
"Per.. permata itu hanya ada satu..." di tengah tangisnya Anna berkata.
Kening Kiandra berkerut.
"Itu benda berharga yang hanya ada satu di dunia." ia melanjutkan sembari mengusap air mata di pipi. "Sedangkan perusahaan-nya, saya tidak tahu bagaimana keadaanya sekarang. Saya... sudah hampir tiga tahun tidak tahu kabar keluarga..." ia merunduk pedih.
Kiandra yang tadinya kesal dengan Anna yang cengeng, kini malah jatuh iba.
Ia berdehem beberapa kali untuk menghilangkan suasana tak enak. "Sekarang kau ingin bagaimana?" tanyanya.
Raut wajah Anna makin sedih, kemudian menggeleng lemah.
Kiandra menghela nafas panjang.
Ini lebih membingungkan dari gosip adanya resesi tahun depan.
batinya sambil mengusap rambut ke belakang.
Ia mengalihkan pandangan ke danau yang kini sudah terdapat beberapa angsa yang berenang.
Suasana yang tadinya masih sepi, kini perlahan mulai bising oleh bunyi kendaraan dari luar tembok pembatas.
Pandangan Kiandra sayu menatap lurus ke depan. Pria tiga puluh lima tahun itu masih menimbang, harus bertindak bagaimana untuk memecah masalah wanita yang kebetulan nyangkut di hatinya itu.
"Tuan Muda... Eh, Kian." panggil Anna pelan.
Kiandra menoleh ke arahnya. Tapi, wanita itu malah terlihat ragu.
"Ada apa?" ia bertanya.
Anna menggigit bibir bawah, membuat Kiandra berdecak, dan dia langsung menghentikan kebiasaan jeleknya itu.
"Ta, tadi... Eemmm... Tadi Anda bilang, ingin melamar saya?" tanyanya hati-hati.
"Iya." Jawab Kiandra tegas. "Kenapa?" ia balik bertanya.
Kedua pipi Anna seketika memerah. "Anda bilang... tak mau menikah?" takut-takut ia mengingatkan.
"Kau tak mau menikah denganku?" tuduh Kiandra.
"Bu, bukan seperti itu!" Anna mengeleng-gelengkan kepala.
"Lalu kenapa kau menanyakan hal yang membuatku merasa konyol?" ia melipat kedua tangan ke dada.
"Eeh...?" kedua mata Anna melebar.
"Ternyata tingkat kepekaanmu lebih payah dariku, ya?" selorohnya sebal.
Anna tertunduk gusar.
"Memang harus berapa kali aku bilang menyukaimu?" Kiandra bertanya.
Anna merapatkan cardingan rajutnya, alih-alih menghalau dingin, tapi sebenarnya gugup.
Bagaimana ini...?
batinnya bingung.
Tidak mungkin ia jujur sepenuhnya. Tetapi, melihat keseriusan Kiandra, membuat ia tak tenang.
Aku pikir dia main-main.
pikirnya kalut.
"Kau ini... ternyata berbeda sekali dengan Kirana." ucap Kiandra tiba-tiba.
Anna mengangkat muka untuk melihatnya.
"Padahal dulu aku bisa tertarik padamu karena sekilas kau mirip dengannya." pria ia menoleh ke arahnya.
Anna tak mengerti.
"Sebelum menikah, Kirana suka sekali memakai piyama motif kartun keroppi." ia memberi tahu.
Seketika Anna terhenyak sembari menutup mulut. Ia teringat pertemuan pertama mereka ketika di club James Bond. Saat itu, ia yang nyaris depresi tanpa sadar telah melangkah ke dalam tempat hiburan malam. Dan yang ia kenakan adalah piyama pemberian Nisa, yang kebetulan bermotif kartun keroppi.
"Kirana yang separuh hidupnya di isi kesedihan saja kuat. Tapi, kenapa kau gampang sekali putus asa? Pakai acara mau mati lagi." Kiandra pura-pura meremehkan.
Anna terkejut mendengarnya.
Kesedihan? Nona Kirana? Bukannya beliau sangat bahagia dengan Tuan Dave? Apa lagi kedua anak kembarnya yang cerdas, serta penuh semangat itu.
ia tak percaya.
"Aku ingin kau bisa lebih tegar." Kiandra berkata.
Anna memandang pria yang duduk di sampingnya itu.
"Setiap masalah pasti ada jalan keluar." ia menambahkan. "Kalau tadi kau bilang, permata itu hanya satu, dan kau tidak tahu bagaimana kabar terkini perusahaan dan keluargamu. Maka satu-satunya jalan kalian harus bertemu."
"Apa...?" Anna tercenung.
"Aku akan membawamu pulang ke Kelantan untuk bertemu keluargamu." ucap Kiandra
Seketika Anna tersentak. "Tidak!" tolaknya.
"Saya tidak bisa! Saya tidak mau!" ia menolak. "Lebih baik saya menjadi gelandangan di negeri orang, dari pada pulang tanpa membawa permata itu!" kedua matanya kembali memerah.
Kiandra tertegun melihat reaksi Anna yang begitu emosional.
"Saya sudah merusak nama baik keluarga Kerajaan Kelantan. Untuk pulang pun, saya sudah tidak punya muka. Tapi, seandainya saya bisa mengambalikan permata itu, minimal orang tua saja tidak akan lagi menanggung malu kepada leluhur dan juga kerabat yang lain." ia menerangkan.
Sepertinya masalah ini lebih serius dari yang aku kira.
Kiandra berkata dalam hati.
Ia pikir, itu hanya permata biasa yang dapat di ganti. Bahkan ia sempat berpikir membuat replikanya dengan menyewa jasa desainer perhiasan. Tetapi, sepertinya yang menyulitkan adalah nilai sejarah dari permata itu, yang membuatnya tak ternilai dan mustahil di gantikan.
"Lalu... tentang melamar saya..." Anna menatap Kiandra dalam-dalam. "Lebih baik Anda pikirkan lagi, karena saya bukan wanita yang seperti Anda duga." air matanya hampir menetes, kalau saja ia tak langsung memalingkan muka dan menghapusnya.
"Lalu kau ini wanita seperti apa?" tandas Kiandra sembari meraih pundak Anna, agar wanita itu menghadap ke arahnya.
Muka Anna sudah sembab dengan bibir terkunci.
"Seperti apa?" ia mengulang tegas.
Anna tetap tak menjawab.
"Kau tahu, keluargaku sampai tak mempermasalahkan siapa dirimu, karena mereka menganggapmu layak untukku, untuk keluarga Marthadinata." Kiandra menekankan.
Itu karena mereka tidak tahu sekotor apa aku...
Air mata Anna kembali berjatuhan.
"Anna..." Kiandra paling tak tega melihat wanita menangis, terutama jika itu orang terdekatnya.
Ia menoleh ke arah danau. Di situ matahari telah menampakkan keagungannya, membuat air danau yang tenang berwarna keemasan, serta background pohon cemara yang hijau menjulang dan langit biru di baliknya, merupakan lukisan alam yang sangat indah yang ingin Kiandra perlihatkan.
"Aku memilih tempat ini supaya seperti di film-film romantis. Tapi, sepertinya aku gagal romantis." Kiandra menyandarkan diri pada tiang gazebo.
Anna menyeka air mata-nya, dan ingin menjelaskan lebih lanjut, supaya pria itu tak salah paham.
Namun, ia malah terpesona dalam sekali pandang. Dari pada pemandangan indah danau di pagi hari, justru Kiandra lah yang lebih tepat di sebut lukisan indah. Dengan hanya kaos warna putih, serta sedikit bias sinar matahari, wajahnya bisa terlihat begitu tampan. Terutama mata cokelatnya, yang semakin terlihat indah dengan tempaan sinar mentari.
Jantung Anna berdesir, menimbulkan sensasi kepakan sayap kupu-kupu di rongga dada, yang semakin lama semakin membuat mual.
Apa laki-laki setampan ini betul-betul jatuh cinta padaku?
bagai terhipnotis, ia bertanya dalam hati.
"Oya, dimana kau menghilangkan permata itu?" Tiba-tiba Kiandra melihat ke arahnya.
Anna langsung tersadar dari lamunan.
"Aku tetap ingin mengajakmu pulang. Jadi sebisa mungkin, aku akan membantumu mencari permata itu." Kiandra memutuskan, setelah tadi berpikir sejenak.
Anna meneguk ludah.
"Kenapa lagi?" tanya Kiandra malas-malas. "Apa jangan-jangan kau lupa dimana menghilangkannya?" ia menebak.
Anna gelisah.
Dia betul-betul mengemaskan.
batin Kiandra tak sabar.
"... Batu permata itu tidak hilang..." ucap Anna pelan.
Kedua alis Kiandra hampir menyatu.
"Sebenarnya... permata itu di bawa lari mantan kekasih saya..." ia tertunduk.
Mulut pria itu seketika mengangga.
"Dia penasaran seperti apa bentuknya, dan dengan bodohnya, saya mencuri permata itu dari kamar Mama dan memperlihatkan padanya. Tapi kemudian..." Anna tak sanggup melanjutkan.
Pikiran Kiandra mendadak kalut.
Mantan kekasih? Mantan pacar? Jadi dia sudah pernah pacaran?
ia kaget sendiri.
"Perusahaan keluarga saya juga..." terbata Anna bercerita. Biasanya ia tak mau membahas masalah vital ini. Tetapi, ia betul-betul tak sanggup lagi menyimpan sendiri. "Saya mencintai dan mempercayainya sepenuh hati. Saya tidak peduli dia hanya rakyat biasa. Bahkan saya berniat kawin lari dengannya, karena keluarga saya tidak setuju. Tapi... memang saya yang naif. Saya bodoh, karena terbuai rayuan dan cinta palsunya. Sampai-sampai... sertifikat perusahaan pun... saya perlihatkan kepadanya, hingga semua hilang tak bersisa..." Anna menangis.
Awalnya Kiandra syok, saat mengetahui Anna mempunyai mantan kekasih. Ia cemburu dan ingin marah, karena ego-nya yang tinggi tak menerima kekalahan.
Namun, kini ia justru bisa merasakan beban yang Anna tanggung.
Apa itu alasannya sulit menerima kehadiran laki-laki lain? Trauma?
batin Kiandra dengan kening berkerut dalam.
Anna menyeka air matanya berkali-kali. "Maaf... Saya cuma bisa menangis dan membuat Anda marah." ia berucap. "Tapi... saya betul-betul tidak pantas untuk Anda..." ia menggigit bibir bawah.
"Siapa laki-laki itu?" sela Kiandra lugas.
Anna mengangkat mukanya yang sembab, dan memandang pria di sampingnya itu.
"Beritahu aku, siapa dan di mana sekarang laki-laki sialan itu?" Kiandra kembali bertanya dengan ekspresi serius.