
Tanpa basa-basi, Rico langsung meraih pergelangan tangan Anna. Tapi, untung saja dengan sigap Kiandra menepisnya.
"Lancang!" bentaknya, membuat sekitar menoleh ke arah mereka.
Rico tak gentar. Ia justru menatap penuh bara permusuhan kepada wanita yang berdiri di belakang pundak pria itu.
Wajah Anna memucat dan jantungnya seketika berdetak sangat kencang. Ia tak menyangka akan bertemu mantan kekasihnya.
Ya Tuhan, kenapa ada Rico di sini?
batinnya ketakutan, hingga tanpa sadar bersembunyi dan berpegangan erat pada lengan Kiandra.
Tangan Anna yang gemetar, menjelaskan semua pada Kiandra, bahwa benar pria Malaysia itu adalah Suma Enrico Haziq yang di maksud.
"Apa ini alasan Anda membatalkan secara sepihak kontrak kerjasama kita, Chief?" pria itu bertanya lugas.
Kiandra tak menjawab dan cuma menatap angkuh.
Kontrak kerjasama?
mata Anna bergerak-gerak gelisah.
Apa artinya Rico bekerja di sini? bersama dia?
ia menengadah ke arah Kiandra.
Dan aku dengan bodohnya memberi tahu kan nama Rico?
pikiran Anna mulai kalut.
"Pak Rico!" Aldo menengahi. "Anda sudah tidak sopan kepada Pemimpin kami. Ingat Anda sedang ada di mana." ia memperingakan.
"Apa membatalkan kontrak secara sepihak dan tanpa mediasi apapun itu sopan, Pak Aldo?" Rico bertanya balik.
"Kita bisa membicarakan hal ini di ruang kerja saya." Aldo mencoba tetap tenang di situasi yang memanas dan sekitar yang penasaran.
"Tidak perlu." tolaknya datar. "Yang saya butuhkan hanya berbicara dengan Chief Kiandra." ia kembali melihat ke arah pria berjas gelap dengan kemeja warna burgundy tersebut.
Anna seketika menahan nafas, saat tak sengaja matanya bertatapan dengan Rico.
Pria berwajah eurasia itu mengulas senyum, membuat trauma mendalam Anna tak terelakan. Dari senyum itu pula ia tahu, bahwa detik-detik masa lalunya yang kelam akan terbongkar.
Kiandra....
batinnya merana, lalu perlahan melepas pegangan tangannya.
"Anda sedang kasmaran rupanya." Rico tertawa hambar. "Sampai-sampai tak mempedulikan kerugian Perusahaan?" lanjutnya dengan ekspresi kaku.
Kening Kiandra berkerut dalam. Mungkin jika mereka tidak sedang berada di gedung utama Marthadinata-Sanjaya Groub, dan para bawahannya tidak sedang memperhatikan seperti saat ini, niscaya sedari tadi ia sudah melayangkan pukulan ke wajah pria kurang ajar itu.
"Saya tidak pernah rugi untuk membuang benalu, Pak Rico." ucapnya tegas.
"Benalu...?" guman Rico sembari melebarkan kedua mata.
Aldo yang berada di antara mereka, diam-diam memperhatikan setiap gerak-gerik Anna yang terlihat sangat tertekan.
"Anda menyebut perusahaan saya sebagai benalu?" tanya Rico emosi. "Lalu bagimana dengan wanita yang berada di samping An.."
Seketika Kiandra meraih kerah baju Rico, sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.
"Chief!" Aldo segera menahan Kiandra untuk tak bertindak lebih jauh.
Anna menutup mulut dengan ekspresi ketakutan.
Orang-orang yang kebetulan berada di lobbi itu pun tak kalah kagetnya.
Namun, Kiandra tetap tak mau melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju pria itu.
"Hati-hati kalau bicara." ia memperingati.
Rico menahan pergelangan tangan Kiandra agar tak mencekik lehernya seraya balas menatap
"Chief, di sini banyak orang." Aldo mencoba menasehati.
"Saya tidak hanya bisa memutus secara sepihak kontrak kerjasama kita." suara Kiandra terdengar dalam. "Tapi, saya juga bisa membuat Anda tidak bisa mencari makan di Negara ini." ia mengancam, lalu melepas cengkraman tangannya.
Rico segera menjauh sambil memperbaiki dasinya yang berantakan. Percayalah, dia sama sekali tak takut dengan gertakan anak orang terkaya nomor tiga di Indonesia itu. Bahkan jika mereka berkelahi, ia yakin masih bisa menang. Tetapi, ia tidak bisa bertindak sejauh itu. Apa lagi alasannya, kalau tidak soal uang dan kekuasaan. Dua hal yang Rico damba, sekaligus dua hal yang merubahnya menjadi sosok Iblis seperti sekarang.
Melihat reaksi Rico yang hanya diam, Kiandra acuh dan berbalik untuk melihat keadaan Anna. Wanita itu terlihat sangat syok, membuat emosinya langsung surut.
"Ayo, pulang." ajaknya setelah dekat.
Anna tak menjawab dan cuma tertunduk.
Kindra maklum, kemudian merangkul dan membawanya pergi melewati Aldo, lalu juga Rico.
Victoria datang saat kegaduhan telah selesai. Tak sengaja ia saling pandang dengan Aldo. Ia bingung dengan suasana yang canggung, tapi tak bertanya dan memilih mengikuti Kiandra yang sudah sampai di tengah ruang.
"Mari Pak Rico, kita bicarakan masalah ini di ruangan saya." Aldo bertindak profesional sebagai Personal Asisten.
Tapi Rico tak bergeming.
Keadaan yang tadi sempat tegang, perlahan mencair dan orang-orang di lobbi mulai kembali ke aktifitas masing-masing.
Namun, tanpa di sangka Rico menepis uluran tangan Aldo sembari berbalik ke arah Kiandra dan Anna yang hampir mencapai pintu keluar.
"Wanita yang bersama dengan Anda itu sudah berkali-kali tidur dengan saya!" ucapnya keras-keras.
Langkah Kiandra seketika terhenti, bersamaan dengan keterkejutan semua orang yang berada di situ.
"Anda boleh bertindak sewena-wena dengan membuang Perusahaan saya!" Rico kembali berteriak di tengah ruang. "Tapi ingat, Anda sudah memungut wanita yang saya buang!"
Muka Kiandra merah padam dengan kedua mata cokelat terangnya yang membulat sempurna.
"Kiandra Marthadinata yang terhormat cuma mendapat 'sisa makanan' dari pengusaha rendahan seperti saya!" Rico menarik sudut bibir.
"Bajingan!" umpat Kiandra sambil berbalik arah.
Tapi ternyata Victoria telah lebih dulu bertindak, dengan secepat kilat berlari ke arah Rico dan memukulnya sampai pingsan.
Namun, tentu saja pingsanya Rico tidak menyelesaikan semua. Malah menjadi awal masalah yang sebenarnya.
Terlalu banyak karyawan yang melihat dan mendengar. Meski Aldo sendiri yang menyuruh mereka bungkam. Tetapi, siapa yang bisa menghentikan enaknya bergosip?
Sepanjang perjalanan pulang, Anna maupun Kiandra tak bicara. Hingga sampai rumahpun, Anna tak mengucapkan apa-apa dan segera masuk kamar. Sedangkan Kiandra memilih langsung pergi, meski Ibunya dan keponakan-keponakannya yang cerewet sudah gembira melihatnya pulang lebih awal.
"Kenapa Om Kiki pergi lagi?" Kalila kecewa.
"Padahal mau kita ajak beli action figure." Kama tak kalah murung.
"Mungkin Om Kiki sedang banyak pekerjaan." Nenek mereka menenagkan. "Bagaimana kalau kita bikin es krim semangka saja?" ia mengusulkan.
Cucu-cucunya langsung antusias.
Wanita itu mengiring cucu kembarnya menuju dapur. Tetapi, diam-diam hatinya tak tenang, sebab tadi Anna melewatinya begitu saja tanpa salam dan anak lelakinya tak mau turun terlebih dulu dari mobil.
Semoga hanya pertengkaran kecil.
batinnya berharap.
.
Begitu mengunci pintu kamar, Anna membenamkan wajah ke bantal dan meumpahkan semua kesedihannya.
Ia menyalahkan dirinya sendiri yang munafik. Yang seolah menolak, tetapi sebenarnya terlena dengan semua kebaikan dan cinta yang Kiandra serta keluarganya berikan.
"Harusnya aku tak di sini....harusnya aku segera pergi dari rumah ini...." tangis Anna tak mau berhenti.
Ia teringat raut Kiandra yang mendengar kalimat kejam dari mulut Rico. Teringat bagaimana reaksi orang-orang yang turut menyaksikan kejadian itu.
Dada Anna sesak oleh rasa malu. Tetapi, bukan itu yang membuat air matanya berlomba-lomba membasahi pipi. Melainkan perasaan bersalah yang teramat besar kepada Kiandra, yang ikut terhina di hadapan para pegawainya.
"Maafkan aku..." ia menangis sampai suaranya berubah serak.