
Masih sangat jelas di ingatan, karena gara-gara wanita itu, dia di amuk dan hampir di pecat oleh si Chief. Walau setelahnya keadaan kembali menjadi baik, serta ia bisa kembali bekerja seperti biasa. Namun, berita yang di sampikan oleh Rico, betul-betul membuat Aldo takĀ tak bisa memejamkan mata.
"Tiga tahun lebih Tuan putri menghilang. Dan tiba-tiba saja, saya bertemu beliau sedang bersama Chief anda."
ucapan pria dengan senyum liciknya itu terngiang di pikiran.
Aldo yang sudah berganti baju dengan kaos dan celana santai, kini sedang rebahan di tempat tidur. Otaknya sedang mengali dan memutar pertemuannya dengan sosok wanita yang lebih mirip mahasiswa miskin, dari pada seorang berdarah ningrat.
Kedua alisnya berkerut, kala dulu memergoki Kiandra dan Anna yang hampir berciuman di pojok kantor.
"Apa ini yang di sebut keberuntungan...?" Aldo berguman.
Suara kokok ayam yang di pelihara oleh tetangga sudah terdengar, menandakan fajar telah menyingsing. Aldo yang dari semalam belum tidur, bangkit dari ranjang, lalu berjalan pelan menuju meja kerja sederhana yang berada di dalam kamar -nya.
Ia melihat tumpukan kalender meja yang seperti sengaja tidak di ganti dan hanya di timpa kalender tahun yang baru. Kemudian mengambil spidol warna merah dan memberi tanda silang pada tanggal di hari ini.
"Sepuluh tahun, tujuh bulan, lima hari." ia berkata seorang diri sambil menipiskan bibir.
Setelah meletakkan spidol snowman warna merah tadi, ia mengamati sebuah foto keluarga berukuran 5R yang terdiri dari sepasang suami istri, dua kakak perempuan dan seorang anak laki-laki berusia kisaran delapan belas tahun.
Di ambilnya figura berlist cokelat tersebut. "Kangen ibu sama bapak." ia berkata. "Setelah semua selesai, Aldo janji akan segera pulang." ia memandang penuh rasa rindu.
Perlahan mimik muka Aldo berubah sayu. Ia buka segel di belakang figura, yang ternyata terdapat lembar foto lainnya.
Kedua mata Aldo mulai meremang menatap foto lusuh bergambar sebuah keluarga yang berbeda, dengan seorang bayi yang di gendong oleh satu-satunya anak perempuan dari empat bersaudara itu.
Sinar matahari mulai menyorot masuk melalui celah-celah jendela, membuat Aldo yang menangis seorang diri di dalam kamarnya yang sederhana, semakin memberikan kesan sedih dan sepi.
.
.
Wajah Rico bak benang kusut, bahkan setelah kekasihnya datang dan bergabung di meja makan.
"Semalam pulang jam berapa, honey?" tanya Radha yang pagi ini terlihat segar dengan baju berwarna kuning saffton dan rambut sepinggang yang di blow.
"Empat." jawabnya tanpa minat. Lalu meraih cangkir kopi dan menyesapnya perlahan.
"Bagaimana hasilnya? Apa dia mau membantu kita?" tanya-nya ingin tahu.
Rico mengeleng muram.
Raut Radha langsung ikut kecewa. "Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Memang sulit untuk mendekati mereka." ucap wanita itu, seraya mengelus pundak pria berkemeja hitam yang duduk di sebelahnya.
Rico cuma tersenyum sekilas.
"Segala sesuatu tak ada yang instan. Kita mungkin tak bisa langsung jadi rekanan ekslusif perusahaan sebesar Marthadianta-Sanjaya Groub. Tapi, dengan kita terus memberikan yang terbaik, pasti mereka juga akan menilai dengan sendirinya, bahwa produk-produk yang kita jual punya kualitas yang bagus." Radha bermaksud membesarkan hati calon suaminya.
Namun, Rico punya tujuan lain, dari sekedar kontrak ekslusif dengan perusahaan itu. Sesuatu yang Radha sendiri pun tak tahu, dan ia tak berniat untuk memberi tahu.
"Yah, kau benar, honey." Rico pasang wajah maklum, lalu meletakkan cangkir kopi dan meraih belakang kepala Radha untuk mencium keningnya.
Wanita kelahiran Kuala Lumpur itu nampak senang dengan perlakuan manis Rico, serta beranggapan semua baik-baik saja.
"Oya, aku punya berita baik untukmu." ucapnya riang.
"Berita baik?" tanya Rico antusias. Sebenarnya pria itu tak terlalu berminat, karena pikirannya masih terplot pada rencananya yang gagal. Tetapi, berpura-pura sudah menjadi rutinitas seorang Enrico Haziq, agar bisa segera meraih apa yang ia mau.
"Kita dapat undangan dari Uncle Aslan minggu ini....!" Wanita berparas cantik itu girang.
Kedua mata Rico seketika melebar. "Benarkah?" ia tak percaya.
Radha mengangguk-angguk cepat.
"Kau senang, honey?" Radha tertawa sambil menangkup pipi pria itu.
"Tentu saja." Rico menatap wanita di hadapannya itu sambil tersenyum lebar.
Radha ikut bahagia.
Salah satu tujuan Rico mendekati wanita yang kini di peluk dan di kecup bibirnya itu adalah orang bernama Wan Aslan Syariffudin, yaitu ketua parlemen yang di gadang-gadang akan menjadi mentri di periode selanjutnya.
Dia berurusan dengan anggota keluarga kerjaaan Kelantan, maka ia yang tak punya cukup power, harus punya tempat berlindung. Dan di titik inilah, tak sengaja dulu ia bertemu Radha dalam suatu insiden tabrakan mobil.
Seperti kisah-kisah dalam novel online *******, pertemuan yang di awali antipati itu berubah cinta, hingga akhirnya kini mereka sudah bertunangan.
Tentu saja Radha tak tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Sebab dia hanya mengaku seorang imigran blasteran Inggris-Malaysia yang sudah tak punya keluarga.
Semua berjalan begitu sempurna, sampai ia yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke Indonesia, bertemu dengan Anna.
Delana, kalau saja keluarga mu tak menghina asal usul ku, pasti kita sudah bahagia sekarang.
batin Rico, sembari memperdalam ciumannya pada Radha.
.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tapi, matahari masih enggan menunjukkan sinarnya. Langit yang biasanya berwarna biru pun, kini tampak putih, dengan awan yang menutup rata seluruh permukaannya.
Kiandra duduk jongkok, serta bersembunyi di antara kebun bunga mawar putih.
Kedua mata cokelat terangnya nampak awas memperhatikan tiga wanita yang sedang asik bercengkraman di bawah payung besar yang melindungi dari matahari, sembari menanam bibit tumbuhan yang baru saja datang.
"Semalam Kian benar-benar tidak berbuat macam-macam, kan?"
Kiandra mendengar suara kakak perempuannya.
Apa-apan pertanyaannya itu?
kening pria yang pagi ini sudah rapi dengan celana panjang kain dan kemeja warna abu tua berkerut.
"Kalau dia sampai berani berbuat kurang ajar, adukan saja pada kami."
Dia pikir aku bocah apa...?
Dari kejauhan Kiandra melihat Kirana sedang menasehati Anna yang cuma menunduk dan mengangguk.
"Kian anak yang baik, kau tidak perlu takut padanya." si ibu ikut bicara.
"Bu, sudah aku bilang berapa kali. Kian itu sudah dewasa. Kenapa ibu selalu menganggapnya anak-anak?"
Diam kau Kirana! pulang sana sama suamimu ke Temanggung.
batin Kiandra kesal.
Sangking jengkelnya, ia sampai meremas tanaman bunga mawar putih kesayangan ibunya.
"Om ngapain di sini?"
Jantung Kiandra seketika hendak keluar. Ia kaget sampai terduduk di tanah, ketika menoleh ke belakang dan melihat Kama dan Kalila sudah berdiri di situ.
"Om nggak kerja?" tanya Kama lagi.
"Om ngintip?" Kalila ikut bertanya.
Wajah-wajah polos tanpa dosa itu membuat Kiandra syok bagai terpergok mencuri.