
Meski ini acara private dan hanya mengundang kerabat dekat. Tapi, sejak pagi halaman Istana Kubang Kerian telah di padati masyarakat sampai ke jalan-jalan. Pintu gerbang sampai di jaga begitu ketat, untuk mengantisipasi hal-hal yang tak di inginkan, dan hanya membolehkan mobil-mobil para undangan yang masuk.
Kabar bahagia ini sangat tidak terduga. Apa lagi putri satu-satunya Sultan Kelantan itu telah lama menghilang dengan jejak scandal. Hal itu juga yang membuat orang-orang berspekulasi tidak baik tentang acara yang mendadak ini.
Namun, ketika para tamu masuk dan melihat sepasang pengantin dengan balutan baju tradisional Kelantan, seketika itu juga mereka di buat kagum oleh kecantikan dan ketampanan keduanya.
Yang Amat Mulia Tengku Maharani Putri Tengku Delana Amirah Petra, terlihat menawan dengan kerudung yang menutup rambut dan di atasnya tersemat tiara atau Gendek yang terbuat dari platinum bertabur berlian dengan lambang Negara Kelantan di tengahnya.
"Tuanku Sultan sampai mengijinkan gendek mendiang Ibunda Sultanah Zaenab di pakai." seorang tamu terperangah tak percaya.
Mereka jadi membanding-bandingkan dengan pernikahan kedua Kakak lelaki Anna yang pasangannya tidak memakai tiara, padahal juga berasal dari keluarga bangsawan.
"Tentu saja tak boleh. Bagaimanapun mereka orang luar, sedangkan ini Tuanku Putri Delana yang keturunan langsung Tuanku Sultan." tamu lainnya membela.
"Tuanku Putri banyak sangat scandal. Seharusnya Tuanku Sultan juga pilih-pilih untuk memakaikan benda pusaka macam tu." yang lain tak mau kalah.
"Kalian terlalu berisik, sampai tak lihat mempelai prianya yang luar biasa handsome." seorang tamu lain menengahi.
Dua wanita Melayu yang tengah berdebat itu langsung melihat ke arah Kiandra yang duduk di samping mempelai wanita.
"Aiiih.. tampannya..." tanpa sadar wanita muda itu memuji.
"Bangsawan dari mana Tuanku Kiandra Mahika tu?" yang lain ingin tahu.
"Tak. Beliau orang biasa. Tapi, menurut kabar beliau kaya sangat."
"Kaya and handsome."
"Beruntungnya Tuanku Putri."
Mereka bertiga kembali memperhatikan pasangan yang tengah duduk di semacam mimbar dengan dekorasinya yang serba berwarna emas.
Kiandra memang luar biasa tampan dengan baju kurung melayu pria berleher tinggi dan hiasan kepala atau Setanjak dari kain yang di lipat sedemikian rupa dan di sempat hiasan dari emas berornamen lambang Kelantan.
Ada hal menarik, tentang kenapa hanya Anna yang memakai tiara sedangkan Kiandra yang suaminya tidak. Bukan karena Kiandra orang biasa tanpa embel bangsawan. Akan tetapi, karena memang Raja-Raja Melayu tidak memakai mahkota.
Hal itu berdasarkan cerita sejarah Sultan Perak pertama, yaitu Sultan Muzzafar Shah I yang di asingkan oleh bangsa Portugis ke Johor.
Dalam perjalannya, kapal Sang Sultan terjebak di sebuah perairan dan satu-satunya cara agar kapal bisa melaju lagi adalah dengan mengurangi muatan.
Satu persatu benda-benda berharga milik Kesultanan Malaka yang berada di atas kapal di buang ke laut. Tetapi, kapal masih juga enggan berlayar.
Hingga satu-satunya barang yang tersisa hanya mahkota yang masih bertengger di kepala Sang Sultan. Dengan rela Sang Sultan melepas dan mempersembahkan mahkotanya kepada laut. Dan ajaib, kapal kembali bisa berlayar sendiri sampai Perak.
Sultan Muzzafar Shah I menganggap hal itu sebagai tanda, lalu bersumpah ia dan keturunanya tidak akan memakai mahkota dan menganti dengan hiasan kepala berupa kain yang di lipat atau di sebut Tenggolok Diraja. Praktik ini kemudian di ikuti oleh Penguasa Melayu lain hingga sekarang.
.
Diam-diam tangan Anna menyentuh lengan Kiandra, membuat pria dengan keris yang terselip di perut itu menoleh ke arahnya.
"Senyum." lirih istrinya memerintah.
Kedua mata Kiandra membulat. Tapi, kemudian ia mencoba meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Wanita dengan gendek yang nampak berkilauan terkena cahaya lampu itu geli.
Namun, Kiandra malah terlihat linglung seolah baru bangun tidur. Di tengah semarak pesta pernikahannya sendiri, ia memang masih tak percaya jika sudah berganti status.
Bahkan kalimat ijab yang rasanya sulit di ucapkan. Tadi bisa ia katakan dengan begitu lancar dan tanpa pengulangan.
Saat kedua orang tuanya menangis sembari memeluk dan mengucapkan selamat pun, rasanya masih terasa aneh.
Dia memandang para tamu yang dudukĀ memenuhi meja-meja dengan lapisan kain putih dan emas. Juga dekorasi warna senada yang membuat aula besar istana berubah menakjubakan.
Ia merunduk melihat jari manis kanannya yang kini tersemat cincin polos berwana putih keluaran Jacob&Co yang di pilih oleh keluarga Anna.
"Selamat untuk Yang Amat Mulia Pengiran Kiandra Mahika."
Ia terkejut, ketika tiba-tiba di depannya sudah berdiri seorang pria dengan baju kurung warna hitam dengan emblem Negara Malaysia di dada kanan.
Kiandra segera menyambut uluran tangan dari salah satu mentri dari Negeri Jiran tersebut.
Yang Amat Mulia Pengiran Kiandra.
batinnya mengulang ucapan Sang Tamu Agung.
Rasanya masih lucu. Tapi, aku yakin akan segera terbiasa.
dalam hati ia menghibur diri untuk menenangkan grogi.
Kiandra menekan perutnya yang terasa mulas karena terlalu tegang.
Tenang, tenang, tenang...
batinnya sembari tersenyum ketika datang lagi tamu yang hendak mengucapkan selamat.
.
Kedua orang tua dan kedua kakak Kiandra yang duduk di bangku kehormatan turut senang dengan lancarnya acara.
"Seharusnya tidak apa-apa kan, kalau sekedar di umumkan?" Kirana berkata sambil melihat ke arah para tamu yang rata-rata memakai baju kurung khas Melayu, sedangkan ia dan keluarga memakai baju tradisional Jawa.
"Kau kecewa?" Dave tersenyum.
Kirana menoleh. "Tentu saja tidak." ujarnya cepat. "Hanya saja...rasanya sayang kalau Om Rendy tidak di akui sebagai Tengku Ibrahim yang hilang." ia melanjutkan.
Dave mengulurkan tangan dan mengenggam tangan istrinya yang berada di pangkuan. "Aku juga menyesalkan hal itu." ia berkata. "Tapi, jika Sultan mengumumkan hal itu, maka akan jadi rancu untuk pernikahan Kian dan Delana. Dan mungkin saja, orang-orang malah akan mengulik masa lalu keluarga kita dan tentu saja imbasnya juga bisa ke kita sendiri."
Kirana terkejut, jujur ia tak berpikir sampai sana.
"Lagipula Papa dan Mom sudah tenang. Rumah tangga kita pun, walau di awal sulit. Tapi, sekarang sudah jauh lebih baik. Aku juga tidak tertarik dengan takhta Negara yang bahkan aku baru menginjakkan kaki satu kali ini. Jadi aku pikir, begini adalah yang terbaik." Dave menatapnya.
Meski Kirana kurang puas dengan penjabaran si suami. Tetapi, ia tak membantah.
"Lihat." Dave menunjuk ke arah belakang si istri.
Kirana yang murung melihat ke arah yang di tunjuk. Di lihatnya kedua orang tuanya yang serasi dengan beskap dan kebaya Jawa sedang memandang ke arah pelaminan dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Itu yang penting, kan?" Dave berbisik.
Kirana menoleh ke arah si suami.
"Yang penting semua bahagia." lanjut pria lima puluh tahun dengan blangkon di kepala itu.
Awalnya Kirana tak mengerti, kemudian ia menipiskan bibirnya yang di poles lipstik warna merah dan mengangguk lega.
.
"Pernikahan di Kelantan tidak ada bedanya dengan di Indonesia, ya?" Ibu Kiandra mengusap hidungnya yang memerah dengan mata yang masih berair.
Ayah Kiandra tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung tangan si istri yang melingkar di lengannya.
"Kau senang?" tanyanya.
Istrinya mengusap lagi ujung matanya yang basah. "Apa aku terlihat sedang sedih?" ia balik bertanya.
"Kau terus meneteskan air mata." Suaminya berujar.
"Aku terlalu bahagia..." ia kembali terisak dan menutupi wajahnya dengan sapu tangan.
Pria delapan puluh tahun lebih itu ikut terharu. "Kau ini kebiasaan, setiap kali keinginanmu terkabul, kau selalu menangis." ia pura-pura kesal.
"Kau yang selalu membuatku menangis." Ibu Kiandra menatap suaminya dengan make up yang sedikit berantakan karena air mata.
"Ah, iya... aku..."
"Karena apapun keinginanku pasti kau kabulkan." potongnya cepat.
Ayah Kiandra tertegun. Seumur hidup ia selalu merasa bersalah, sebab mendapatkan istrinya dengan cara yang salah. Ia juga tadi sempat berpikir negatif. Akan tetapi, saat mereka saling pandang, di situ benar-benar hanya ada ketulusan.
Royal Wedding siang itu berjalan kidmat dengan iringan alat musik serunai yang di tiup dengan begitu indah. Tak ada jurnalis ataupun kebisingan yang bisa menganggu para tamu Agung.
Ayah Kiandra awalnya menganggap acara ini sederhana untuk sekelas Sultan, karena jika membandingkan dengan Royal Wedding Inggris Raya, rasanya sangat timpang. Bahkan ia sempat berpikir, bahwa mungkin saja Sang Sultan sebenarnya tidak sekaya itu.
Tapi, ketika ia mengetahui Sultan Ismail Petra diam-diam menyumbang lima ratus juta ringgit Malaysia ke berbagai lembaga kemanusiaan sebagai ungkapan syukur, ia malu sendiri dengan pemikiranya.
Kadang kedermawanan memang tidak di lihat dari apa yang di tampilkan. Dan Ayah Kiandra yang sudah setua itupun, kembali mendapat pelajaran hidup.
.
Namun, memang dasar Andreas Reynald Marthadinata yang tak mau kalah, ia segera menelpon pengacara dan menyuruh menyumbang satu miliar rupiah untuk biaya pendidikan dan kesehatan ke berbagai Desa terpencil di Pulau Jawa.
Pemerintah saja tidak mungkin seperti aku.
batinnya bangga.
Selain soal sumbangan, pria dengan seluruh rambutnya yang telah memutih itu juga menelpon beberapa WO di Jakarta untuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan Kiandra-Anna, yang rencananya akan di laksanakan satu bulan lagi.