
"Selamat pagi, Chief."
"Pagi, Chief."
"Selamat pagi."
"Pagi..."
Para karyawan yang tengah bertugas menyempatkan berdiri serta menyapa Kiandra yang lewat bersama Aldo dan Victoria yang menguntit di belakang.
Tak seperti biasa, Kiandra hanya mengangkat sebelah tangan tanpa senyum dan segera berlalu.
"Hari ini pun ganteng." Seorang karyawati mendamba.
"Wajah dingin itu cocok sekali dengan pembawaanya yang tegas." Yang lain menimpali.
Keduanya saling pandang, kemudian menghela nafas panjang.
"Kita seperti pungguk merindukan bulan."
"Bulan bersama bintang."
"Bintang-nya Pak Aldo." celetuk suara lain.
Keduanya menengok ke sumber suara. Rekan sesama pungguk ternyata.
"Pokoknya tak ada cela untuk kita memisahkan bulan dan bintang." Ia menambahkan.
Kedua orang yang duduk di depannya itu saling tatap dengan raut masam, kemudian kembali bekerja.
.
Begitu sampai di ruang kerja CEO, Aldo segera menyampaikan laporan tentang pencapaian serta perbaikan yang perlu di lakukan oleh Resort mereka yang berlokasi di kota Tawangmanggu.
Kiandra menyimak setiap berita yang di bawa oleh Personal Assisten-nya dengan cermat.
Beberapa kali ia mencatat hal yang di rasa penting di sebuah kertas, untuk kemudian nanti Kiandra tulis ulang di memo ponsel dan masuk ke dalam list rapat yang tiap senin dia agendakan.
"Bagaimana denganmu, Vic?" tanya Kiandra pada bodyguard nya yang diam di sudut.
"Ya, Chief?" Victoria maju ke depan.
Aldo yang duduk di samping Victoria berdiri masih sempat-sempatnya menarik sudut bibir, membuat wanita berbaju gelap itu menaikkan sebelah alis.
Idiot. Umpat Victoria dalam hati.
"Kau sudah melaksanakan apa yang aku perintahkan?" tanya Kiandra lagi.
"Sesuai yang di informasikan kepala keamanan di sana," Victoria mengawali cerita. "Para perusuh yang sering melakukan penjabretan adalah warga yang tak setuju dengan pembangunan resort. Tapi itu semua sudah terkendali." Victoria menjabarkan dengan sikap siap. "Hanya beberapa tetua yang masih berpikiran primitif saja yang masih bersikeras tak mau menerima."
"Hampir dua tahun kita mengucurkan dana untuk desa mereka." Aldo menimpali. "Di tambah Kakak anda yang mendirikan beberapa sekolah gratis di sana dan ikut membantu swasembada masyarakat." Aldo menegakkan punggung. "Rasanya bodoh, kalau mereka tetap memusuhi warga dari luar desa, hanya karena tradisi kuno." Ia menunjuk-nunjuk keningnya sendiri. "Kenapa semakin tua, orang semakin kolot dan susah di beri tahu?" Aldo kesal. "Apa mereka tidak melihat sisi positif dari pembangunan yang kita lakukan untuk desa mereka yang terpencil itu?"
Victoria memutar bola mata tanpa berniat menjawab. Sedang Kiandra yang kakak-nya di sebut, fokusnya sedikit teralihkan, sehingga tak begitu mendengar apa yang Aldo pertanyakan.
"Intinya di tahun keempat ini, jalan kita untuk memperluas resort dengan menambahkan beberapa private pool dan villa akan semakin mulus." Aldo tersenyum puas setelah bicara panjang lebar.
"..Baguslah."
Tak seperti yang di perkiraan oleh Aldo, Chief nya terlihat tak begitu bergairah dengan berita yang di bawa.
Apa ini ada kaitannya dengan Nyonya Kirana? tebak pria berjas abu tua tersebut. Sebaiknya aku tak menceritakan pertemuan dengan Nyonya Kirana dan suaminya. Aldo memutuskan.
Di perhatikan wajah serius Kiandra yang tengah membaca lembar dokumen.
Jujur saja, terkadang Aldo khawatir berbuat salah, sebab wajah Chief nya sama sekali tak bisa menunjukkan isi hati. Jika tersenyum pun, itu hanya sebatas formalitas dan Aldo paham betul hal itu.
Hidupku di kelilingi orang-orang berwajah es. Ia melirik ke arah Victoria yang bagi Aldo tak ada beda dengan sang Chief.
"Buatkan aku agenda rapat untuk minggu depan." Perintah Kiandra sembari mengeser map cokelat ke arah si asisten. "Kisi-kisinya ada di situ." Ia melanjutkan. "Aku harap besok malam kau sudah mengirimkan mentah-nya lewat email."
"Baik, Chief." Aldo mengambil map tersebut, lalu berdiri hendak kembali ke ruangan.
"Aa.."
"Ada yang perlu saya kerjakan lagi?" tanya Aldo yang bersiap pamit.
Kiandra terlihat ragu. Dia melirik ke arah Victoria, kemudian kembali melihat Aldo.
Kening Aldo sedikit berkerut melihat ekspresi Kiandra yang tak biasa.
Jangan-jangan Chief suka...Aldo ikut melihat ke arah Victoria yang masih saja berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang.
"Vic, keluarlah. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Aldo." Perintah Kiandra lugas.
Victoria yang tak punya kuasa untuk bertanya, atau pun menolak. Akhirnya hanya membungkuk sesaat, lalu keluar dari ruangan.
Ada apa ini? Aldo resah, karena tak pernah sebelumnya Kiandra menyuruh Victoria sampai pergi, hanya untuk bicara dengannya.
"Duduk." Kiandra menyuruh.
Beberapa menit Aldo masih menunggu Kiandra yang tak kunjung bicara.
Ekspresi pria berambut cepak dengan gelang bvlgari yang menyembul di sela kemeja dan jas lengan panjangnya itu gusar, meski Aldo yakin, dia sudah berusah menyembunyikan.
Kenapa perasaanku tak enak begini? batin Aldo tak tenang. Jangan sampai saingan cintaku adalah bos ku sendiri. Ia mengerang dalam hati.
Kalau saja para karyawan tukang gosip itu melihat bagaimana Kiandra dan Aldo duduk berhadapan dengan gelisah seperti ini, pasti lah mereka akan mengambil foto diam-diam dan gunjingan makin membara bak di siram bensin.
"Kau... pernah mendekati wanita?"
Jantung Aldo seakan melompat keluar mendengar pertanyaan yang mustahil di tanyakan Chief-nya yang berniat melajang seumur hidup.
"Kau pernah mendekati wanita?" ulang Kiandra, sebab Aldo terlihat syok. "Atau berpacaran barang kali...?" raut yang biasa kaku itu kini di liputi rasa malu.
Oh..tidak...mana mungkin aku bersaing dengan Chief...Aldo sudah meraung dalam hati oleh asumsinya sendiri.
"Aku serius bertanya!" hardik Kiandra marah.
"I, iya Chief." Aldo berusaha menguasai diri. Dipandangi Kiandra yang menunggu jawaban darinya. "A, apa Chief...sedang menyukai seseorang?" tanpa sadar, dia malah balik bertanya.
BRAAK!! Kiandra mengebrak meja dengan kedua alis hampir menyatu.
"Aku ini bertanya, kenapa malah kau balik memberi pertanyaan?" bentaknya kesal.
"Maaf, Chief." Nyali Aldo seketika ciut.
Wajah Kiandra makin merah padam. Dia sudah menahan malu untuk menanyakan hal sepele seperti ini. Namun Aldo malah ingin mengulik siapa yang di sukai.
Di sukai? Kiandra kaget sendiri.
"Saya...pernah beberapa kali pacaran." Ragu Aldo berkata. Dia merasa terintimidasi oleh tatapan Kiandra yang tajam.
Padahal aku pikir semalam aku dan Vic sudah mulai ada kemajuan... Batin Aldo masih tak rela.
"Lalu?" Kiandra menunggu.
Aldo meneguk ludah dan berusah melonggrakan dasinya yang tiba-tiba terasa mencekik.
"Biasanya saya mendekati dengan memberi benda-benda yang di sukai wanita..."
"Apa itu?" tanya Kiandra tak sabar.
"Eemm...tiap wanita berbeda kesukaan, Chief." Aldo mulai sedikit santai, ketika amarah mulai hilang di wajah Kiandra dan di gantikan ekspresi ingin tahu. "Eemm...mungkin anda bisa memulai dengan memberinya sesuatu yang sederhana." Ia melanjutkan dengan senyum yang di paksa.
"Sederhana?" dahi Kiandra berkerut.
"Coba lah dengan bunga, Chief." Aldo mengusulkan. "Semua wanita suka bunga."
Kiandra memalingkan muka sambil bersedekap, "Aku sudah pernah memberinya bunga." Ucapnya ketus dengan pipi merona
Apaaa...? bahkan Chief sudah pernah memberikan bunga pada Vic...? Hati Aldo makin merana.
"Yang lain." Desak Kiandra. "Apa yang di sukai wanita? Aku ingin dia terkesan padaku."
Aldo menghela nafas panjang putus asa. "Anda hanya duduk seperti ini sudah membuat siapa pun terkesan." ucap Aldo muram. "Tapi, jika anda serius. Mungkin anda bisa memberinya sesuatu untuk menyenangkan hatinya." nada bicara Aldo terdengar tak bersemangat.
"Apa contohnya?" Kiandra yang seumur hidup tak pernah menghadiahi seorang wanita, kecuali Ibunya ingin tahu.
Malas-malas Aldo melihat gelang bvlgari warna emas yang di pakai Kiandra.
"...Perhiasan mungkin." Jawab Aldo asal.
"Ooh.." Kiandra mangut-mangut, tanda bahwa dia mulai paham.
.
Hari telah larut, Nisa di bantu Anna tengah berbenah untuk tutup toko.
Anna sedang mengangkat ember besar berisi bunga dahlia untuk ia bawa masuk, ketika sorot lampu dari mobil yang baru datang membuatnya silau.
Kiandra turun dari mobil, saat Anna baru saja masuk dan meletakkan ember bunga dahlia tersebut di dekat meja kasir bersama ember-ember bunga lain yang biasanya di pajang di luar toko.
Bunyi gemerincing lonceng membuat Nisa yang tengah menyapu, ikut menoleh ke sumber suara.
"Untukmu." Tanpa basa-basi, Kiandra yang baru saja masuk toko langsung menyodorkan paperbag ukuran sedang bertulisan Tiffany and Co.
Anna kaget sampai tak bergerak.
Kiandra mendengus sembari mengusap rambutnya ke belakang, kemudian meraih sebelah tangan Anna yang terbungkus sarung tangan kotor agar menerima pemberiannya.
"I,ini..." Anna hendak protes. Namun Kiandra sudah membuka pintu dan pergi begitu saja.
"Waaah..." Nisa terkagum sampai menutup mulutnya yang membuka.
Sedangkan Anna, dia masih saja terbengong di tengah ruang dengan paperbag warna tosca yang menjadi sedikit kotor karena sarung tangan yang di pakainya.