
"Bisa tidak?" tanya Kiandra sembari bersedekap di depan Anna yang sedang berusaha merangkai mawar pesannya.
"Bi, bisa, bisa." jawab Anna gugup.
Anna memang tak mahir soal seperti ini, meski telah berbulan-bulan belajar. Biasanya jika ada Nisa, dia lah yang menghandle urusan rangkai-merangkai. Tapi kini Anna sendirian. Dia tak enak jika harus ke atas dulu untuk memanggil bos nya itu.
Untuk apa orang ini tiba-tiba datang dan membeli semua mawar putih...?
tanya Anna dalam hati.
Jika merangkai 5-50 batang mawar, Anna masih mampu membuat buket yang cantik. Tetapi ini lebih dari 100 batang. Ia sampai bingung harus di bentuk model seperti apa.
Kenapa dia tak duduk saja seperti tadi?
Dahi Anna sampai berkeringat sangking groginya.
Kiandra memandang mawar-mawar miliknya yang sedang di bungkus spunbond warna hijau, kemudian di lapisi plastik bening motif hati.
Ternyata dia masih ingat harus memakai pembungkus warna apa.
puji Kiandra dalam hati.
Namun sayangnya, cara mengamati Kiandra membuat Anna salah paham.
Astagaa...kenapa dia malah mendelik seperti itu..?
keluh Anna dengan jantung berdetak kencang, serta jari-jari yang mulai dingin.
Ia was-was dengan intimidasi Kiandra, yang sebenarnya hanya ingin melihat prosesnya membuat buket.
"Masih lama?" tanya Kiandra sambil mencondongkan tubuh, membuat Anna tersentak sampai menjatuhkan gunting ke lantai dan nyaris mengenai kaki.
"Sebentar. Sebentar lagi..." jawab Anna seraya membungkuk untuk mengambil gunting tersebut.
Tetapi gadis itu kalah cepat. Kiandra telah lebih dulu mengambil gunting itu dan meletakkan kembali ke atas meja.
"Terima kasih." ucap Anna canggung. Ia memandang sesaat pria berwajah kaku itu, lalu kembali merunduk untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Sudah cukup." Tanpa diduga Kiandra menghentikan gerakkannya.
"Apa..?" Anna tak mengerti.
Kedua alis Kiandra makin menyatu. Dia selalu kesal dengan respon Anna yang lamban.
"Mohon tunggu sebentar lagi. Secepatnya saya..."
Sebelum ucapan Anna selesai. Kiandra sudah mengambil beberapa batang mawar secakupan tangan dan mencabutnya dari rangkaian.
Anna syok. Buket yang setengah mati di dibuatnya sejak 30 menit lalu di rusak begitu saja.
Saat Anna masih mematung dengan mulut mengangga, Kiandra dengan sigap memotong pita warna putih yang merupakan salah satu aksesoris yang di gunakan Anna untuk merangkai bunga.
Mata Anna makin membulat, ketika Kiandra menggunakan pita berukuran lebar itu untuk mengikat tangkai-tangkai mawar yang di ambilnya.
"Aku ambil yang ini." ucap pria itu sambil membawa buket mawar putih hasil rangkainnya sendiri.
"A, apa...?" tanya Anna linglung.
Kiandra berdecak sembari membuang muka. Dia tak mau ada kejadian gunting jatuh dan bisa melukai, maka ia menghentikan aktifitas gadis itu. Tetapi, melihat respon Anna yang selalu lamban, membuatnya ingin sekali menjentikkan jari ke kening-nya.
"A..anda tidak jadi membeli semua?" tanya Anna khawatir.
"Siapa yang bilang tidak jadi beli?" Kiandra balik bertanya.
Anna tertegun, kemudian melihat banyaknya mawar berserak dari buket yang Kiandra rusak. Ia meneguk ludah, lalu pandangan-nya teralih pada buket sederhaan dengan pita warna putih yang kini sudah Kiandra bawa.
"Berapa semua?" tanya pria jangkung tersebut, karena Anna cuma diam.
Anna masih mencerna apa yang sedang terjadi, saat Kiandra sudah menyodorkan kartu debit berwarna platinum.
"Semua...?" Anna agak sangsi dengan ucapan-nya sendiri.
"Tidak!" pungkas Kiandra kesal.
Jantung Anna seperti ingin keluar karena ucapan Kiandra yang menurutnya mirip bentakan.
"Aku kan sudah bilang beli semua. Kenapa masih di ulang-ulang? apa kau pikir aku tak mampu membayar?" Kiandra mengomel.
"Bukan seperi itu..." Anna berusaha menjelaskan. Tapi, ekspresi Kiandra yang galak dan cara dia bicara, membuat Anna sudah lebih dulu minder.
"Silahkan..." Hampir tak terdengar. Anna menyorogkan mesin seukuran telapak tangan itu pada Kiandra dan memintanya menekan nomor pin.
Dengan cepat Kiandra memenuhi permintaan Anna sambil menatap tajam.
Wajah Anna sudah muram, ketika struk harga keluar dan ia menyerahkan bersama kartu ATM milik pria jangkung di depannya itu.
Anna mengigit bibir bawah, seraya melirik paperbag berisi make up dari brand Etute House yang masih setia menanti. Kemudian pandangannya teralih kepada Kiandra yang tengah memasukan kartu pembayaran ke dompet.
Aku takut sekali..
keluh Anna sambil mengenggam dan melemaskan jemari tangannya yang dingin.
Pokoknya aku tak mau berurusan lagi dengannya.
Anna bertekad.
"Mikir apa?" celetuk Kiandra tiba-tiba.
Anna kaget.
"Jangan suka melamun kalau sedang bekerja." ucap Kiandra lugas, lalu berbalik arah.
"Tunggu!" Anna segera keluar dari meja kasir berbentuk bulat mengeliling untuk menahan Kiandra pergi.
Pria itu menoleh.
Ditatap dengan wajah dingin dan mempunyai sorot tajam, membuat Anna gelisah.
"Ini..saya tidak bisa menerima." dengan muka tertunduk, Anna menyerahkan kembali pemberian pria tersebut.
Tak merasakan ada reaksi, Anna mengangkat muka.
Kiandra sedang memandangnya, membuat hati Anna berdesir oleh kedua mata berwarna indah itu.
"Tahu tidak, kau ini jelek. Wajahmu pucat seperti orang penyakitan."
"Apa....?" Anna menurunkan paperbag-nya dan melihat Kiandra dengan ekspresi terperangah.
Anna tahu, jika kini penampilannya begitu kumuh dan jauh dari kata cantik. Tapi, belum pernah ada yang secara langsung mengatakan demikian.
"Kalau kau memang tak bisa berdandan. Minimal pakailah bedak dan lipstik, lalu minyak wangi. Senangkan orang di sekitarmu. Jangan membuat mereka khawatir dengan wajahmu yang minta di kasihani."
Tanpa sadar Anna menggengam tali paperbag-nya lebih erat. Omelan Kiandra betul-betul menohoknya, menyebabkan perasaanya tersentil dan matanya meremang.
Iya, aku memang pengemis yang minta di kasihani.
batin Anna terluka.
"Kenapa malah diam saja?" tanya Kiandra kesal.
Anna terisak, membuat Kiandra terkejut.
Anna teringat bagaimana dulu ia sempat hidup di jalanan dan makan apa saja. Bahkan pernah ia tak bisa makan sampai 3 hari, karena tak ada sesuatu yang bisa di makan, kecuali ia harus mengais sampah dan itu mustahil di lakukan.
Anna juga sempat berpikir untuk menjual diri hanya untuk sesuap nasi dan tempat berteduh.
Nisa lah yang menolongnya. Yang bersedia menampung, ketika ia jatuh pingsan di depan ruko dalam keadaan hujan badai.
Dia memohon sampai bersimpuh dan memegang kaki wanita itu agar di ijinkan bekerja dan tinggal di sini.
Air mata Anna berjatuhan mengingat kesedihannya, dan hal itu membuat Kiandra kelimpungan.
"Kalau..kalau tak mau pakai ya sudah. Tapi jangan menangis, membuat orang tak nyaman saja." Kiandra memalingkan muka pura-pura tak peduli.
Anna mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan dan berusaha tegar.
Kening Kiandra berkerut, saat melihat wajah sembab Anna dengan ekor mata.
Berurusan dengan perempuan itu selalu menyusahkan.
pikirnya gusar.
Namun tanpa diduga, Kiandra mengambil sapu tangan dari saku celana, lalu membungkuk dan mengusap air mata gadis itu.
"Jangan lama-lama menangis, orang bisa mengira aku penjahat."
Mata Anna melebar. Dalam jarak dekat, ia bisa melihat betapa kontras ekspresi Kiandra dengan mulutnya yang setajam pisau.