamu rencanakan."
Aldo mendengar Victoria mengancam dari speaker ponsel.
"Chief adalah prioritas utama dan nyawa saya." ia melanjutkan.
Aldo masih tak bergeming.
"Jika apa yang kamu katakan tentang kita adalah benar, maka hentikan, dan tinggalkan Chief tanpa menyakiti beliau."
Mungkin Victoria tak bisa melihat Aldo karena tertutup kaca mobilnya yang berwarna gelap. Tapi, Aldo bisa melihat dengan jelas raut Victoria yang memerah dan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Vic..." Aldo terkekeh setelah tadi cuma diam. "Setelah bertahun-tahun, akhirnya kau mau juga bicara panjang-lebar menggunakan bahasa yang aku pahami." ia menyisir rambutnya ke belakang.
Victoria tak memberi tanggapan.
Aldo tersenyum memandangi wanita berpostur tinggi, dengan baju kulit hitam ketat yang menjadi ciri khasnya. "Ich liebe dich, Vic." ucapnya, lalu mematikan sambungan telpon dan mulai menjalankan mobil jenis SUV warna putihnya.
Setiap orang punya pilihan Vic. Tapi, pilihanku sudah terampas oleh orang itu.
Aldo berkata dalam hati sambil melihat wanita yang ia cintai dari kaca spion tengah.
.
Tinggal Victoria sendiri di dalam basement. Ia tertunduk menatap ponselnya yang telah mati.
"Kau yang jadi bodyguard Chief?"
Ia teringat pertemuan pertamanya dengan pria itu.
"Aku tak yakin, kau bisa melindungi Chief dengan lenganmu yang seperti ranting itu."
Ia mengenag cibiran Aldo yang sempat membuatnya kesal.
"Vic, jadi ibu dari anak-anakku, ya?"
Gombalan receh Aldo yang membuatnya penasaran, dan diam-diam mulai belajar bahasa Indonesia.
"Ayolah Vic... Kau tahu kan, aku tak mengerti bahasamu..?"
raut memelas Aldo yang bisa mencairkan hatinya yang beku.
"Dapat!"
Lalu seru kegirangan pria itu, ketika berhasil mencium bibirnya.
"Vic."
Caranya memanggil, caranya tersenyum.
Victoria makin tertunduk seiring air matanya yang tak mampu ia bendung.
"Nama aslinya Ezekiel Ardiansyah. Seluruh keluarganya meninggal dalam kecelakaan. Dia di besarkan oleh pasangan pembantu dan sopir yang dahulu mengabdi pada keluarganya, serta di akui mereka sebagai anak kandung."
Victoria harus menelan kenyataan pahit itu.