
Untuk kesekian kali Aldo menghela nafas panjang. Dia pandangi lalu lalang kendaraan dari atas rooftop gedung lantai 35 yang terbuka.
Jas hitamnya ia lepas dan di jadikan tudung kepala untuk menghalau terik matahari yang mulai condong ke barat.
Hampir satu jam ia berdiri bersandar pada pembatas pagar yang terbuat dari besi tersebut.
Berkali-kali ia menyesali diri, kenapa bisa begitu gegabah memutus sesuatu yang berhubungan dengan Chief nya.
"Tahu, kenapa dari sekian pelamar dengan latar belakang pendidikan dan pengalama kerja yang hebat saya memilihmu?"
Aldo teringat kejadian 10 tahun lalu. Dimana dia yang baru saja lulus kuliah dan tanpa pengalaman kerja di bidang bisnis mendapat tiket emas dari seorang Andreas Marthadinata.
Iya, Aldo menyebutnya tiket emas. Sama seperti tiket emas yang secara beruntung di dapat Charlie Bucket dalam Charlie and the Chocolate Factory.
Sama seperti Charlie juga, Aldo berasal dari keluarga sederhana dan sejak kecil sudah bercita-cita untuk mengangkat derajad orang tua. Karena itu pula, ia nekat merantau ke ibu kota untuk kuliah dan bekerja.
Sampai tepat di hari ia mengambil ijazah kelulusan, Aldo tak sengaja melihat lowongan pekerjaan dari Perusahaan Multinasional Marthadinata-Sanjaya Groub yang tertempel pada lorong Gedung Magister Universitas Indonesia.
"Saya suka dengan caramu berattitude." pria bermata sipit itu tersenyum.
Ketika itu Aldo sampai melongo, karena alasan tersebut di luar nalarnya. Sebab biasanya dalam pekerjaan, yang di kedepankan adalah pendidikan dan pengalaman.
"Saya juga suka dengan kerja keras, kejujuran dan kesabaranmu." pria sepuh dengan setelan jas dari Dormeuil dan dasi berbordir benang emas dengan latar gelap itu kembali memuji.
Mata Aldo melebar. Ia memang sudah bekerja sangat keras untuk biaya kuliahnya yang tak sedikit. Bahkan dalam sehari, ia bisa bekerja di dua tempat sekaligus. Ia juga tekun dalam menuntut ilmu agar selalu mendapat reward dari Kampus.
Tetapi kesabaran?
Darimana beliau tahu aku orang yang sabar?
Itulah pertanyaan yang Aldo tak mampu jawab sampai sekarang.
Namun, itu semua tak penting lagi. Karena tiket emas itu kini sudah habis masa berlakunya.
"Ooh..karir sepuluh tahunku...." keluh Aldo sembari menutup wajah dengan kedua tangan.
Entah bagimana dia memberi tahu ibu dan Ayahnya di Semarang tentang kejadian ini.
Mereka sudah kadung berharap banyak padaku...
batin Aldo kian merana.
"Kenapa kau malah di sini?"
Tiba-tiba sebuah suara terdengar.
Aldo yang tertunduk dengan kepala dan wajah tertutup jas langsung menengadah untuk melihat siapa yang datang.
"Kenapa tidak mendampingi Chief?" tanya Vicroria yang telah berada di sampingnya.
Seketika Aldo berjingkak kaget sampai jas nya terjatuh ke tanah.
Dengan muka dinginnya yang biasa, Victoria mengambil jas tersebut dan memberikan kembali kepada pemiliknya.
"Danke (Terima kasih)." Aldo menerima dengan wajah lesu, sebab teringat dia yang telah di pecat dan tak mungkin ada kesempatan lagi untuk mendekati gadis itu.
Alis Victoria sedikit terangkat melihat gelagat Aldo.
Biasanya dia langsung heboh merayuku.
batin-nya sembari memandangi Aldo yang kembali merenungi nasib.
Matahari di masa peralihan dari siang ke sore seperti ini sangatlah terik dan sengatannya pedih di kulit. Tetapi, dua orang itu masih saja bersandar pada pagar pembatas rooftop, tanpa berniat pindah tempat untuk mengobrol.
"Kau tahu, hari ini Chief kita memecat orang?" tanya Victoria basa-basi.
"Aku tahu." jawab Aldo tanpa melihat lawan bicara.
Hal yang sangat aneh, mengingat Aldo yang bertahun-tahun mengejar Victoria. Namun, bodyguard handal itu selalu mengacuhkan dan menyambut dengan bahasa Jerman yang sama sekali tak Aldo mengerti.
Apa dia tak menyadari kalau aku berbicara menggunakan bahasa Indonesia?
"Kau tahu?" ia pura-pura kaget. "Chief memecat empat orang sekaligus dan reaksimu hanya begini?"
Kali ini kedua bola mata Aldo seperti hendak keluar menatap ke arah Victoria.
"Tiga resepsionis dan satu manager senior." Victoria menerangkan.
"Haahh?!" Aldo tak mampu menyembunyikan rasa terkejut.
Sementara itu di ruangannya, Kiandra masih sibuk dengan Anna yang ternyata tak sepenurut kelihatannya.
"Kau bilang apa tadi?" Kiandra pura-pura tak mendengar.
"Saya tidak bisa menerima pemberian dari orang asing." ulang Anna lebih tegas.
"Orang asing?" Kiandra menegakkan tubuh, serayak memicingkan mata memandangi gadis berkaos sederhana dengan celana jeans panjang yang warnanya telah memudar.
"Aku sudah memperkenalkan diri padamu beberapa hari lalu. Tapi kenapa kau selalu menyebutku orang asing? apa kau tidak di ajari, kalau orang yang sudah saling kenal artinya bukan orang lain lagi. Namun sudah jadi teman?" Kiandra berkata panjang lebar.
Mulut Anna sampai mengangga, karena ucapan Kiandra sangat kontras dengan ekspresi dan penampilannya.
"Jadi kita sudah jadi teman, Ok?" Kiandra kembali mengutarakan kesimpulannya sendiri.
Anna bingung hendak berkata atau bersikap bagaimana menghadapi pria antik di hadapannya ini.
"Pakai yang aku beri, dan...apa itu tadi?" Kiandra memandangi Anna dengan dahi berkerut. "Membayarku untuk kue yang kau makan?" ia pura-pura syok, kemudian tertawa hambar.
Kedua tangan Anna yang saling mengengam sudah berkeringat dingin.
Tawa lelaki berpakaian mahal dengan kalung dan gelang yang menyembul dari balik jas nya itu membuat Anna teringat sesuatu yang ingin ia lupakan.
"Kalau kau ingin membayar kue yang kau makan. Lebih baik kau beli lagi kue itu dan bayar langsung ke toko-nya." Kiandra menambahkan.
Anna tak tenang mendengar ucapan Kiandra yang menganggap keseriusannya adalah lelucon.
Melihat reaksi Anna yang hanya tertunduk dengan kedua tangan saling mengenggam, membuat Kiandra berbalik arah, lalu mengambil paperbag yang tadi di letakkan gadis itu di atas meja.
"Ambil." ia langsung memberikan benda itu kembali.
Anna yang tengah memikirkan cara agar bisa keluar dari situasi ini tergagap menerima paperbag yang di sorongkan begitu saja kearahnya.
"Pakai itu, supaya wajahmu tak seperti orang penyakitan." nada suara Kiandra tak ubahnya seperti ketika memerintah anak buah.
"Apaa...?" Anna tak yakin dengan pendengarannya.
Melihat keterkejutan di mata Anna. Kiandra sedikit merasa bersalah. Ia berdehem beberapa kali.
"Maksudku..., maksudku..kau itu sudah kurus. Di tambah sangat pucat. Orang akan mengira kau ini sedang sakit." Setelah sepersekian menit memutar otak. Akhirnya Kiandra bisa sedikit 'membenarkan' ucapannya.
"Saya suka tampil apa adanya seperti ini." Anna langsung berdalih.
Dia punya alasan kenapa tak mau berdandan. Tetapi, jelas Anna tak akan menjabarkan alasan tersebut.
"Kenapa kau susah sekali di beri tahu?" Kiandra mulai tak sabar. "Minimal pakailah pewarna bibir." ia berjalan makin maju.
Anna mundur-mundur dengan paperbag yang ia jadikan tameng agar Kiandra tak semakin mendekatinya.
Kenapa pemaksa sekali orang ini?
Anna tak habis pikir.
"Memang ya, yang namanya wanita itu selalu merasa paling benar." Dengan kasar Kiandra merebut paperbag tersebut dan mengacak isinya.
Anna terpaku melihat tingkah pria jangkung tersebut.
"Sini kau."
Setelah berhasil menemukan yang ia cari, Kiandra segera meraih pergelangan tangan Anna.
Belum sempat Anna menolak, Kiandra sudah memoleskan lipstik ke bibir gadis itu.