Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
TERGODA



Setelah merepotkan Security Club, kemudian meminta tolong Security di lantai bawah Apartemen, dan kini akhirnya ia bisa bernafas lega setelah bisa membaringkan Anna di ranjang kamarnya.


Hari apa ini, kenapa aku bisa sesial ini...?


batin Kiandra sembari menghela nafas untuk kesekian kali.


Ia menoleh ke arah Anna yang tertidur setelah tadi meracau tiada henti, serta mencakari siapapun yang mencoba menenangkannya.


Kiandra pandangi lengannya yang terdapat banyak luka bekas goresan kuku, kemudian ia raba pipinya yang terasa perih.


"Aku akan bilang pada Ibu untuk tak membawanya menicure-pedicure, apa lagi kukunya di buat runcing-runcing seperti ini." ia mengomel. Lalu termenung menatap tembok kamar, dan menghela nafas lagi.


"Memang seharusnya aku tak sok-sok an pamer kepada mereka." Kiandra menepuk mukanya sendiri.


Di kamar Apartemen itu sunyi tanpa ada suara apapun, karena ruangan memang di desain kedap bunyi untuk kenyamanan para penghuninya.


Dengan keadaan Anna yang kacau seperti ini, tentu tak mungkin bagi Kiandra membawanya pulang langsung ke rumah.


"Bisa-bisa aku yang di tuduh mencekokinya dengan minuman keras." ia mendengus, kemudian menjatuhkan diri ke sisi Anna tidur.


Punggungnya pegal, kemejanya robek, dan kedua lengan serta pipinya serasa sakit.


Kiandra tak menyangka, malamnya akan berakhir na'as seperti ini.


Aku akan membuat perhitungan dengan mereka.


batinnya kesal, membayangkan kawan-kawannya saat ini pasti sedang menertawakannya.


.


Tik, tik, tik...


Terdengar detik jarum jam yang terpasang di dinding sudut ruang.


Kiandra yang berbaring telentang dan menatap langit-langit kamarnya yang gelap, tak pernah berpikir akan membawa Anna ke Apartemen pribadinya seperti ini.


Sebelumnya, selama lebih dari lima belas tahun sejak ia memutuskan tinggal sendiri, baru Anna lah wanita pertama yang ia bawa.


Pria yang kancing kemejanya koyak itu, menoleh ke arah Anna yang wajahnya tepat berada di depan mata.


"Memang sial kau ini." guman Kiandra sambil memandangi wanita yang tengah tidur dengan rambut kusut, serta make up yang telah berantakan.


Mendadak pandangan Kiandra terarah ke jas miliknya yang masih Anna pakai. Mungkin karena tadi wanita itu begitu sulit di kendalikan, sehingga baju model kembennya melorot dan kini dada putihnya menyembul di antara celah kain jas.


Kedua mata Kiandra membelalak, ketika menyadari apa yang sedang di lihat. Ia sampai terpaku dengan wajah memerah dan jantung yang berdesir.


Pria itu meneguk ludah dalam-dalam, lalu perlahan memalingkan muka dan duduk di pinggir ranjang.


Tik, tik, tik...


Lagi-lagi Kiandra merasa jarum jam itu berbunyi sangat keras. Hampir sama keras nya dengan hasratnya sendiri yang seolah meronta ingin di keluarkan.


"Tidak." ia tertunduk sambil memijit pelipisnya yang berkerut.


Kiandra Mahika bukan seorang baj*ngan yang tega meniduri seorang wanita dalam keadaan tak sadar seperti ini.


Dalam kurung waktu hampir tiga puluh lima tahun, sudah begitu banyak jenis kecantikan yang coba di sodorkan padanya. Tapi, tidak ada yang mampu membuatnya tertarik, apa lagi membuat nya sampai terbakar g*irah seperti saat ini.


Kilas balik pertemuan pertamanya dengan Anna, lalu wajah sendunya yang menyiratkan keputusasaan. Hal-hal lumrah pada dirinya, yang secara ajaib terasa istimewa di mata seorang Chief Kiandra yang terkenal kaku dan perfectionist.


.


Lama Kiandra hanya duduk di pinggir ranjang, sembari tertunduk dan kedua tangan saling mengenggam. Sampai akhirnya ia mengangkat muka, kemudian pelan-pelan tangan kanannya terjulur.


Apartemen mewah dengan fasilitas terbaiknya itu temaram dengan Kiandra yang hanya menyalakan lampu tidur. Mata pria itu nyalang menatap Anna yang masih tak bergeming dari tidurnya.


Kiandra semakin mendekat, ketika tangannya menyentuh rambut panjang Anna, kemudian jemarinya turun mengelus pipi Anna yang terasa dingin.


"Anna..." panggil Kiandra tepat di telinga.


Namun, wanita yang sedang terpengaruh minuman beralkohol itu tak merespon.


"Ayo, bangun." ia berbisik. "Jangan biarkan aku menyakitimu." lanjut Kiandra sambil mengamati wajah Anna dengan sorot siap menerkam.


Tiba-tiba terdengar suara anjing menyalak, tepat setelah Kiandra selesai berkata.


Seketika Kiandra menoleh ke sumber suara. Anjing jenis siberian husky itu sudah berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka, dengan kaki sebelah kirinya yang pincang.


Sesaat Kiandra tertegun, menatap anjing yang dahulu ia punggut dari jalanan itu. Kemudian terkekeh dan menggelengkan kepala beberapa kali.


Anjing jinak itu memang Kiandra biarkan berkeliaran di dalam ruang, karena kaki kirinya sudah cacat dan sulit untuk berjalan.


"Snow!" panggil Kiandra untuk menepis hasratnya yang sudah di ubun-ubun.


Namun, anjing penurut itu bukannya mendekat, tetapi malah duduk melingkar di depan pintu.


"Ooh..kau masih di rantai rupanya." ujar Kiandra saat melihat kaki kanan bagian belakang anjing itu.


Selama ia tinggal di rumah orang tuanya, Snow memang di rantai, karena Aldo yang bertugas memberi makan takut pada anjing.


Kiandra beringsut hendak melepaskan rantai tersebut, ketika dari belakang seseorang memeluk dan memaksanya tetap duduk.


"Kiandra."


Suara halus itu membuat hati Kiandra bergetar.


Tangan yang beberapa waktu lalu mencakar dan memukulnya itu kini memeluk dirinya erat.


"An..."


"Kiandra." ia memanggil lagi, membuat kalimat pria itu tercekat di kerongkongan. "Anda suka di panggil begitu? Kiandra?" terdengar kekehan kecil di belakang.


Jantung Kiandra berpacu cepat, saat wanita itu semakin merapatkan diri.


"Benar Anda menyukai saya?" tanya Anna dengan suaranya yang terdengar sedikit serak.


Kiandra meneguk ludah susah payah.


Di atas ranjang ukuran king size itu hanya ada mereka berdua. Dan keadaan yang mendukung berbuat dosa ini, membuat Kiandra tersiksa setengah mati.


Dia mabuk. Ini bukan keinginnya. Tidak boleh! Tidak! Bukan seperti ini!


batinnya yang waras berkali-kali menahan untuk tak berbuat lebih.


.


Kiandra membulatkan kedua mata, saat merasakan Anna menyandarkan kepala ke punggungnya.


"Kiandra, saya beruntung bertemu Anda." ia berkata.


Kiandra mengepalkan kedua tangan, demi menekan n*fsunya sendiri.


"Terima kasih." lanjut Anna sambil mengelus dada serta perut pria itu.


Mendadak Kiandra berbalik dan mendorong pundak Anna sampai wanita itu terbaring ke ranjang.


Anna terkejut, tapi ia tak berusaha melawan, saat Kiandra menindih dan dengan serta merta mencium bibirnya sampai ia kesulitan bernafas.


Otak pria itu tak bisa bekerja dengan baik, sebab telah di susupi hawa n*fsu. Ia membuka paksa jas yang sedari tadi menjadi penghalang dirinya untuk melihat aset pribadi wanita itu, lalu menangkup dan mer*masnya.


Anna merintih sambil memalingkan muka. Tapi dengan cepat Kiandra meraih pipi wanita itu dan menatapnya.


Kedua mata Anna yang sedari tadi terpejam, perlahan membuka dan mereka saling pandang dalam keremangan.


Kiandra meneguk ludah melihat wajah Anna yang nampak cantik, meski kini rambutnya berantakan dan bibirnya pucat.


"Anna..." Kiandra mengelus pipinya dengan jempol tangan.


Anna tersenyum, meski matanya yang sayu berkaca-kaca menatapnya. "Delana." ia meralat.


Kiandra sedikit terkejut.


"Delana Amirah Petra." ia melanjutkan, lalu pelan-pelan kembali tertidur.