
"Kenapa aku jadi penasaran dia ke mana..?" tanya Kiandra seorang diri.
Gelap dan sepi sekitar, karena ia tak menyalakan musik dan cahaya hanya dari lampu di seberang jalan sana.
"Ini benar-benar menganggu." Kiandra mendengus, lalu menyisir rambut ke belakang.
Bayang-bayang Anna selalu menghantui, membuat ia gelisah dan tak enak melakukan segala aktifitas.
"Aku tertarik padanya karena dia itu mirip Kirana. Apa artinya aku harus menemui Kirana untuk menghilangkan semua hal gila ini?" Kiandra yang selalu menggunakan logika mendadak mendapat ide.
"Tidak, tidak." berselang berapa menit dia menolak ide itu sendiri. "Mau apa aku bertemu Kirana?" kedua alisnya hampir menyatu.
Kiandra kembali menghela nafas panjang, lalu mendongkakkan kepala menatap langit-langit mobil.
"Sialan, rasanya tidak enak begini.." ia seperti sedang mengingau.
Untuk beberapa waktu Kiandra masih dalam posisi seperti itu dengan pikiran melayang entah kemana.
Namun, semakin ia menatap langit-langit mobil yang gelap, semakin kegelapan itu membentuk seraut wajah.
Rambut panjangnya yang selalu terlihat awut-awutan meski di kuncir atau di gelung, kemudian sepasang mata yang selalu memandang cemas, bibir pucatnya yang kadang kala terlihat di gigit bagian bawahnya ketika gugup.
Kiandra menipiskan bibir membayangkan Anna yang nampak nyata dalam khayalannya.
"Awas saja kalau ketemu." ia mengancam tanpa emosi.
Menyingkirkan gengsi dan demi ketenangan batin, Kiandra mengambil ponsel dari saku celana, kemudian mengeser-geser layarnya beberapa kali.
Bunyi sambungan telpon terdengar jelas di dalam mobil yang sunyi. Tetapi, beberapa menit Kiandra menunggu dan hingga ponsel mati sendiri, nomor yang di tuju tak juga menjawab.
"Aneh sekali..." kening Kiandra berkerut menatap layar ponselnya yang memuat foto Aldo sedang memancing. "Biasanya tidak sampai satu menit dia langsung mengangkat panggilanku."
Kiandra mengulangi panggilan. Tapi, tetap tak ada respon dari nomor yang di tuju.
Tak mau membuang waktu, Kiandra memilih menulisakan perintah-perintahnya dalam bentuk pesan dan mengirim lewat whatsapp dan email sekaligus.
"Sebaiknya dia cepat merespon, atau aku tahan bonusnya sampai akhir bulan." Kiandra memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celana, lalu mulai menjalankan mobil.
.
Kembali ke Aldo, yang rupanya sedang panik, sampai tak merasakan getaran pada ponsel yang ia taruh di saku celana.
"Lebih baik tendangĀ aku seperti tadi, dari pada kau..." ucapan Aldo tercekat di tenggorokan.
Berkali-kali ia mengaruk rambutnya yang tak gatal, sampai rambutnya yang biasa rapi, kini terlihat seolah baru bangun tidur.
Victoria tak menanggapi. Ia masih duduk di lantai dengan ekspresi marah. Tapi, matanya nampak berkaca-kaca.
"Yaa ampuuuunnn...." ratap Aldo sembari mengusap muka dengan kedua tangan.
Victoria berdiri, kemudian berjalan tegap melewati Aldo yang masih bersimpuh di lantai.
"Oi, Vic!" panggil Aldo seraya mengikuti langkah Victoria.
Namun, wanita yang memiliki tinggi setara dengan Aldo itu tak mengubris dan keluar ruangan.
"Vic, tunggu dulu!" Aldo berseru, sambil tergesa mencari card yang menjadi pengganti kunci. Tapi, karena ia lupa menaruh di kantong mana, jadilah semua kantong dia raba.
Sampai akhirnya Aldo menemukan card
yang di maksud, lalu mengunci kamar apartemen yang menjadi tempat tinggal Chief-nya dengan nenekan beberapa tombol dan menempelkan card tersebut sampai berbunyi klik. Tetapi, ketika ia selesai, Victoria sudah tak terlihat di lorong tersebut.
"Aku pikir orang bule lebih bebas. Tapi, kenapa yang ini baru di cium pipi sudah nangis?" Aldo tak mengerti.
Mengira tak perlu khawatir, karena tujuan Victoria dan dirinya sama, Aldo berjalan santai. Tapi, ketika ia sampai di parkiran, mobil Hyundai warna opal itu sudah melaju melewatinya.
Victoria tahu Aldo mengejarnya dari kaca spion tengah. Tetapi, ia masih ingin membalas rasa malu-nya karena di cium tiba-tiba dan tanpa ijin.
Nafas Aldo sudah ngos- ngosan. Sembari terus berlari, ia melonggarkan dasi dan membuka satu kancing bagian atas.
Aldo memang payah soal olah raga, padahal mobil berjalan lamban dan ia baru berlari dari basement sampai halaman apartemen. Tapi, nafasnya seakan mau putus.
Aku harus mulai meluangkan waktu untuk berolah raga.
batih Aldo, seraya mengusap keringat di kening.
Meski ini malam hari dan udara cenderung dingin. Tetap saja Aldo yang berjas lengkap kegerahan.
Memasuki jalan besar, akhirnya Aldo menyerah dan menjatuhkan diri begitu saja di pinggir trotoar.
Ia menyeka keringat yang membasahi kening, lalu membuka jas hitamnya dan mulai mengatur nafas.
"Baru dapat manis sedikit, tapi pahitnya kebangetan." keluh Aldo sembari memandangi lalu lintas kota.
Kemeja bagian punggung-nya benar- benar basah. Tapi, saat angin malam yang sejuk bertiup, memunculkan sensasi dingin dan otomatis sedikit menghilangkan gerah.
"Lebih baik aku pulang dengan transportasi online." merasa putus asa, akhirnya Aldo memutusakn alternativ lain.
Namun, baru saja ia merogoh saku celana untuk mengambil ponsel, mobil Hyundai itu telah putar arah dan kini berhenti tepat di depannya.
Walau kaget, Aldo bergegas membuka pintu mobil dan naik,
"Danke, Vic." Aldo cengegesan, meski baru saja di bully.
Victoria diam saja dengan ekspresi dingin-nya yang biasa, kemudian mulai memutar setir, sembari menginjak pedal gas.
Aldo garuk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. Ada rasa sungkan. Tapi, karena lebih banyak enaknya, maka dia menerima pembullyan ini dengan senang hati.
"Sebagai permintaan maaf, besok makan siang denganku ya?" Aldo tersenyum dengan keringat yang masih menetes di dahi.
Victoria tak bergeming, dan terus fokus mengendalikan mobil yang mereka naiki membelah jalan raya.
.
Malam makin larut, menyisakan hening dan pendar cahaya menghiasi kota.
Di rumah mewahnya yang berada di kawasan elite, Rico belum juga memejamkan mata.
Pria itu duduk di sudut kamar, di tempat yang biasa ia gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kantor.
Ia tertunduk menatap paspor warna merah dan beberapa lembar kartu identitas dengan nama Tengku Delana Amirah Petra yang berjajar di atas meja.
Semua itu ia dapat dari tas ransel milik Anna yang tertinggal pasca kejadian beberapa hari lalu.
Tangan kanannya bergerak mengambil salah satu kartu dengan foto Anna yang sedang tersenyum simpul.
"Delana..." ia berguman.
Ia yang saat itu kebetulan melintas, tak sengaja melihat Anna duduk di bangku taman kota.
Sontak ia memarkirkan mobil, kemudian segera berlari untuk memastikan. Dan benar saja, itu memang Delana-nya.
Hal itu juga menegaskan, bahwa wanita yang di temuinya bersama Kiandra di restoran jepang adalah orang yang sama, yaitu mantan kekasihnya itu.
Awalnya ia hanya ingin mengancam wanita itu agar menjauh dari hidupnya yang sudah tertata. Jujur ia takut kedoknya terbongkar.
Tetapi, ia tak bisa meredam api cemburu yang berkobar, karena teringat ucapan Kiandra yang menyebut Anna sebagai pendamping.
"Seharusnya memang kau mati saja, dari pada aku harus melihatmu dengannya." Rico menatap foto Anna lekat-lekat.