Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
KETAHUAN



"Om Kiki, ngerusak tanaman nenek." tunjuk Kama pada dahan dan daun yang tadi Kiandra remas.


"Hei, sudah sana kalian pergi." usir Kiandra dalam posisi tetap jongkok tersembunyi di antara pohon-pohon bunga mawar putih yang rimbun dan membelit pada masing-masing kayu penyangganya.


"Om ini ngusir atau gimana, sih? kok pakai bisik-bisik gitu?" tanya Kalila tak mengerti.


"Jangan keras-keras kalau ngomong." Kiandra menekan suaranya sedemikian rupa, sembari menaruh telunjuknya di bibir.


"Iihh...Om Kiki aneh, deh." Kalila bergidik.


"Kamaa...! Kalilaa..! Sedang apa kalian di sanaa..?" seru ibu mereka, ketika melihat kedua anak kembar itu berdiri di tengah kebun.


Jika di lihat dari tempat Kirana, Kiandra yang sedang bersembunyi memang tertutup dahan-dahan bunga mawar putih yang lebat.


"Ada Om...."


"Ssssstttt...!! Kalila, shut up." Kiandra yang jongkok di bawahnya memberi tanda agar diam.


"Mamaa, om Kiki ngerusak tanaman neneekk!" teriak Kama yang berdiri di sisi lain.


Kiandra langsung tepuk jidat sambil mendesah pelan.


Aku lupa mereka dua orang.


keluhnya dalam hati.


Mau tak mau, akhirnya Kiandra keluar dari persembunyiaan, saat dua bocah itu berlarian ke arah ibu, nenek dan tentu saja Anna yang melihat heran padanya.


"Lho? katanya berangkat kerja?" tanya si ibu yang memakai topi berkebunnya yang berbentuk bulat melebar.


"Ini baru mau pamit." Kiandra beralasan, lalu membungkuk dan hendak mencium tangan ibu nya yang terbungkus sarung plastik.


"Tadi sudah, kan?" lagi-lagi ibu nya di buat bingung.


Kiandra yang sudah bersiap meraih tangan ibunya kaget. Matanya membulat, dan sesaat kemudian ia baru ingat, bahwa setelah sarapan tadi ia langsung pamit dengan mencium punggung tangan si ibu.


"Tangan ibu juga sudah kotor kena tanah dan pupuk." lanjut wanita berusia tujuh puluh tahun an yang masih tampak bugar tersebut.


Kiandra meneguk ludah. Kepalanya berputar mencari dalih yang pas untuk menutupi rasa malunya.


Angin bertiup, mengeser awan-awan putih di langit sana, agar sang surya dapat menghangatkan semesta. Payung besar yang menjadi tempat mereka berteduh, kini menciptakan bayang-bayang, membuat wajah Anna yang tertunduk, tak begitu menampakkan kegundahannya.


Tolong jangan panggil atau menyeretku pergi lagi.


ia berdoa dalam hati.


Sedangkan Kama dan Kalila sudah heboh berlarian di bawah sinar matahari. Mereka berteriak-teriak, lalu sesekali tertawa, sembari membawa-bawa tongkat kayu yang ujungnya di ikat plastik untuk menangkap kupu-kupu, capung dan serangga lainnya, yang memang masih banyak berterbangan di sekitar kebun mawar putih tersebut.


"Hadang sebelah sana, dek!" perintah Kama keras-keras.


"Siiaapp!" tak kalah lantang Kalila menjawab.


Mereka sedang bekerja sama menangkap seekor capung yang terbang rendah di antara bunga-bunga.


Kembali ke ibu mereka, yang kini sedang menatap adik lelaki satu-satunya dengan pandangan menyelidik. Kirana tahu bagaimana sifat Kiandra, dan rasanya aneh, jika perjaka tua itu sampai bersikap bodoh begini.


Dia salah makan atau bagaiman...?


tanya-nya dalam hati.


Pandangannya beralih dari Kiandra ke Anna, yang sejak tadi cuma diam sambil memasukan tanah ke dalam pot-pot kecil berwarna hitam.


Apa iya, semalam Kian cuma butuh dia untuk bersih-bersih?


batin Kirana tak percaya.


Tapi...tak mungkin juga, kalau Kian tertarik atau berbuat macam-macam pada gadis seperti Delana ini.


kerutan di dahi Kirana bertambah.


"Yaaa...sebenarnya...tadi aku mau minta beberapa batang mawar milik ibu. Tapi, aku..."


"Apa?" si ibu kaget.


Mulut Kirana sampai menganga mendengar penuturan adiknya yang tak wajar itu.


Percayalah, dua puluh delapan tahun Kiandra tinggal di rumah ini, sampai akhirnya ia memutuskan tinggal sendiri di sebuah unit apartemen. Pria itu, tak pernah sekalipun tertarik pada mawar-mawar di kebun, meski bunga tersebut mekar begitu indah dan wanginya harum mengoda.


"Kalau tidak boleh, ya, tidak apa-apa." Dia yang memang cuma basa-basi segera bangkit.


Kirana dan Anna ikut bangkit dari duduk.


"Nanti ibu pilihkan yang paling cantik bunganya." Muka si ibu terlihat berseri, mengira anaknya yang tak mau menikah mulai membuka hati pada seorang wanita.


"Terserah ibu saja." Kiandra yang berbohong, tak berani menatap lawan bicara.


"Mau di bawa sekarang?" tanya si ibu.


"Apa?" Kiandra tak mengerti.


Mata Kirana memicing. Ia menangkap sesuatu, pada gestur Kiandra yang kikuk.


"Bunganya, apa mau di bawa sekarang, nak?" si ibu menerangkan, seraya menepuk-nepuk pelan pundak anak lelakinya.


"Eeemmm...ti, tidak. Untuk nanti malam saja." jawab Kiandra setelah sempat kebingungan.


"Baiklah kalau begitu." ibunya tersenyum maklum.


Sebenarnya Kiandra tak enak pada wanita yang sudah melahirkannya itu. Terlihat jelas, kalau si ibu bungah, karena mengira bunga itu untuk kekasihnya.


Mengingat kata kekasih, mata cokelat terangnya terarah pada Anna yang tertunduk di belakang orang tuanya.


Tiba-tiba pupil mata Kiandra bergerak panik, ketika menyadari Kirana memergokinya sedang memandangi Anna.


"Aku pergi dulu." Kiandra cepat-cepat balik badan, sebelum mulut kakaknya yang kadang tak punya rem itu berkoar.


"Hati-hati, nak." ibunya berseru.


Kiandra sudah tak mengubris.


"Kami antar, om!"


"Kami mau antar om Kikiii..!"


Mendadak dua bocah itu berteriak-teriak dan menyerbu di kanan dan kiri Kiandra.


"Kami antar om Kiki sampai pintu gerbang!" ujar Kalila antusias, sambil membawa-bawa kotak berisi capung dan entah serangga apa lagi yang mereka tangkap.


"Tidak usah, terima kasih." pria berkemeja abu tua itu sengaja melebarkan jangkahan kaki, agar dua keponakannya tak bisa mengikuti.


Tetapi, si kembar yang kelebihan energi, tentu tak mempermasalahkan hal sepele seperti itu.


Mereka masih bisa mengikuti sambil berlari-lari dengan mulut yang tak berhenti bicara.


"Om kiki tadi di marahi nenek?" tanya Kama dengan keningnya yang basah oleh keringat.


"Tidak." jawab Kiandra singkat.


"Di marahi mama?" tebak Kalila yang muka nya sudah belang oleh panas.


"Tidak juga." jawab Kiandra tegas.


Ia mencoba mempercepat langkah. Tapi, duo bocil itu masih terus mengikuti dengan kecerewetan yang luar biasa.


Aku yakin Kirana selingkuh dan mereka bukan anak Dave.


batin Kiandra yakin.


"Pasti Delana yang memarahi!" tebak mereka kompak. Lalu tertawa ngakak dan menunjuk-nunjuk si Om yang berjalan sambil memijit keningnya yang berkerut dalam.


Dari kejauhan Anna melihat Kiandra yang semakin menjauh dengan di apit si kembar.


Diam-diam ia merasa lega, karena tak ada interaksi apapun di antara mereka.


Syukurlah...


ia menghela nafas panjang.


"Delana." panggil Kirana tanpa sepengetahuan si ibu.


Anan menoleh ke arah wanita berusia lima puluh tahun, yang masih terlihat seperti tiga puluh tahun an tersebut.


"Setelah ini, temui aku di paviliun dekat danau." bisik kakak Kiandra yang berwajah oriental itu.


Anna cuma mengangguk patuh.