Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
BESAR HATI



"Kita orang saja tak bisa tangkap Enrico. Tapi die bisa." Ayah Anna memulai pembicaraan.


Anna meneguk ludah dengan jantung berdebar kencang. Di situasi seperti ini, ia malah teringat hidupnya yang kesusahan bersama Nisa di Toko Bunga. Akan tetapi, di sana ia menemukan rasa nyaman yang berbeda dengan saat berkumpul bersama keluarganya yang penuh aturan ini.


Manusia memang banyak maunya. Padahal dulu ia sampai menangis dan hanpir bunuh diri karena rindu dan rasa bersalah yang teramat besar. Sekarang setelah berkumpul dan mereka bisa menerima dengan sangat baik, malah rasa khawatir berlebih membuatnya berpikiran negatif.


"Delana, apa die tahu keadaanmu?" tanya si Ibu cemas.


Kedua mata Anna membulat. Tapi itu hanya sebentar. Setelahnya ia kembali merunduk.


Dia tak menjawab, tetapi tahu apa yang di maksud oleh wanita yang telah melahirkannya itu.


Bagaimana aku menjelaskan kalau ternyata Rico berbohong dan aku masih perawan? Eh!


Ia kaget sendiri saat memikirkan hal tersebut, karena ingat sudah berbuat di luar batas bersama Kiandra, dan sekarang keadaanya sama saja dengan yang keluarganya pikirkan.


"... Dia sudah mengetahui semuanya, Mama.." Anna menjawab tanpa melihat lawan bicara.


"Dan die tetap menerima?" Ibunya terkejut.


Anna mengangguk sembari menggigit bibir bawah.


Di lingkungan Kesultanan Kelantan yang menganut Islam Sunni, keperawanan merupakan salah satu simbol kehormatan diri. Akan memalukan jika seorang wanita belum menikah, tapi sudah hilang perawan. Di samping hal tersebut, juga menunjukan jika Sang Ayah mampu menjaga putrinya, serta mempengaruhi banyaknya mahar yang kelak di terima ketika di persunting seseorang.


"Saya malah lebih penasaran dengan cara ape Delana menarik hati Kiandra Marthadinata yang macam tu?" ucap Majeed penuh selidik.


Kening Anna berkerut. Bukan karena marah. Tetapi, karena ia pun bingung dengan jawabannya.


Cara apa?


dalam hati ia bertanya pada diri sendiri.


Dia mencoba mengingat-ingat pertemuan pertamanya dengan Kiandra, lalu hari-hari mereka selanjutnya. Dan dalam rentang waktu itu, ia tetap tak menemukan hal apa yang membuat laki-laki itu tertarik padanya.


"Awak tak merayu dengan cara-cara memalukan, kan?" tandas Majeed, membuat Anna mengangkat muka dan melihat ke arahnya.


"Tidak, Abang!" ia berseru. "Saya... saya sendiri tidak tahu kenapa... Tapi, saya tidak berbuat begitu.." terputus-putus ia menjelaskan, lalu kembali merunduk.


Jantung Anna semakin berdetak kencang oleh ucapan Majeed. Pikirannya kalut oleh kasusnya dulu bersama Rico, lalu scandal foto-foto b*gil nya, dan kenyataan ia sudah tidur bersama Kiandra.


Tidak! Dari awal aku tidak pernah merayunya! Aku tidak seperti itu! Dengan Rico pun, kenyatannya aku tak pernah berbuat mesum. Rico berbohong. Dia yang berbohong untuk memperbudakku!


batinnya mencoba mengusir pikiran-pikiran negatif yang memperkeruh keadaan mentalnya.


Meski seperti itu, tapi kenyatanya Anna cuma diam tertunduk dengan jemari terkait di pangkuan.


"Entah macam mana mereka bertemu. Yang pasti, pihak kita juga di untungkan." Ayahnya dengan logat Melayu kentalnya menengahi.


Anna belum berani mengangkat muka.


"Tetapi, kesalahan awak sangatlah fatal. Dan permata itu..."


Seketika Anna menutup mata rapat-rapat sembari mempererat gengaman tangannya yang dingin.


Jika di pikir ulang, sebenarnya dia kabur bukan saja ingin mengejar Rico. Tapi, lebih untuk menghindari hukuman. Sebab semua orang juga tahu, setegas apa Sultan yang pernah menjabat sebagai Raja Malaysia itu.


"...Calon suami awak bersedia mengganti berapapun harga permata itu." lanjut Ayannya, membuat Anna melihat ke arahnya dengan ekspresi kaget.


"Me, mengganti..?" tanpa sadar ia bertanya.


"Iya." Si Ayah menjawab lugas. "Orang tua dari calon suamimu sendiri nak bilang, bahwa akan menggantinya."


Anna menutup mulutnya yang mengangga.


Wajah Anna perlahan berubah muram.


Suasana dalam ruangan megah itu hening tanpa ada suara apapun, membuat gesekan kecil pun terdengar nyaring.


Sang Ibu dan Majeed saling pandang, kemudian dengan raut was-was melihat kembali ke arah Anna yang duduk di depan dan di pisahkan sebuah meja berukuran lebar dengan vas bunga dari keramik warna biru.


"...Maafkan Delana, Papa..." ucap Anna setelah beberapa menit membisu.


Itu adalah kali pertama ia memanggil Ayahnya sejak hampir tiga tahun masa pelariannya ke Negara orang.


Namun, wajah Sang Sultan Kelantan yang telah di makan usia itu tetap tegas, dengan sorot tajam menatap anak gadisnya yang bak kucing kecil.


"Delana memang bodoh... mengambil barang sepenting itu tanpa ijin dan menyerahkan kepada yang bukan hak..." pundak Anna mulai gemetar menahan tangis.


Tak ada respon simpati dari Ayahnya. Malah si Ibu yang gelisah, sambil sesekali meminta Majeed untuk menengahi dengan pandangan mata. Akan tetapi, bisa apa Majeed di situasi seperti ini.


"Delana juga membuat malu seluruh keluarga Petra dengan foto-foto itu. Delana menyesal..." suara Anna sudah berubah serak. "Sekian tahun Delana di hantui rasa bersalah. Delana ingin pulang, tapi tidak berani... takut... kalau Papa akan menghukum Delana lebih dari yang dulu..." ia mengusap air matanya yang berjatuhan di pipi.


Ibunya hendak bangkit dari duduk untuk menenangkan anaknya. Tetapi, suaminya justru sudah lebih dulu berdiri dan berjalan menghampiri.


Anna tertegun, ketika Ayahnya itu duduk di sampingnya, kemudian menghapus air matanya tanpa bicara.


Mata keduanya saling pandang dalam jarak dekat, dan dari situ Anna tahu, bahwa Ayahnya tidaklah marah.


"Alhamdulilah... alhamdulilah... alhamdulilah Allah jaga Delana sampai kembali ke rumah." ia berkata seraya menyelipkan rambut anaknya ke belakang telinga.


Anna tak bergeming dengan sisa air mata yang mengalir di pipi. Rasa takutnya lenyap, serta di gantikan haru mengebu. Apa lagi ketika sang ayah memeluk dan mengecup puncak kepalanya dengan begitu sayang.


Nyatanya, Kebawah Duli Yang Maha Mulia Sri Paduka Baginda Yang Dipertuan Agong Sultan Muhammad Ismail Petra dengan segala keagungannya itu, tetaplah seorang Ayah yang merindukan anak bungsunya.


Ibu dan kakak lelakinya pun akhirnya bisa menghela nafas lega melihat adegan tersebut. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum penuh rasa syukur.


Setelah ketakutannya lenyap. Anna dengan antusias menceritakan pengalamana hidupnya selama di Indonesia. Termasuk ketika tinggal bersama Nisa.


"Awak naik sepeda motor?" Majeed membeliakkan kedua mata.


Wanita dengan rambut panjang sebahunya itu mengangguk bangga. "Iya. Tapi, motornya rosak dan Delana harus menunggu di pinggir trotoar, padahal matahari terik sangat." ia mulai ikut-ikutan mengunakan logat Melayu. "Lalu... Eemmm.. lalu.. Kiandra datang dengan mobilnya." ia tersenyum malu-malu.


Ibunya terkekeh sembari menutup mulut. "Romantis sangat." ia berujar.


Kedua pipi Anna semakin memerah. Kemudian ia melanjutkan dengan cerita-cerita seru lainnya yang membuat senang, sedih dan juga mendewasakan dirinya.


Keluarganya mengapresi semua itu. Akan tetapi, mereka juga memintanya berjanji, untuk tak lagi meninggalkan rumah diam-diam.


Anna langsung mengiyakan dengan perasaan bahagia luar biasa.


Malam itu, setelah petualangannya yang panjang di Negara Maritin terbesar di Dunia. Akhirnya ia bisa merasakan empuknya tempat tidur miliknya sendiri.


"Rumahku..." Anna berguman sembari memejamkan mata di bawah selimut lembut dan hangat.


.


.


Hari masih sangat pagi dengan matahari yang belum naik. Tetapi, mobil Land Rover Jaguar XJ warna Dark Shappire Metallic dengan logo Jata Negeri Kelantan di plat nomornya itu, sudah melaju membelah halaman luas Istana Kubang Keriang dengan beberapa tukang kebun yang tengah mengurus guguran daun-daunnya.


Tengku Muhammad Maheer Petra, turun dari mobil dengan hati bungah. Dia langsung terbang dari Kuala Lumpur ke Kota Bharu setelah tugas-tugasnya selesai, semata agar secepatnya bertemu dengan adik perempuan-nya.


Delana.


ucapnya dalam hati sambil menteng paperbag warna pink.