Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
KAKAK IPAR



"Chief." tiba-tiba seseorang memanggil.


Kiandra segera menoleh ke sumber suara, sedangkan Anna langsung menjauh.


Victoria dengan pakaian hitam-hitam yang menjadi ciri khasnya, sudah berdiri tak jauh dari mereka.


"Chief, Anda ada rapat dengan para Manager cabang." ia mengingatkan.


Kiandra yang merasa terganggu berdecak. "Aku sudah menyuruh Aldo untuk menggantikanku memimpin rapat." ia berkata.


"Maaf, Chief. Tapi, Tuan Besar ingin Anda menghadiri rapat tersebut, karena ini berkaitan dengan menurunnya pendapatan di setiap kantor cabang." Victoria menjelaskan dengan sikap siap dan kepala tertunduk.


"Kenapa kau dan Daddy jadi ikut campur?" Kiandra ngerundel sambil berjalan melewati Victoria dan meninggalkan Anna begitu saja.


Victoria dan Anna sempat saling pandang, sebelum wanita kelahiran Munchen itu memalingkan muka dengan raut dinginnya yang biasa dan pergi mengikuti kemana Tuan-nya pergi.


Kini tinggal Anna yang masih berdiri di tempat. Ia menghela nafas sambil bersandar pada tembok, saat kedua orang itu tak lagi terlihat.


Astaga... Sebenarnya apa yang terjadi dengan hidupku...?


batin Anna sembari memegangi dadanya yang berdegub kencang.


"Kami menerima apa adanya dirimu, tanpa embel-embel kau siapa dan darimana."


ucapan Ibu Kiandra serta raut tulusnya membayang, tetapi hal itu malah membuat Anna makin susah hati.


Ibu, Anda terlalu baik. Tapi... sampai kapanpun saya tidak mungkin pantas menjadi bagian dari keluarga Ibu yang terhormat.


Anna tertunduk dengan kedua mata berkaca-kaca.


"..aku menyukaimu."


pernyataan cinta Kiandra membuat Anna makin dilema.


Aku harus bagaimana sekarang??


tanyanya dalam hati


Merasa putus asa, serta tak tahu lagi harus bagaimana di situasi ini, akhirnya Anna memutuskan untuk ke rumah kaca dan kembali bekerja.


Mungkin mencabuti rumput dan menyirami tanaman bisa membuat pikiranku sedikit rilex.


ia menyemangati dirinya sendiri.


Namun, baru saja kakinya melangkah, Dave sudah berdiri menghadangnya.


Anna terkejut, sampai nyaris saja berteriak.


Bagaimana dia bisa muncul tiba-tiba seperti hantu?


Anna tak habis pikir.


"Delana, bisa bicara sebentar?" tanya pria berperawakan tegap dengan pembawaannya yang tenang tersebut.


Lagi-lagi Anna di tempatkan di situasi yang tidak di sukai. Ia ingin menolak, tetapi jelas itu tidak mungkin.


Sejak awal bertemu, entah kenapa Anna merasa suami dari Kakak Kiandra ini tak menyukainya. Pandangan pria berusia lima puluh tahun itu dingin, meski tak mengatakan sesuatu yang kejam. Tapi, Anna selalu merasa terintimidasi oleh kehadirannya.


Dengan berat hati wanita itu mengangguk perlahan, sebagai tanda ia mengiyakan permintaan pria tersebut.


Dave memutuskan untuk duduk di sebuah kursi kayu panjang yang menghadap kebun mawar putih, sedangkan Anna hanya menurut sepertu kerbau yang di colok hidungnya.


.


Aroma harum dari bunga-bunga seukuran kepalan tangan anak kecil itu menguar saat angin berhembus lembut, membuat suasana pagi teduh di halaman samping rumah utama makin membuat betah.


Namun, tidak demikian dengan Anna yang tegang dan ingin segera masuk ke dalam kamar untuk menenangkan diri.


"Delana," ucap pria yang duduk di sampingnya tersebut, yang sontak membuat jantungnya kembali bergolak.


"I, iya...?" Anna berusah terlihat tenang, meski ia yakin jika itu gagal.


Dave memandanginya, dan hal itu membuat kening Anna berkeringat.


"Benar namamu Delana?" tanya Dave membuat kedua mata Anna melebar.


batin Anna was-was.


"Saya hanya ingin kamu jujur, karena adikku menyukaimu." ucap pria itu kemudian.


Seketika Anna terperangah.


"Kian menyukaimu." ia mengulang. "Saya hanya ingin memastikan, bahwa dia menyukai orang yang tepat."


Anna meneguk ludah memandang pria berwajah datar yang terus menatap ke arahnya.


"Kian memiliki trauma pada hubungan percintaan." Dave memberi tahu.


"Apa...?" tanpa sadar Anna bertanya.


Dave kembali terdiam sembari memperhatikan sinar mata gadis berpenampilan sederhana dan sekilas mirip dengan istrinya tersebut.


Angin pagi tiba-tiba berhembus kencang, membuat rambut panjang Anna yang di kuncir asal menjadi berantakan. Dengan terburu gadis itu merapikan anak-anak rambutnya yang menutupi wajahnya yang polos tanpa riasan.


Melihat tindakan Anna yang canggung, Dave mulai memahami, tentang kenapa Kiandra bisa menyukai wanita di sampingnya itu.


"Hah? Kenapa aku tak mau memanggil Kirana dengan sebutan Kakak?"


Dave teringat mimik lucu adiknya itu saat masih berusia tujuh tahunan.


"Tentu saja karena aku ingin memanggil Kirana saja."


anak kecil itu menjawab polos.


"Aku sayang Kirana, jadi aku panggil Kirana. Aku tak mau ada pembatas dengan embel-embel Kakak. Aku juga paling senang melihatnya marah, jadi aku panggil Kirana saja, hahahah...!"


Ia tertawa kencang sampai kedua matanya berbentuk bulan sabit.


Pandangan Dave menjadi sayu mengenang kebersamaannya bersama Kiandra kecil.


"Kenapa harus Kakak ku, Dave?!"


amukan Kiandra saat berusia remaja, membuat pria itu semakin tenggelam dalam lamunan.


Kian...


kadang kala batin Dave sesak, jika mengenang kedekatan mereka di masa lalu.


"Tuan Dave?" panggil Anna.


Dave mengangkat muka dan tersenyum tipis. "Maaf, saya malah melamun." ucapnya kemudian.


Anna gantian tercenung manatap pria tersebut. Jika di perhatikan baik-baik, sekilas wajah Dave mengingatkannya pada sang Ayah di Kelantan, dan hal tersebut membuat Anna tertunduk.


Ini pertama kali aku melihat Tuan Dave dari dekat. Mungkin beliau terlihat mirip, karena aku sedang merindukan Papa...


pikir Anna sambil menguatkan diri agar tak menangis.


"Jangan salah paham." ucap Dave mengira Anna bersedih karena tindakannya.


Anna cepat-cepat menghapus air matanya sebelum mengalir. "Sa, saya tidak apa-apa." ia mengeleng pelan. "Saya sadar diri tentang siapa saya. Malah... saya yang merasa tidak enak di sini. Keluarga Martahdianta sudah memberi tumpangan, serta makan gratis untuk saya. Tapi... tapi saya malah..." Anna mengigit bibir bawa gusar.


"Tidak, bukan seperti itu." Dave meralat. "Percayalah, di keluarga kami tidak pernah memandang strata sosial. Begitupun dengan Dad." ia menambahkan, karena tahu Anna sempat minder karena ucapan Ayahnya di ruang makan tadi.


Anna hanya terdiam dengan kedua tangan terpangku dan jemari saling tertaut gelisah.


"Yang saya ataupun Dad mau adalah kamu jujur." Kakak ipar Kiandra itu berkata serius.


Deg!


Lagi-lagi jantung Anna seakan ingin melompat dari rongganya.


"Seperti yang saya sampaikan tadi, Kian memiliki trauma tersendiri dengan hubungan percintaan. Hal itu pula yang membuat sikapnya menjadi kasar, serta terkadang begitu egois. Tapi, saya bisa menjamin, jika dia laki-laki yang baik dan juga sangat bertanggung jawab." Dave menjabarkan.


Anna masih tertunduk tak berani mengangkat muka.


"Kamu tiba-tiba datang ke rumah ini, lalu secara ajaib bisa membuatnya tertarik." suara Dave terdengar begitu dalam, dan itu membuat Anna semakin tak tenang. "Jujur saya sangat berterima kasih, karena terlepas dari apapun, Kian yang anti pernikahan, mau sedikit membuka hatinya. Tapi, bukankah segala sesuatu akan berakhir baik, jika di awali oleh sebuah kejujuran?" Dave menatap Anna yang tak berkutik.